Oleh ; Kyai Hisyam Zamroni
nujepara.or.id- Setiap sore menjelang berbuka, pemandangan di Kabupaten Jepara berubah drastis. Mulai dari perempatan jalan utama hingga sudut-sudut desa, aroma gorengan, sego tuntum, aneka ragam lawuh, segarnya es buah, es degan, horog-horog, adon adon coro, es dawet atau cendol hingga kepulan asap bakaran roti, sosis, pentol, sate aci mulai memenuhi udara. Fenomena “Ngabuburit” bukan sekadar tradisi menunggu adzan Maghrib, melainkan menjadi mesin penggerak ekonomi yang luar biasa bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Geliat Ekonomi di Setiap Perempatan
Ramadhan tahun ini menjadi panggung bagi ratusan pedagang musiman dan pelaku UMKM di Jepara. Keramaian yang terpusat di titik-titik strategis—seperti area Alun-alun, Jalan Kartini, hingga perempatan jalan di kecamatan-kecamatan—menciptakan perputaran uang yang sangat cepat. Hal ini menimbulkan: Pertama, Diversifikasi Produk: Tidak hanya menjual takjil konvensional, UMKM Jepara kini lebih kreatif dengan kemasan modern. Kedua, Penyerapan Tenaga Kerja: Banyak pemuda lokal yang ikut membantu usaha keluarga atau membuka lapak sendiri selama bulan puasa. Ketiga, Aksesibilitas Dekatnya lokasi pedagang dengan pemukiman mengurangi biaya transportasi warga untuk mencari kebutuhan berbuka.
Menahan Laju Inflasi Daerah
Secara makro, ramainya pasar takjil dan aktivitas UMKM di pinggir jalan ini memberikan dampak positif yang tak terduga: membantu menekan inflasi daerah. Bagaimana caranya?
Pertama, Stabilitas Harga Melalui Kompetisi: Melimpahnya jumlah pedagang menciptakan persaingan harga yang sehat. Masyarakat memiliki banyak pilihan (substitusi) sehingga harga pangan olahan tetap terjangkau. Kedua, Distribusi Pendapatan Langsung: Uang yang dibelanjakan warga langsung masuk ke kantong produsen lokal, bukan ke ritel besar, sehingga daya beli masyarakat di tingkat bawah tetap terjaga. Ketiga, Memperpendek Rantai Pasok: Banyak pedagang takjil menggunakan bahan baku langsung dari pasar tradisional lokal, yang menjaga sirkulasi komoditas pangan di dalam daerah sendiri.
“Maraknya UMKM di bulan Ramadhan adalah ‘katup penyelamat’ ekonomi. Ketika konsumsi rumah tangga meningkat, ketersediaan barang yang melimpah di setiap sudut jalan menjaga agar harga tidak melambung liar.”
Kesimpulan
Ngabuburit di Jepara kini telah bertransformasi dari sekadar kegiatan sosial menjadi pilar ekonomi musiman yang tangguh. Kehadiran para pedagang di setiap perempatan jalan yang menjajakan kuliner lokal seperti beragam gorengan, sego tuntum, beragam lauk pauk, minuman segar es degan, es buah, horog horog, adon adon coro, es dawet atau es cendol dan lain lain bukan hanya memudahkan warga mencari santapan berbuka, tetapi juga menjadi strategi alami dalam menjaga stabilitas ekonomi Kabupaten Jepara di tengah fluktuasi harga nasional. Ramadhan menjadi berkah baik secara spiritual maupun prilaku ekonomi
H. Hisyam Zamroni; Sekretaris Idaroh Syu’biyah Jatman Kabupaten Jepara