Menu

Mode Gelap
Pesan dari Bandungharjo untuk Jepara: Pertebal Cinta Tanah Air Lewat Kirab Merah Putih, Malam Hari Langitkan Doa untuk Bangsa Bersama Habib Umar Muthohar dan Gus Muwafiq Lakpesdam PCNU Gandeng UNISNU Lakukan Riset Dampak Industrialisasi di Jepara Koreksi Master Kalender 2024, Lembaga Falakiyah NU Jepara Pastikan Sesuai Perhitungan Siswi MA Nahdlatul Ulama Tengguli Sabet Harapan 2 Ajang Lomba Esai Se-Jateng dan DIY Garam : “Misi Suci” Yang Sering Terkapitalisasi!

Kabar · 23 Sep 2016 02:46 WIB ·

Kiai Ubaidullah Shodaqoh: “Rawat Terus Tradisi Baik”


 Kiai Ubaidullah Shodaqoh: “Rawat Terus Tradisi Baik” Perbesar

HADIRI HAUL: Rois Syuriah PWNU Jateng Kiai Ubaidullah Shodaqoh (keenam dari kiri) saat menghadiri haul Kiai Miftah Abu di Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan, Jepara, Kamis (22/9) sore.

HADIRI HAUL: Rois Syuriah PWNU Jateng Kiai Ubaidullah Shodaqoh (keenam dari kiri) saat menghadiri haul Kiai Miftah Abu di Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan, Jepara, Kamis (22/9) sore.


JEPARA – Tradisi yang baik dan terus dirawat akan turut menguatkan Islam. Keistikamahan dalam memegang teguh tuntunan para kiai, juga nguri-nguri dengan baik apa yang telah ditinggalkan untuk umat, juga merupakan hal penting dalam menjaga Islam. Sejarah panjang keislaman sebuah kawasan, bisa saja menjadi terkesan hilang jika tak ada yang merawat tradisi-tradisi baik dari generasi tertentu.
Hal itu disampaikan Rois Syuriah Pengurus Wilayah (PW) NU Jateng KKH Ubaidullah  Shodaqoh tatkala memberikan tausyiah dalam Haul ke-1 KH Miftah Abu di Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan Kabupaten  Jepara, Kamis (22/9) sore.
Peringatan haul yang diselenggarakan di makam desa itu selaian dihadiri masyarakat setempat, di antaranya juga dihadiri KH Zamazi dari Desa Pecangaan Wetan dan Syuriah Majelis Wakil Cabang NU Pecangaan Kiai Sukarli. “Ngestoaken dawuh para kiai, nguri-uri tinggalanipun, menika penting. Tradisi ingkang sae menika saget nglindungi saha nguwataken sunnah,” tutur Kiai Ubaidullah.
Kiai Ubaidullah Shodaqoh dalam kesempatan itu menyampaikan : “Barang siapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang jelek maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang yang mengikutinya sedikitpun.: (HR. Muslim)
Ia pun mencontohkan bagaimana Islam pernah ada dan besar di negeri Andalusia (Spanyol), jika dihitung dari era Thoriq bin Ziyad di Andalusia hingga era Sunan Kalijaga, Islam pernah Berjaya selama sekitar 700 tahun di Andalusia. Ada Istana Al Hamra yang bersejarah, juga munculnya ulama-ulama besar seperti Al Qurthubi, Muhyiddin Ibn Arabi, juga Ibn Malik. Namun setelah tahun 1.300 M, Islam di Andalusia seakan ditelan sejarah.
Mengapa? Sebab, kata Kiai Ubaidullah Shodaqoh, amat jarang ulama yang dimakamkan di Andalusia. Al Qurtubi tidak dimakamkan di Andalusia, Muhyiddin Ibn Arabi juga tidak. Para ulama Andalusia saat sepuh hijrah ke Timur Tengah seperti Mesir, juga Syiria. “Akhiripun tanah Andalusia sampun mboten wonten ingkang nunggu. Ulama jarang ingkang disareaken wonten Andalusia. Tradisi tak terjaga, sehingga Islam seperti tertelan sejarah,” lanjutnya.
Karena itu, ia berpesan, menjaga tradisi, termasuk salah satunya memeringai haul ulama itu sangat penting, sebagai bagian dari merawat tradisi yang baik dengan maksud menjaga apa yang sudah ditinggalkan. Kiai Ubaidullah berharap, peninggalan Kiai Miftah Abu yang semasa hayatnya menjadi salah satu sesepuh di NU, dirawat dan dijaga, agar terus bisa memberikan kemaslahatan ke masyarakat.
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jepara Ahmad Sahil yang juga  putra KH Miftah Abu mengatakan, Kiai Miftah tutup usia setahun lalu, di antaranya meninggalkan Yayayan Al Alawiyah yang menaungi madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, taman pendidikan Alquran, juga panti asuhan Tarbiyatul Aitam. Seluruhnya dihuni lebih kurang 1.000 anak didik. (ms)
 

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW, sebagai Ajang Kreativitas Kader IPNU-IPPNU Petekeyan

22 September 2023 - 10:11 WIB

Catatan Silaturahmi PCNU-MWCNU-PBNU Se-Eks Karisidenan Pati bersama KH Yahya Cholil Staquf

22 September 2023 - 01:17 WIB

Haul Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya, alias Mbah Daeng

22 September 2023 - 00:29 WIB

Ketua Lakpesdam PCNU Jepara, Terpilih Jadi Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

19 September 2023 - 08:16 WIB

Pesan dari Bandungharjo untuk Jepara: Pertebal Cinta Tanah Air Lewat Kirab Merah Putih, Malam Hari Langitkan Doa untuk Bangsa Bersama Habib Umar Muthohar dan Gus Muwafiq

8 September 2023 - 01:54 WIB

Mas Wiwit dan Dandim 0719/Jepara Letkol Inf Husnur Rofiq menyapa warga saat Kirab Merah Putih di Desa Bandungharjo, Donorojo, Jepara, Kamis (7/9/2023).

Habib Lutfi Bersama Mas Wiwit dan Ribuan Warga Kirab Merah Putih Sejauh 4 Km, Ada Ribuan Doorprize

5 September 2023 - 01:29 WIB

Flier Kirab Merah Putih dan pengajian umum yang bakal dihadiri Habib Luthfi, Habib Umar Muthohar dan ribuan warga yang diprakarsai Mas Wiwit, panggilan akrab Witiarso Utomo.
Trending di Hujjah Aswaja
%d blogger menyukai ini: