Menu

Mode Gelap
Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

Kabar · 6 Des 2024 14:57 WIB ·

Belajar dari Kasus Gus Miftah : Dakwah Harus Mengutamakan Akhlak


 Belajar dari Kasus Gus Miftah : Dakwah Harus Mengutamakan Akhlak Perbesar

nujepara.or.id – Publik baru-baru ini dihebohkan oleh cuplikan video yang memperlihatkan Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) saat berceramah.

Dalam video tersebut, Gus Miftah terlihat melontarkan pernyataan yang dianggap menghina seorang pedagang es teh bernama Sonhaji, yang tengah menawarkan dagangannya kepada jamaah.

Menanggapi peristiwa ini, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrurrozi (Gus Fahrur), menyampaikan bahwa ceramah sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang santun.

Selain itu, penceramah juga perlu mempertimbangkan konteks para jamaah yang hadir.

“Pada dasarnya dakwah harus mengutamakan kelembutan dan adab sebagaimana tauladan Rasulullah saw,” kata Gus Fahrur kepada NU Online, Rabu (4/12/2024).

Menurut Gus Fahrur, kejadian tersebut memberikan sejumlah pelajaran penting. Ia menekankan bahwa seorang penceramah harus mampu memahami situasi dan kondisi audiens untuk mencegah kegaduhan serta menunjukkan empati terhadap orang lain.

“Kasus ini menjadi pelajaran bagi mubalig lainnya agar lebih berhati-hati dalam bercanda agar tidak menimbulkan kegaduhan dan melukai perasaan orang lain,” jelasnya.

Lebih lanjut, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Malang itu menganjurkan para dai untuk meneladani akhlak mulia dalam berdakwah, seperti menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan, bersikap lemah lembut, pemaaf, musyawarah, tawakal, dan tawadhu’.

Hal ini, lanjutnya, sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam QS. Ash-Shaaf ayat 2-3, QS. Ali Imran ayat 159, dan QS. Al-Furqan ayat 63. Gus Fahrur juga mengingatkan masyarakat untuk bersikap bijak dalam menanggapi peristiwa apa pun.

Ia mengimbau agar masyarakat tidak terjebak dalam polemik yang berkepanjangan.

Peristiwa ini, menurutnya, mencerminkan sisi manusiawi yang tidak lepas dari kekurangan, sehingga menjadi kesempatan untuk saling mengingatkan dan mendukung dalam kebaikan.

“Mari saling mendukung dan mengingatkan untuk kebaikan dakwah umat Islam,” pungkasnya.

Sumber: https://jateng.nu.or.id/nasional/belajar-dari-kasus-gus-miftah-dakwah-harus-mengutamakan-akhlak

Artikel ini telah dibaca 117 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan

Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

19 Maret 2026 - 08:46 WIB

Rau Launching Mobil Layanan Ummat

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H

Netra Kasunyatan, Rahasia Mata Batin Menavigasi Hidup di Balik Cahaya dan Kekosongan

18 Maret 2026 - 11:50 WIB

ILUSTRASI Netra Kasunyatan

Lampah Samarpan, Teknik Final Menyambut Malam Anugerah 1000 Bulan

18 Maret 2026 - 11:36 WIB

Lampah Samarpan

UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia

16 Maret 2026 - 19:11 WIB

Trending di Kabar