Menu

Mode Gelap
UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

Kabar · 7 Okt 2020 00:53 WIB ·

Problem Madrasah Harus Dikaji dan Dicarikan Solusi


 Problem Madrasah Harus Dikaji dan Dicarikan Solusi Perbesar

nujepara.or.id – Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Kabupaten Jepara mengadakan Workshop Upgrading Manajemen Kualitas Penyelenggaraan dan Pengelolaan Madrasah Aliyah Swasta secara hybrid dengan tatap muka dan daring di Kantor Ma’arif, Jalan Ratu Kalinyamat Jepara, Sabtu (26/9) lalu.

Narasumber yang hadir tatap muka di hadapan 86 kepala madrasah aliyah swasta dan ketua yayasan adalah Anggota DPR RI Nusron Wahid, Yayasan Qudsiyah Kudus Najib Hassan, dan Kepala Kemenag Jepara, M. Habib.

Sedangkan yang hadir melalui zoom adalah Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Ali Ramdani, Kasubdit Kelembagaan Ditjen Pendis Kemenag RI Dr. Abdullah Faqih, serta praktisi pendidikan dan founder Sekolahmu, Najeela Shihab.

Dalam pengantarnya, Ketua PC LP Ma’arif NU Jepara Fathul Huda menegaskan komitmennya untuk menyusun roadmap madrasah aliyah unggulan agar bisa menembus 7 perguruan tinggi unggulan yang berpengaruh di Indonesia.

“Untuk itu, kami menggandeng NW Indonesia Foundation yang digawangi Nusron Wahid untuk bersinergi mewujudkan hal itu, minimal di wilayah Kuramak, Kudus, Jepara dan Demak,” ujar Huda, Senin (28/9).

Sementara itu anggota DPR RI Nusron Wahid dalam brainstormingnya menyebut ada 6 permasalahan mendasar di madrasah aliyah swasta dan yayasan milik warga NU.

“Pertama, pengelolaan madrasah dan yayasan apa adanya. Yang penting jalan, ada guru, ada murid dan ada kelas,” kata Nusron.

Kedua, madrasah NU cenderung family centris. Yayasan dan kepala madrasahnya masih satu keluarga.

Ketiga, tidak ada inovasi dan diferensiasi sehingga semua berjalan lambat dan kembang kempis.

Lalu keempat, tidak mempunyai publikasi yang baik, terkadang malah tidak jarang keberadaan madrasah itu diragukan.

Kelima, manajemen aset lemah dan keenam pendanaan terbatas.

“Kelemahan ini harus kita kaji dan dicarikan solusi agar madrasah aliyah milik NU makin diminati dan bisa tembus 15 Perguruan Tinggi yang alumninya paling berpengaruh dalam pengambilan kebijakan negara,” pungkas Nusron. (za)

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Membuka Gembok “Penjara Digital”, Menjemput Jiwa yang Tertinggal di Balik Layar

9 April 2026 - 16:46 WIB

UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global

8 April 2026 - 18:39 WIB

Digelar di Jepara, Kitab Karya Ulama Nusantara akan Dipamerkan di Forum Bahtsul Masail Jateng

6 April 2026 - 12:18 WIB

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

5 April 2026 - 12:54 WIB

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Trending di Kabar