Menu

Mode Gelap
Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu? Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan? Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth Penghulu di Jateng Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke – 35 : Membangun Visi Peradaban Dunia dan Menata Kekuatan Organisasi untuk Masa Depan

Kabar · 16 Apr 2022 15:19 WIB ·

Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya


 Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya Perbesar

nujepara.or.id – Sejumlah seniman dan budayawan hadir di Paseban Masjid Mantingan. Bertepatan di malam bulan Ramadan, Jumat (15/4/2022) PC Lesbumi NU Jepara menggelar diskusi budaya Suluk Mantingan dengan tema “Relasi Agama, Seni dan Budaya”

Dalam keterangannya kepada nujepara.or.id, Ngateman, Ketua PC Lesbumi Jepara mengatakan, Suluk Mantingan adalah wadah kultural dan spiritual, sebagai bentuk ikhtiar untuk “nguri-nguri kabudayan” dan memiliki misi untuk memaknai kearifan sejarah dan budaya lokal Jepara sebagai bagian dari budaya Islam Nusantara.

“Forum ini juga sebagai wadah untuk menghimpun dan mengonsolidasikan wacana dan gerakan yang berbasis adat istiadat, tradisi, dan budaya Nusantara,” lanjut Ngateman.

Acara Suluk Mantingan juga sekaligus sebagai peringatan wafatnya KH. Agus Sunyoto dan KH. Sya’roni Ahmadi. Keduanya tokoh NU yang meninggal dunia di bulan suci Ramadan tahun 2021 lalu.

Lebih lanjut Ngateman mengatakan, kenapa memilih Masjid Mantingan, karena tak hanya sekadar faktor historis dan monumental, yaitu bangunan bersejarah yang dibangun pada Abad XVI dan salah satu masjid tertua di Jawa, namun juga karena faktor simbolis, bahwa masjid ini adalah wujud  akulturasi budaya Islam dengan budaya lain seperti Hindu, Buddha, dan Cina.

Sejumlah seniman dan budayawan yang hadir pada acara Suluk Mantingan antara lain, Sutarya, pegiat seni ukir Jepara, Bayu Andara, Burhan dan Aminan Basyari koordinator Komite Sastra DKD yang  membacakan puisi. Sedangkan Brodin menembangkan mantra Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng, serta Ki Sholeh Ronggo Warsito, S.Pd.I.

Hadir pula Ketua Lesbumi Malang Fathul Pranata Praja, dan Ali Romdloni dari Pati. Sejarawan dan penulis yang dikenal dengan diskursusnya tentang Kerajaan Demak.

Penulis buku “Kesultanan Demak Bintoro” ini berharap melalui forum Suluk Mantingan akan tercipta kurikulum keilmuan yang bersifat informal yang memiliki dasar dan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Setiap orang bebas berargumen apa saja karena itu hak mereka, jadi sudah tugas kita melalui forum suluk mantingan inilah agar tercipta sebuah diskusi keilmuan yang memiliki data dan sumber sejarah yang jelas,” terang Ali Romdloni. (UA)

Artikel ini telah dibaca 136 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

23 Juli 2026 - 22:56 WIB

ILUSTRASI kecemasan manusia

Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan?

23 Juli 2026 - 22:48 WIB

ILUSTRASI gadget menjadi "berhala" baru manusia modern

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

15 Juli 2026 - 13:21 WIB

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

Penghulu di Jateng Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah

15 Juli 2026 - 12:31 WIB

Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara
Trending di Kabar