Menu

Mode Gelap
KH Ma’mun Adullah Hadziq Didorong Masuk Dewan Pembina RSI Sultan Hadlirin Wisuda UNISNU, Pesan Rais Aam PBNU : “Masa Depan NU Ada Di tangan Kalian” Riwayat Pesisir Utara, Pusat Penyebaran Islam di Pulau Jawa Fatayat Batealit Dorong UMKM Naik Kelas Guru: Antara Profesi dan Tuntunan 

Hujjah Aswaja · 29 Okt 2022 08:57 WIB ·

Sastra Hizib di Tengah Pergolakan Sejarah (1)


 Buku sastra Hizib yang ditulis oleh Murtadho Hadi. Perbesar

Buku sastra Hizib yang ditulis oleh Murtadho Hadi.

Oleh: Murtadho Hadi

nujepara.or.id- Di luar sastra yang “konvensional” dan “baku”, kalau mau jujur ternyata masih banyak dari sisi-sisi yang belum terungkap (dari bentuk-bentuk karya sastra) yang seandainya diselidiki ternyata nuansa sastranya sangat kental.

Salah satu sisi itu adalah “Sastra Hizib”. Yang menarik dari Sastra Hizib atau munajat para auliya  ini adalah ia tidak ada pretensi untuk dianggap sebagai karya sastra. Akan tetapi jika diteliti  lebih jauh  bayak sekali ” gagasan” dan nuansa sastra yg bisa dikaji sekaligus hikmah yang bisa dipetik.

Basis Epistemologi Sastra Hizib

Basis kerangka berpikir dari “Sastra Hizib” atau “Hizib” adalah ketika ruang-ruang historisitas manusia telah tertabiri oleh “tembok” yang begitu tebal, maka yang dibutuhkan adalah sebuah “lompatan”.

Jika tangan-tangan manusia (yang berlepotan hawa nafsu) telah mengalami “kebuntuan”, maka yang dibutuhkan adalah “karya Tuhan”  (bahasa santrinya : “fi majaaril-haq”) yang termanifestasi melalui pertolongan dari hamba-hamba pilihan.

Kata “tembok” di sini bisa berarti “arus politik” , saluran aspirasi yang buntu, “hantu” dan “gondoruwo” di wilayah kekuasaan, atau bisa bermakna “got-got kebudayaan” dari sampah peradaban.

“Sastra Hizib” adalah sebuah cara atau setrategi untuk tidak terlalu mempercayai istitusi para “srigala”.

Hizib Nashr

Sekedar mengingat, Syaikh Abi Hasan As-Syadzily ketika menyusun Hizib Nashr, dengan menggunakan kalimat yang sekilas “ber-aku-Engkau” kepada Tuhan sebenarnya adalah dalam konteks historisitas manusia.

Hizib Nashr lahir dalam situasi ketika nilai nilai kemanusiaan hendak dikebiri dan “kabut kebejatan” telah ditiupkan “napas-napas kotor srigala”, sementara mendung dan kegelapan benar-benar ditebar penguasa yang zalim.

Juga, “Hizib Nashr” ditulis ketika para pembawa panji-panji keluhuran berada pada titik limit yang mengkhawatirkan sehingga keadaan benar-benar lemah dan dilemahkan. Itulah kiranya, bisa dimengerti bahwa tidak ada (belum didengar) munajat yang paling dahsyat dengan sebuah “pernyataan” dan “kecaman” yang keras selain Hizib Nashr.

Sejarah selanjutnya mencatat bahwa Hizib Nashr telah turut mempunyai andil besar dalam membangkitkan semangat perjuangan para pejuang di belahan bumi yang berpenduduk muslim. Melalu para Mursyid (pembimbing spiritual) tarekat Syadziliyah dan para Kyai, Hizib Nashr itu tersebar.

Di Indonesia sendiri ketika tentara sekutu membombardir Indonesian dari darat, laut dannudara, para ulama pun mengeluarkan apa yang kita kenal dengan “Resolusi Jihad” dan membentuk pasukan “Hizbullah”. Dan memang semata, di antara Hizib yang paling banyak dibaca para kyai adalah Hizib Nashr.

Sampai sekarang, kemampuan “bertahan” dan “menyerang”  bahkan “mengimbangi” dari orang-orang kampung yang bersenjat manual terhadap pasukan (sekutu) dengan gempuran lewat laut, darat dan udara serta bersenjatakan canggih itu pun tetap sebuah misteri.

Hizib Yang Lembut

Dalam ulasan sederhana ini, akan diketengahkan pula munajatnya Syaikh Ibnu Atho’illah As-Sakandary dengan bahasa yang lembut, dalam, dan subtil tentang perjalanan seorang hamba yang mencari jalan “wushul” (sampai) untuk berakrab-akrab dengan Allah, melalui sebuah hujjah (dalil) dalam pemaknaan hubungan antara hamba dan Pencipta, mengenal af’al dan sifat-sifat Allah.

Dan, yang menjadi puncak dari munajat itu adalah ketika Syaikh Ibnu Atho’illah mengenalkan bagaimana “semestinya” seorang hamba membangun “adab” dan “Tata Krama” di hadapan Allah (yang merupakan khas akhlak para wali Allah).

Secara umum dalam kajian sederhana ini dipetik dari beberapa kitab, antara lain : Sirrul-Jalil (Karya Syaikh. Abi Hasan As-Syadzily),: Hikam (Syaikh Ibnu Atho’illah As-Sakandary) berikut Syarahnya Syaikh Syarqowy dan Syaikh Ibrahim Ar-Rundy, dan untaian-untaian dalam tradisi sastra lisan yang dipetik dari kompedium Diwan Syafi’i (yang sebagian telah dihapal para santri dan kyai) dan Sirojut-Tholibin (karya Syaikh Ihsan bin Dahlan, Jampes).

Meski demikian, lazimnya sebuah munajat (lebih-lebih Hizib Nashr) terkadang melaui mata rantai sanad dan sampai kepada kita dengan lafal-lafal yang tidak utuh (ada pengurangan dan penambahan), maka dalam hal sebagai bahan pertimbangan saya gunakan acuan dari hizib yang saya peroleh dari saudara Ahmad Hormuz Bin Arif (cucu Kyai Mustaqim PETA Tulungagung) dan Hizib dari Murobbi Rubina Abuya Dimyathi al-Bantany (Mursyid Syadziliyah di Cidahu Pandeglang Banten).

Munajat Syaikh Ibnu Atho’illah As-Sakandary :

1. Si Faqir Yang Kaya

Aduhai Tuhanku!

Sayalah itu Si Faqir dalam kekayaanku

Lalu, bagaimanakah aku tidak Faqir

dalam kefakiranku?

Aduhai Tuhanku!

Aku begitu bodoh dalam pengetahuanku.

Bagaimanakah aku tidak bodoh

dalam ketololanku?

2. Si Arif Billah

Aduhai Tuhanku!

Engkau mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaanMu

(: duka senang, kaya miskin, dan cepatnya Engkau mewujudkan ketetapanMu!)

Keduanya telah mencegah hamba-hamba Mu yang arif

untuk bergeming pada pemberian.

Begitupun tak pernah berputus asa pada bencana

(Karena keduanya bersumber dariMu semata).

3.Setelah Terbukti

Aduhai Tuhanku!

Sudah menjadi tabiatku aku condong pada kebiasaan buruk.

Dan sudah merupakan sifatMu

Engkau begitu pemurah.

Kau lebur dosa-dosaku dan Kau terima alasanku.

Aduhai Tuhanku!

Engkau melekatkan sifat kepada DzatMu

Dengan kelembutan dan kasih sayang

Jauh sebelum “nyata benar” kelemahanku.

Apakah engkau akan mencegah kelembutan

Dan kasih sayangMu

Setelah “terbukti benar” kelemahanku? (Bersambung).

(Murtadho Hadi, Wakil Ketua PC LTN NU Jepara dan Penulis buku)

Artikel ini telah dibaca 207 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

YPM NU Jepara Berhasil Borong Tropy dalam Ajang Festival Aswaja Tingkat Provinsi

5 Desember 2022 - 12:02 WIB

Peduli Cianjur, Pengurus Ranting NU Tahunan Galang Dana untuk Korban Gempa

4 Desember 2022 - 11:53 WIB

Rakernas Lesbumi NU Ke-V, Ketum PBNU: Mari Membangun Narasi sebagai Strategi

3 Desember 2022 - 03:33 WIB

KH Ma’mun Adullah Hadziq Didorong Masuk Dewan Pembina RSI Sultan Hadlirin

1 Desember 2022 - 04:27 WIB

Penjabat Bupati Jepara Edy Supriyanta (baju putih) berbincang dengan salah seorang pasien yang berobat di RSI Sultan Hadlirin, Rabu (30/11/2022).

Wisuda UNISNU, Pesan Rais Aam PBNU : “Masa Depan NU Ada Di tangan Kalian”

30 November 2022 - 03:08 WIB

Riwayat Pesisir Utara, Pusat Penyebaran Islam di Pulau Jawa

29 November 2022 - 00:16 WIB

Kota Pelabuhan Jepara tahun 1600-an (Sumber KITLV)
Trending di Islam Nusantara
%d blogger menyukai ini: