Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Kabar · 1 Mar 2022 09:05 WIB ·

Panduan Kehidupan Dalam Isra’ Mi’raj


 Panduan Kehidupan Dalam Isra’ Mi’raj Perbesar

Oleh Ahmad Rouf *

Setiap tanggal 27 Rajab umat muslim memeringati sebuah peristiwa fenomenal, Isra’ Mi’raj. Tak terkecuali di desa mertua saya, Desa Biting, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora.

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang diperingati saban tahun, berikut kisah dan hikmahnya telah banyak disampaikan. Saya tidak akan membahas secara detail peristiwa tersebut namun lebih pada apa yang bisa ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj era kekinian konteks kehidupan sehari-hari. Supaya kita juga bisa ber-Isra’ Mi’raj.

Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad menurut riwayat jumhur ulama terjadi pada tahun ke-10 kenabian (621). Dikisahkan pula peristiwa Isra’ Mi’raj berlangsung setelah mengalami tahun kesedihan (‘am al-huzn) karena berbagai musibah yang mendera di antaranya kematian Khadijah dan Abu Tholib serta boikot yang dilancarkan kaum Quraisy kepada umat Islam.

Dalam Al-qur’an, berita mengenai kejadian Isra’ Mi’raj diabadikan dalam surat Al- isra’ ayat 1 yang terjemahannya kira-kira “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pad suatu malam dari Al Masjid ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Perspektif bahasa, kata Isra’ Mi’raj secara harfiah sering diterjemahkan dengan “perjalanan di malam hari”. Dalam pemaknan lain, kata Isra’ kalau dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian”. Jadi kata Isra’ di sini bisa diartikan sebagai “proses pencarian yang akan melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup’.

Sedangkan peristiwa Mi’raj dikisahkan dalam surat an-Najm meski tidak secara eksplisit menyentuh kata Mi’raj. Istila Mi’raj sendiri berasal dari kata ‘araja yang berarti naik atau meninggi. Artinya, kita diberi tuntunan supaya naik derajat atau peringkat sebagai manusia.

Dari pemaknaan di atas, kita mendapatkan pelajaran bahwa sebagai manusia kita diperintahkan untuk “selalu mencari”, dengan pencarian tersebut kita diharapkan pula bisa meningkatkan derajat, baik derajat keimanan, intelektual, spiritual, maupun yang lain. Dan dari rentetan kata Isra’ dahulu kemudian Mi’raj, kita semacam diberi formula bahwa untuk meningkatkan derajat kita perlu melakukan pencarian.

Hal lain dari perspektif bahasa, kita bisa mengambil hikmah dari kata “masjid”. Disebutkan di atas, nabi Muhammad diberangkatkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal pada saat itu belum ada namanya Masjidil Haram, yang ada masih Ka’bah saja. Begitu pula dengan Masjidil Aqsha, yang sebenarnya adalah “kuil Nabi Sulaiman”. Jika penggambaran masjid seperti bayangan kita saat ini, masjid kali pertama yang dibangun Nabi Muhammad adalah Masjid Quba, setelah beliau hijrah.

Berbeda manakala makna “masjid” kita perluas, yakni “segala tempat yang digunakan untuk sujud atau menyembah Allah” Maka kedua tempat itu relevan dengan hadis yang artinya setiap tempat di bumi adalah tempat sujud. Kata Aqsha sendiri, berarti “jauh”. Artinya kita bisa memaknai sejauh apapun kita berada harus bisa bersujud sepenuhnya.

Atau, sejatinya jarak kita dengan Allah yang serasa jauh manakala kita tidak berangkat dari “Masjidil Haram” atau tidak melakukan proses penyucian diri, perilaku, dan alam pikiran. Kita tidak bisa Isra’ manakala hati masih keruh, dipenuhi ketakutan, kegundahan, kedengkian serta penyakit hati lainnya. Ini adalah makna simbolik dari “proses pembersihan dada” Rasulullah.

Dalam kehidupan sosial-kemanusiaan, perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan para nabi terdahulu. Ini adalah simbol kesinambungan era meski memiliki corak dan kondisi yang berbeda. Konteks kehidupan sehari-hari, kita perlu melakukan dialog dengan pendahulu, leluhur, untuk kesinambungan visi. Dan perbedaan corak atau kondisi masyarakat perlu disikapi dengan visi kesinambungan yakni ajaran Allah Swt: Islam.

Puncak dari perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad adalah bertemu dengan Dzat yang Maha Pencipta di Sidratul Muntaha. Bahkan malaikat Jibril pun tidak punya hak masuk ke tempat itu. Pada kenyataannya, meskipun pertemuan itu sangat-sangat istimewa, Nabi Muhammad di kembalikan ke bumi.

Sebab Sidratul Muntaha bukanlah tempat merealisasikan visi kemanusiaan, yakni visi kerahmatan. Artinya apa, dari kisah itu kita bisa belajar, senikmat apapun atau semua pengalaman spiritualitas yang kita dapatkan dari ritual-ritual keagamaan harus diterjemahkann dalam kehidupan sosial yang nyata.

Bila diruntut, proses perjalanan Isra; Mi’raj Nabi Muhammad, yakni “Kesedihan-Isra’-Mi’raj- Kembali ke Bumi – Hijrah”. Jika dibawa ke kehidupan kita, maka dalam menyikapi tantangan hidup kita perlu mencari (perjalanan), menaikkan derajat spiritualitas, kembali ke kehidupan nyata untuk melaksanakan tindakan sosial kemudian melaksanakan hijrah atau transformasi sosial.

*Ketua Bidang Pengembangan Konten & Penerbitan LTN NU Jepara, Pengasuh Santrenkarya Blingoh, Donorojo

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Muharram, Masjid Baitul Muttaqin Bulungan Santuni 20 Yatim Piatu

8 Agustus 2022 - 05:53 WIB

Harlah Unisnu Ke-31: Candradimuka Pemimpin Masa Depan Jepara

7 Agustus 2022 - 03:33 WIB

Ketua PBNU : Jangan Kiaikan Dukun, Kita Harus Selektif

4 Agustus 2022 - 02:37 WIB

Ilustrasi praktik perdukunan (@dukunsantet)

PCNU Jepara Lantik PRNU Guyangan II

2 Agustus 2022 - 05:28 WIB

NU Harus Lebih Peka Pada Rakyat Kecil

1 Agustus 2022 - 13:49 WIB

Malam Puncak Gebyar Muharram, MWC NU Kedung Gelar Doa Bersama

1 Agustus 2022 - 13:33 WIB

Trending di Hujjah Aswaja
%d blogger menyukai ini: