Menemukan Tuhan dalam “afāq”_ dan “anfus”_ dalam Surat Fushilat: 53
Kembali, di ruang nyaman kamar hotel, sebuah kesadaran “menyembul” dalam petualangan ‘realitas rasa’ dari untaian ayat yang tiba tiba merangsek masuk kedalam penalaran.
Allah berfirman:
“Kelak Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di seluruh penjuru langit dan bumi (“afāq”), serta dalam diri mereka sendiri (“anfus”), hingga akhirnya menjadi jelas (“yatabayyan”) bagi mereka bahwa semua ini benar adanya (“haq”). Bukankah Tuhanmu cukup menjadi saksi atas segala sesuatu?.” (Surat Fushilat: 53).
Ayat ini mengajarkan metode penyadaran spiritual melalui dua pintu: pengamatan kosmos (“afāq”) dan introspeksi diri (“anfus”). Tulisan ini menyajikan pemahaman untuk mengaktualisasikan ayat dalam kehidupan sehari-hari.
Ayat ini bukan janji masa depan. Ia sedang terjadi. Sekarang. Saat Anda sedang membaca tulisan ini. Dalam napasmu yang keluar masuk. Dalam rindu yang tiba-tiba menyelinap saat pagi hari.
Kaca “Pengilon”: Yang Terlihat dan Yang Melihat
Ada dua cermin yang Allah sodorkan.
Pertama, langit dan bumi. Bukan sekadar pemandangan, tapi pertanyaan yang terbentang luas. Mengapa langit malam selalu menenangkan? Mengapa hujan pertama selalu berbau rindu? Bukan karena meteorologi. Tapi karena ada sesuatu di balik fenomena—yang menyapa tanpa kata, yang hadir tanpa paksaan.
Kedua, diri sendiri. Bukan cermin fisik yang kau pandang tiap pagi. Bukan pula biografi hidupmu. Tapi kejutan bahwa kau bisa merasa, ragu, mencintai, dan bertanya. Diri yang bertanya “untuk apa aku hidup?” adalah diri yang sedang disinggahi tanda.
Kedua cermin ini sebenarnya satu. Kau lihat langit, dan langit membuatmu merasa kecil—tapi kecil yang dihargai, bukan ditinggalkan. Kau renungkan diri, dan dirimu membuka ke luar—menyadari bahwa detak jantungmu berirama dengan detak waktu.
“Cetho Welo Welo”
Ayat mengatakan “hingga menjadi jelas.”
Bukan “hingga mereka paham.” Bukan “hingga mereka bisa menjelaskan.” Tapi “yatabayyan”, menjadi jelas seperti kabut pagi yang terangkat, dan tiba-tiba kau melihat pemandangan yang selalu ada, tapi tak pernah kau lihat.
Kejelasan ini bukan hasil ujian. Kau tak perlu lulus ujian teologi. Cukup hadir. Cukup perhatikan. Cukup biarkan hati bertanya, dan biarkan pertanyaan itu sendiri menjadi jawaban sementara.
Ada orang yang melihat matahari terbenam dan hanya melihat rotasi bumi. Ada yang melihat matahari terbenam dan menangis tanpa tahu kenapa. Keduanya benar. Tapi yang kedua—dia sedang “yatabayyan”.
Selanjutnya ayat bertanya, setengah merayu, setengah menantang: “Bukankah Tuhanmu cukup?”
Pertanyaan ini bukan untuk ditutup dengan cepat. “Ya, cukup,” lalu selesai. Tidak. Pertanyaan ini adalah pintu yang terus terbuka. Setiap kali kau ragu—dan ragu itu wajar, ragu itu manusiawi—kembali ke pertanyaan ini. Bukan untuk mematikan keraguan, tapi untuk menampungnya.
Cukup dalam arti: Kau tak perlu bukti lain. Yang ada sudah cukup untuk memulai. Tidak cukup dalam arti: Kau akan terus menemukan lapisan baru, kedalaman baru, cinta baru.
Allah tidak marah kau bertanya. Allah menyaksikan pertanyaanmu. Bukan menyaksikan dari jauh, seperti pengawas. Tapi hadir dalam setiap nafas pertanyaanmu. Itu makna “Shahīd”, bukan yang mengawasi, tapi yang peduli menyaksikan.
Jadi, apa esensinya?
Allah tidak bersembunyi. Dia memperlihatkan diri-Nya dalam dua bahasa: bahasa alam yang kau lihat, dan bahasa hati yang kau rasa. Kau tak perlu pilih salah satu. Kau tak perlu jadi ilmuwan atau sufi. Cukup jadi manusia yang perhatian.
Ketika kau melihat, lihatlah dengan bertanya: “Apa yang kau ingin katakan?”
Ketika kau merasa, rasakanlah dengan bertanya: “Dari mana datangnya?”
Dan biarkan pertanyaan itu menggendongmu. Hingga suatu saat—mungkin saat senja, mungkin saat tangis, mungkin saat tawa yang tiba-tiba—sesuatu menjadi jelas. Bukan jawaban yang bisa kau tulis. Tapi yakin yang bisa kau huni.
Itulah iman yang mengalir. Bukan tanggung jawab yang berat. Tapi pulang.
“كَفَىٰ بِٱللَّهِ بَیۡنِی وَبَیۡنَكُمۡ شَهِیدࣰاۖ….”
Dan Dia cukup menjadi saksi antara aku dan kamu. (Al-Ankabut: 52).
Cukup. Dan itulah yang membuat kau ingin lebih.
Selasa, 3 Maret 2026
13 Ramadan 1447 H
@Ula – Loji Gunung Donoroso
Note
{ سَنُرِیهِمۡ ءَایَـٰتِنَا فِی ٱلۡـَٔافَاقِ وَفِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ یَتَبَیَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ یَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ شَهِیدٌ }
[Surat Fushilat: 53]
{ قُلۡ كَفَىٰ بِٱللَّهِ بَیۡنِی وَبَیۡنَكُمۡ شَهِیدࣰاۖ یَعۡلَمُ مَا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَكَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ }
[Surat Al-Ankabut: 52]
Penulis HM Ulul Abshor (Wakil Katib Syuriah PCNU Jepara)