Menu ✖

Mode Gelap
Penggunaan AI Generatif hingga Etika Dakwah Medsos Dibahas dalam Bahtsul Masail Mahasiswa di UNISNU Jepara Hari Santri 2026, Bupati Jepara Minta Santri Kuasai Literasi Digital dan Kewirausahaan Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

Kabar · 15 Sep 2019 14:55 WIB ·

Mengapa Nabi Muhammad Tidak Mengajarkan Bersalaman Usai Shalat? Ini Penjelasan Gus Nadhif


 Mengapa Nabi Muhammad Tidak Mengajarkan Bersalaman Usai Shalat? Ini Penjelasan Gus Nadhif Perbesar

Gus Nadhif beri ceramah jamaah Pengajian Rolasan Desa Bangsri. (Foto: Sirojul Akwan Family)

nujepara.or.id – Rasulullah saw hingga wafat belum pernah mengajarkan kepada para sahabat untuk melanggengkan bersalaman usai shalat. Pernyataan itu diuraikan KH Ahmad Nadhif Abdul Mudjib dalam Pengajian Rolasan Desa/ Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara yang berlangsung di RW.06 Desa Bangsri, Kamis (12/9/2019) kemarin.

Namun kata Gus Nadhif begitu kiai itu akrab disapa, bagi umat Islam di Indonesia tradisi bersalaman setelah shalat masih lestari hingga kini.

Menurut kiai muda asal Pati, Jawa Tengah itu mengungkapkan alasan Nabi tidak menganjurkan bersalaman karena para sahabat adalah manusia-manusia yang cerdas.

“Bukti kalau sahabat cerdas al-qur’an yang tidak ada titik, harakat, dan tasdidnya saat itu bisa dibaca mereka. Itu bukti sahabat kecerdasan sahabat,” terangnya kepada ratusan jamaah pengajian.

Semakin ke sini (zaman sekarang, red.) jika orang membaca al-qur’an tanpa titik, harakat, dan tasdid niscaya banyak orang yang tak sanggup membacanya. Makanya, lanjut Pengasuh Pesantren Nahdlatut Thalibin Tayu, Pati itu seorang sahabat yang bernama Abul Aswad Adduali ialah yang kali pertama memberikan harakat pada al-qur’an.

“Makanya Anda yang mondok harus berbangga. Sepandai-pandainya orang masih pandai adalah anak pesantren yang bisa baca kitab tanpa harakat bukan ustad medsos,” tegas Gus Nadhif.

Kepada jamaah pengajian yang dari santri pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri ia mengajak mereka agar semangat mondok. “Semangat mondok ya! Sampai tua ya!” seloroh Gus Nadhif.

Alasan kedua, lanjut Instruktur Nasional PP GP Ansor itu menambahkan mereka (sahabat, red.) tidak perlu bersalaman sudah rukun meski hanya dengan melihat akhlaknya Nabi Muhamnad saw.

Nah, kini tradisi bersalaman masih eksis sampai sekarang terang Wakil Sekretaris LBM PBNU itu agar satu sama lain tidak saling berseteru.

Di akhir ceramahnya, Gus Nadhif melantunkan penggalan shalawat Asnawiyah. “Aman aman aman Indonesia raya aman. Amin amin amin ya rabbi rabbal alamin. Amin amin amin fayamujibassairin.” (ip)

Artikel ini telah dibaca 84 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Penggunaan AI Generatif hingga Etika Dakwah Medsos Dibahas dalam Bahtsul Masail Mahasiswa di UNISNU Jepara

22 Oktober 2026 - 14:27 WIB

Hari Santri 2026, Bupati Jepara Minta Santri Kuasai Literasi Digital dan Kewirausahaan

22 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri

21 Oktober 2026 - 21:43 WIB

Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia

7 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd
Trending di Kabar