Menu

Mode Gelap
UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

Kabar · 12 Jul 2018 02:34 WIB ·

Melacak Relasi Islam Nusantara dan China


 Melacak Relasi Islam Nusantara dan China Perbesar

JEPARA-Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara menggelar diskusi Islam Nusantara, Selasa (10/7/2018). Bertempat di Ruang Seminar Gedung Pasca Sarjana, kegiatan ngobrol Islam Nusantara tersebut mengambil tema “Melacak Relasi Islam Nusantara dan Islam China”. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut Wakil Rais Syuriyyah PCINU Tiongkok yang juga merupakan pengajar di Unwahas Ali Romdhoni, MA dan juga Muhammad Nashrul Haqqi, S.Th.I., M.Hum, Dosen Unisnu Jepara.
Seperti diketahui, jejak Islam di Nusantara sendiri erat kaitannya dengan budaya china. dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, ada kontribusi China Muslim yang melawat ke negeri ini. Begitupun di Jepara. Beberapa ornamen di Masjid Astana Sultan Hadirin Mantingan juga banyak dijumpai ornamen – ornamen khas China.
Ali Romdhoni dalam pemaparannya mengatakan bahwa ada banyak sekali masjid-masjid di indonesia yang mempunyai ciri china, mulai dari bentuk bangunannya, hingga ornamen-ornamen yang ada di dalam dan di luar masjid. “Beberapa masjid di indonesia, diantaranya di daerah tuban dan pati juga terdapat lingga dan yoni, sebuah simbol yang erat dengan china. begitupun dengan motif ukiran yang menyerupai naga,” Ujar Ali Romdhoni yang telah menulis 50 essay selama menempuh studi di negeri China.
Berbicara tentang relasi Islam nusantara dan Islam China tidak bisa lepas dari laksamana ceng ho. Sebagai seorang China Islam, Ceng Ho mempunyai andil besar dalam menyebarkan agama Islam di nusantara. bahkan, jejak-jejak Cheng Ho masih banyak ditemui sampai sekarang. Namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah masjid di Tuban.
“Diskusi yang menarik. Semoga diskusi ini bisa menjadi semacam pemantik bagi Unisnu, dan mahasiswa Unisnu untuk kedepannya lebih giat dalam melakukan studi tentang jejak sejarah Islam di nusantara, khususnya di Jepara”. Ujar Faizin, staf UPT Pusat Kajian Aswaja Unisnu Jepara.
Acara Jagong Islam Nusantara ini adalah rangkaian kegiatan dari peringatan Hari Lahir ke 27 Unisnu Jepara. Pada perayaan harlah tahun ini, panitia mengangkat tema “Unisnu Jepara Sebagai Pesantren Peradaban Islam Nusantara”. Tema ini diangkat untuk menunjukkan eksistensi Unisnu Jepara sebagai perguruan tinggi milik warga nahdliyyin yang niscaya menjadi garda terdepan dalam membumikan Islam Nusantara. [roni]

Artikel ini telah dibaca 39 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Membuka Gembok “Penjara Digital”, Menjemput Jiwa yang Tertinggal di Balik Layar

9 April 2026 - 16:46 WIB

UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global

8 April 2026 - 18:39 WIB

Digelar di Jepara, Kitab Karya Ulama Nusantara akan Dipamerkan di Forum Bahtsul Masail Jateng

6 April 2026 - 12:18 WIB

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

5 April 2026 - 12:54 WIB

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Trending di Kabar