Menu ✖

Mode Gelap
Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

Esai · 26 Mar 2023 22:59 WIB ·

Ngaji Tematik Ramadhan: Moderasi Beragama


 Ngaji Tematik Ramadhan: Moderasi Beragama Perbesar

Oleh Kyai Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Kepercayaan (iman) dan kebaikan perbuatan (amal) yang kita lakukan kadang menjadikan “pongah” sehingga menafikan keimanan dan kebaikan perbuatan orang lain. Bahkan kita merasa paling beriman sendiri dan paling baik sendiri.

Hal ini digambarkan secara apik oleh al Qur’an: “Ana khoirun minhu” yang artinya, “Saya lebih baik darinya.” 

Kadang kita menuduh bahwa “perjelekan” adalah bagian dari “godaan syetan” yang sifatnya eksternal. Padahal jika kita memahami penggalan ayat di atas bahwa sifat syetan yang menyatu dalam diri manusia adalah “ke-diri-an” atau “ego” yang merasa “serba paling benar dan baik” daripada orang lain bahkan merasa “serba paling” dalam “beragama”. Atau lebih khusus lagi merasa “paling beriman” daripada orang lain.

Padahal Islam mengajarkan sifat  “rendah diri” atau tawadu’ yaitu  berupa sifat kemanusiaan manusia yang  memanusiakan manusia dimana keberadaan manusia adalah sebagai mahluk sosial yang bermartabat sesuai dengan agama, budaya,  kompetensi dan kepercayaannya masing masing.

Filosofi ini memunculkan norma dan etika dalam melakukan aktivitas dan berinteraksi sosial sehari-hari dilandasi dasar pergaulan yang harmonis, santun, saling menghormati, saling mengasihi  dan saling menolong satu sama lain.

Kebalikan dari sifat “rendah hati” atau tawadu’ adalah sifat “congkak” atau  “sombong” karena merasa “serba paling benar dan baik” daripada orang lain.

Olehnya,  nampak sekali pembedanya sangat tipis antara  sifat “kemanusian” dan sifat “kesyetanan”. Karena sifat kesyetanan  yaitu merasa “serba paling benar dan baik” daripada orang lain. 

Semoga kita semua dijaga oleh Gusti Allah SWT dari godaan sifat merasa “serba paling benar dan baik”. Aamin Aamiin Aamiin.

*Sekretaris Pengurus Syu’biyah Jatman Jepara

Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri

21 Oktober 2026 - 21:43 WIB

Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia

7 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Trending di Headline