Menu

Mode Gelap
UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

Hujjah Aswaja · 30 Okt 2022 15:58 WIB ·

Diaspora Manuver Politik Kyai dan Politik Indentitas


 Diaspora Manuver Politik Kyai dan Politik Indentitas Perbesar

Oleh Dr Muhammad Shohibul Itmam, MH*

nujepara.or.id – Menyikapi pergulatan NU dalam diaspora keagamaan dan kebangsaan dewasa ini sungguh mencengangkan. Pasalnya, sebagian elit menuding bahwa nyaris semua kelompok dan pihak yang terlibat dalam semarak semangat keagamaan dan kebangsaan termasuk “kyai”, ujung-ujungnya adalah kompensasi materi jangka pendek. Hal ini seperti yang disampaikan mantan ketum parpol yakni SM beberapa waktu lalu.

Konklusi demikian memang sembrono. Sebab ada kyai yang hingga kini masih setia mempedimani spirit kyai yang sesungguhnya. Namun tudingan itu juga tidak sepenuhnya dianggap naif dan aib. Sebab di lapangan mungkin ada yang seperti itu. Walaupun hal itu tentu saja merendahkan diri, mempertaruhkan reputasi dan kualitas mereka yang dituding, termasuk sang “kyai”.  

Hal ini senada dengan narasi Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Kholil Staquf yang menyatakan bahwa  yang menjadi masalah saat ini bukan keterlibatan kyai dalam politik, tapi kualitas kyai itu sendiri. Meskipun ini juga dilema tersendiri. Sebab menyerah dan menarik diri dari politik justru berarti putus asa dan wujud kurang spirit keilmuan.

Tantangan kyai adalah bagaimana memperkaya wawasan, memperdalam intensitas keterlibatan dengan kepentingan-kepentingan kaum lemah dan mengasah kreatifitas dan ketrampilan dalam memberdayakan dan memanfaatkan instrumen-instrumen politik yang lebih beragam. Hal ini tentu saja untuk kepentingan umat dan lii’laai kalimatillah.

Kyai dan Perjalananya

Dalam beberapa riset terkait kyai dan pesantren seperti penelitian Zamachsari Dhofier disebutkan jika kyai itu sebagai sosok yang berpengaruh dan mampu mempengaruhi secara positif. Bahkan dengan materi dan kekayaanya mereka berbuat untuk mengurai dan menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat dan umat.

Premis demikian senada dengan ayat dalam surat Yasin yang menjelaskan bahwa orang yang mendapat hidayah dan layak dikuti adalah mereka yang tidak meminta imbalan. Artinya mereka yang ikhlas berbuat tanpa mengharap kompensasi materi.

Apakah potret ideal kyai seperti yang disampaikan Zamachsari Dhofier masih ada? Tergantung sudut pandangnya. Namun tak bisa juga dipungkiri jika ada “kyai” yang telah telah keluar koridor historisnya. Sebab ada juga kyai yang ingin memperoleh sesuatu, padahal yang dilakukannya tidak berhubungan dengan kepentingan masyarakat, melainkan hanya kepentingannya sendiri.

Perjalanan kyai tidak beranjak menuju ragam kepentingan masyarakat dan umat. Atau perjalanan yang berliku dalam bingkai keagamaan dan kebangsaan, namun hanya perjalanan yang bisa disebut “jalan-jalan di tempat”.

Terjadinya dekadensi dalam dekade akhir ini bisa dimaklumi seiring banyaknya ujian dan tantangan yang dihadapi “kyai” saat ini. Manuver politiknya kerap menjadi “rasan-rasan publik” yang berujung munculnya rasa enggan dan patuh pada kyai dan ormas keagamaannya. 

Dulu, Gus Dur biasa mengorbitkan siapa saja yang punya potensi untuk kemajuan bangsa negara tanpa memandang politik identitasnya. Sepanjang hal itu bisa kompromi dan dikoordinasikan. Namun belakangan ini, keteladanan yang diwariskan Gus Dur itu kian luntur. Meski ide dan gagasan seseorang baik, namun sulit diterima jika muncul dari luar kelompok mereka.

Manuver politik dan politik identitas bisa menghinggapi pola pikir kyai, terutama mereka yang kemampuan intelektualnya masih perlu dipompa, kondisi ekonomi dan wawasannya masih perlu diupgrade.

Kini, menjadi tugas kita bersama agar diaspora manuver politik dan politik identitas yang dimainkan kyai mampu mewarnai setiap dinamika perubahan. Tentu saja, hal itu harus didukung dengan kekuatan ekonomi yang mandiri serta keilmuan mumpuni. Politik identitas silakan saja, terpenting juga harus membangun hubungan profesional dan sinergi dengan multi kepentingan yang dihadapi masyarakat.

Tanpa keduanya maka politik kyai dan politik identitas akan menjadi seperti buih di tengah samudra. Jumlahnya memang banyak tapi mudah terombang ambing dan dihajar serta dihempaskan ombak di lautan. Wallahu a’lam bisshowab.

*Pengasuh Ponpes An Najah Petekeyan dan Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Jepara

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Membuka Gembok “Penjara Digital”, Menjemput Jiwa yang Tertinggal di Balik Layar

9 April 2026 - 16:46 WIB

UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global

8 April 2026 - 18:39 WIB

Digelar di Jepara, Kitab Karya Ulama Nusantara akan Dipamerkan di Forum Bahtsul Masail Jateng

6 April 2026 - 12:18 WIB

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

5 April 2026 - 12:54 WIB

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Trending di Kabar