Menu

Mode Gelap
Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global 35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

Kabar · 30 Nov 2018 01:24 WIB ·

“Dendam” Yang Diperbolehkan Allah


 “Dendam” Yang Diperbolehkan Allah Perbesar

Jepara – KH Muadz Thohir saat hadir di Peringatan Maulid Nabi dan Haul Masyayih Pesantren Darun Najah yang berlangsung di Makam Desa Kedungleper Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara, Rabu (28/11) sore menegaskan perkara dendam yang biasanya dilarang tetapi kesempatan itu kiai mengupas “dendam” yang diperbolehkan Allah SWT.
Dalam peringatan Haul KH Ridlwan ke-48, KH Muhtar Hasan ke-34, dan KH Baidlowi Ali ke-12 Pengasuh Pesantren Roudloh Al Thohiriyyah (PPRT) Pati itu menjelaskan jika anak lahir dari gua garba (kandungan) ibu dalam keadaan menangis sedangkan orang yang ada di sekitar guyu bungah (tertawa) maka kelak ketika meninggal harus “dendam” yang meninggal gembira sedangkan yang ditinggalkan menangis.
Untuk mencapai hal tersebut menurut masyayikh Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) harus melalui ikhtiar, usaha. “Selalu setuju dengan Allah/ ridha,” terang Kiai Muadz menyampaikan hal yang pertama.
Dalam pengajian yang dihadiri ratusan jamaah tersebut selalu setuju dengan Allah merupakan hal yang susah. Contoh pada saat mencuci pakaian suasana panas akan tetapi saat dijemur hujan tiba. “Halah malah hujan.” Itu lanjutnya salah satu bentuk ketidaksetujuan dengan Allah.
Begitu juga saat ditimpa sakit, mempunyai anak yang nakal, dan lain sebagainya. Ketidaksetujuan dengan Allah semakin memuncak. Padahal semuanya adalah milik Allah. “Maka kuncinya ridla dengan apa saja diberikan Allah,” tandasnya.
Hal kedua yang dikemukakan A’wan PBNU itu ialah pentingnya doa. “Takdir allah bisa diubah dengan doa,” lanjutnya.
Sahabat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu mengingatkan pada saat berdoa dalam keadaan gembira. Bassul wajhi, wajah yang bergembira. Kenapa berdoa menjadi hal yang penting, menurutnya zaman sekarang banyak yang mengandalkan rasional tapi lupa dengan pemberian Allah SWT.
Di akhir pemaparan dirinya menyampaikan mauidlah, Kiai Muadz menyebut dua orang cerdas menurut Nabi Muhammad SAW. Pertama, orang yang ingat mati sedangkan yang kedua orang yang siap mati.
Rahasia cepat mati dan khusnul khatimah tandasnya khusyuk, dan disertai dengan kebiasaan zikir, mengingat Allah. (ip)

Artikel ini telah dibaca 35 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

3 Agustus 2026 - 13:50 WIB

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

23 Juli 2026 - 22:56 WIB

ILUSTRASI kecemasan manusia

Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan?

23 Juli 2026 - 22:48 WIB

ILUSTRASI gadget menjadi "berhala" baru manusia modern

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

15 Juli 2026 - 13:21 WIB

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth
Trending di Kabar