nujepara.or.id – Kalangan lintas iman hadir saat Haul KH Presiden ke-4 sekaligus Pahlawan Nasional KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-16 yang digelar di Aula PCNU Jepara, Jalan Pemuda No 51 Senin (5/1/2026) malam.
Wakil Ketua PBNU KH Miftah Faqih, jajaran syuriah, tanfidziyah PCNU Jepara beserta badan otonom (Banom) dan lembaga serta ratusan nahdliyyin juga hadir mengikuti kegiatan yang juga digelar dalam menyemarakkan Harlah NU ke-103 Hijriah sekaligus 100 tahun Miladiyah itu.
Perwakilan Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan Lim Sugandi mengatakan Gus Dur punya tempat istimewa di hati penganut agama Konghucu. Menurutnya tokoh NU ini telah berjasa meyelamatkan agama Konghucu. Sebab jika tanpa gebrakan Gus Dur maka Konghucu mati suri di Indonesia.
“Era Orde Baru, Konghucu tak bisa eksis, bahkan kita harus pindah agama agar tetap bisa hidup di Indonesia. Perkawinan sesama Konghucu juga tidak diakui negara, nahh berkat perjuangan Gus Dur kita tetap eksis,” jelas Lim Sugandi.
Warga Tionghoa, kata Lim sangat menghormati guru bangsa ini. Bentuk penghormatannya bermacam-macam. Ia mencontohkan tiap tahun ada kelompok warga Tionghoa di Semarang yang rutin ziarah ke makam Gus Dur di Jombang.
“Kelenteng di Muntilan Magelang bikin ruang penghormatan khusus untuk Gus Dur. Kita anggap Gus Dur semacam dewa. Gus Dur Bapak Tionghoa Indonesia,” jelasnya.
Apresiasi juga diungkapkan perwakilan dari Kristen. Pendeta Piertno Hadi menilai Gus Dur memang layak menyandang status bapak toleransi dan pluralisme di Indonesia.
Umat Kristen di Indonesia tergolong minoritas karena angkanya sekitar 15 persen dari total penduduk. Namun tetap bisa menjalankan ibadah dan aktivitas lainnya dengan damai dan harmonis.
“Kami merasa dilindungi. Spirit Gus Dur juga diteruskan oleh NU. Saat gereja di Dermolo sulit beraktivitas Mbah Yatun dan NU Jepara juga turun ikut membantu kami,” tuturnya.
Sementara itu, tokoh Kristen lainnya Pdt Danang Kristiawan menggunakan pemikiran dan tindakan yang dilakukan Gus Dur hingga kini masih relevan. Ia mencontohkan spirit Just Peace (perdamaian yang berkeadilan) yang digaungkan Gus Dur bahkan saat ini viral di kawasan Eropa.
“Humor Gus Dur juga sangat filosofis. Jadi lawan dari kekerasan adalah kreativitas. Dan salah satu kreativitas Gus Dur adalah humor. Ini langkah alternatif dan kreatif untuk melawan kekerasan,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua PBNU KH Miftah Faqih berharap kegiatan Haul Gus Dur ini tak berhenti hanya untuk seremonial saja. Spirit haul ini harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
“Gus Dur menjadi besar karena selalu membesarkan orang lain. Gus Dur juga menekankan perubahan tapi yang dewasa. NU juga harus berubah, dari budaya kerumunan menjadi transformasi sistematik,” tandasnya.