Menu

Mode Gelap
Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

Kabar · 5 Apr 2026 12:54 WIB ·

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir


 ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Perbesar

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

NU JEPARA- KITA SEMUA ADA DI SINI, DAN KITA TIDAK HADIR
Surat Al-Isra’: 83-84, Untuk yang sedang membaca ini sambil menggulir layar

Acara njagong “badhan” semalam di teras Loji Gunung sampai menjelang “jam tumpuk”, informasi yang “maneko warno” disuguhkan sampai menghabiskan sebungkus rokok yang harganya bagi pekerja kasar menjerit, menginspirasi hadirnya tulisan ini.

“Dan apabila Kami berikan kesenangan pada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa. Katakanlah (Muhammad), Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”

Kita sedang dalam grup chat, puluhan notifikasi kita konsumsi setiap hari. Seseorang memposting foto wisata, seseorang memposting promosi jabatan, seseorang memposting menu makan yang lebih baik dari makan kita sendiri.

Kita mengetik: “Wah, keren!”, “Congrats, ya!” “Mau dong!” Lalu kita menggulir, ke grup lain, ke info berita lain. Melihat meme yang membuat kita tertawa tiga detik.

Kita tidak iri. Bukan itu. Kita hanya tidak merasa apa-apa, hambar (bahasa Jawa: “sepo”). Liburan wisata itu hanya ada di layar, bukan di hidup kita. Promosi itu adalah angka, bukan cerita. Menu makan itu adalah piksel, bukan rasa.

Ayat 83 menyebutnya “a’rāḍ”: berpaling. Bukan karena kita jahat. Tapi karena nikmat sekarang datang dalam bentuk yang tidak bisa kita sentuh dan kita belajar untuk tidak menyentuh apa pun, hanya sentuhan layar ponsel kita.

Satu: Arsip yang Tidak Kita Buka
Ponsel kita penuh dengan album foto. Momen yang kita abadikan untuk “diingat nanti”. Tapi kita tidak pernah membuka arsip itu. Kita terlalu sibuk mengabadikan momen berikutnya, memposting konten baru dan lupa konten sebelumnya.

Ini bukan tentang “bersyukur”. Ini tentang kenyataan bahwa kita telah mengubah kenikmatan menjadi konten dan konten tidak bisa dinikmati, hanya bisa dikonsumsi. Kita berpaling bahkan dari kenikmatan kita sendiri.

Dua: Berita Buruk sebagai Notifikasi
Kita bangun. Ponsel menyala, notifikasi berita buruk sebelum kita menyikat gigi. Info bencana, kecelakaan, berita kematian. Nama yang kita tidak kenal, tapi wajah yang kita lihat. Lalu kita mengetik: “Innalillahi.” Kita menggulir. Kita melupakan sebelum kita selesai membaca dan terus berulang, lagi dan lagi.

Ayat 83 juga mengatakan: dalam musibah, kita “ya’s”; putus asa. Tapi “ya’s” kita sekarang adalah kehabisan. Bukan tangisan yang mengguncang. Tapi mati rasa yang terakumulasi. Kita tidak hancur. Kita habis, sedikit demi sedikit, berita demi berita, hari demi hari.

Tiga: “Syakīlah” Kita, Algoritma Mereka
Ayat 84: “Setiap beramal sesuai syakīlahnya.”

Kita pikir kita memilih. Pilihan kita: apa yang kita tonton, apa yang kita beli, siapa yang kita ikuti.

Tapi “syakīlah” kita, bentuk unik kita menempati dunia, sekarang adalah produk. Data, membentuk sebuah pola. Algoritma yang tahu apa yang kita inginkan sebelum kita tahu sendiri. Kita beramal sesuai “syakīlah” yang dibentuk oleh rimba informasi ini. Bukan karena kita dipaksa. Tapi karena kita tidak tahu ada bentuk lain.

Empat: Yang Lebih Tahu
Ayat 84 berlanjut: “Tuhanmu lebih mengetahui.”

Kita ingin ini adalah penghiburan. Tapi mungkin ini adalah pertanyaan.

Lebih tahu apa? Lebih tahu siapa kita sebenarnya. Di balik arsip yang tidak kita buka, di balik notifikasi yang kita konsumsi, di balik kita yang sedang membaca ini sambil menggulir ke bawah untuk melihat ada berapa paragraf lagi? Lebih tahu bahwa kita ada di sini, dan kita tidak hadir?

Lima: Cermin yang Menunggu
Ayat ini tidak memberi kita solusi praktis. Tidak ada aplikasi untuk mengatasi “a’rāḍ.” Tidak ada filter untuk mengubah “ya’s” menjadi “sabr.”

Ayat ini hanya menunjukkan: beginilah kita dalam rimba informasi ini. Menjauh dalam kelimpahan. Hancur dalam kehabisan. Beramal sesuai bentuk yang kita tidak pilih.

Realitas menunjukkan, hanya itu sudah cukup untuk membuat sesuatu bergerak. Karena sekarang, ketika kita menggulir, kita tahu kita sedang menggulir. Ketika kita mengetik “Wah, keren!”, kita tahu kita tidak merasa keren.

Mungkin mengetahui tidak mengubah apa-apa. Mungkin mengubah segalanya. Kita masih di sini, di rimba ini, menunggu untuk melihat apa yang muncul selanjutnya.

Kita masih di sini. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kita tahu kita di sini.


Rabu, 1 April 2026
@Ula-Loji Gunung Donoroso

Note
{ وَإِذَاۤ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَـٰنِ أَعۡرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ كَانَ یَـُٔوسࣰا (83) قُلۡ كُلࣱّ یَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِیلࣰا (84) }
[Surat Al-Isra’: 83-84]

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

27 Maret 2026 - 08:26 WIB

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan

Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

19 Maret 2026 - 08:46 WIB

Rau Launching Mobil Layanan Ummat

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H
Trending di Kabar