Menu

Mode Gelap
Majlis “kopi” an-Nahdhoh Balekambang Salurkan Ribuan Paket Daging Kurban untuk Warga Jepara dan Kudus Membumikan Tasawuf, Jatman Idaroh Ghusniyah Kecamatan Tahunan Gelar Ngaji Bareng Kitab Minahus Saniyah UNISNU Jepara Luluskan 425 Wisudawan, Rektor Tekankan Intelektualitas dan Akhlaqul Karimah Lantik IPNU-IPPNU Ranting Banjaragung, Ketua MWC NU Bangsri: Fokus Kaderisasi Sejarah NU dan Klaim Para Habaib

Headline · 31 Mei 2024 14:26 WIB ·

Sejarah NU dan Klaim Para Habaib


 Bendera NU. Perbesar

Bendera NU.

Oleh: Rijal Mumazziq, Z

nujepara.or.id- Viralnya beberapa ceramah sebagian habaib yang menceritakan sejarah NU dari sudut pandang yang berbeda membuat sebagian warga Nahdliyin gerah. Pasalnya, klaim para habaib tersebut seperti mendistorsi (merusak) sejarah berdirinya NU. Dalam sebuah video disebutkan bahwa Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdlor Bondowoso adalah pencetus, penggagas, dan pencipta Nahdlatul Ulama.

Hanya saja, klaimnya, waktu itu keturunan asing dilarang membuat firqah dan perkumpulan (oh ya?), hingga pada akhirnya para habaib berkumpul bermusyawarah dan menunjuk KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar pertama. Itupun, kata habib ini, beliau menolak hingga 3 kali sampai akhirnya menerima penunjukan itu.

Di video lain, ada Habib Bahar bin Smith, yang dalam sebuah video beliau mengklaim bahwa NU berdiri atas restu dari 5 orang habaib. Yaitu Habib Abdullah bin Ali al-Haddad, Habib Abubakar bin Muhsin Assegaf (Bangil), Habib Husein al-Haddad(r)[?] Jombang, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik, dan Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf. Di video ini, kayaknya, Habib Bahar menjelaskan dalam ruang persidangan. Wallahu A’lam.

Sebagai warga NU izinkan saya meragukan klaim begini, kecuali memang ada data yang valid. Bagi saya klaim-klaim model begini perlu dikritisi. Jika benar, silahkan. Jika tidak benar maka menimbulkan masalah.

Mengapa? Habaib itu punya pengikut fanatik, yang kadangkala klaim klaim informasi tidak berdasar darinya dijadikan sebagai “kebenaran” oleh muhibbinnya yang lantas menggetoktularkannya kepada sesama muhibbin maupun seterusnya melalui cerita tutur. Yang andaikan kita bantah dengan data, misalnya, malah dituduh anti habaib. Repot hahahaha

Saya orang NU dan tidak pernah mengomentari soal Rabithah Alawiyah karena saya tidak mau mencampuri urusan ormas ini dan saya juga nggak tahu jerohannya maupun sejarahnya. Walaupun sejak dulu hingga saat ini ada banyak anggota Rabithah Alawiyah yang juga aktif di struktural NU. Ini fakta lain, tentu.

Juga ada fakta bahwa Majalah Suara Nahdlatul Ulama, berbahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon. Pada edisi tahun 1347 H, Majalah tersebut merekam pertemuan antara Rabithah Alawiyah dengan Nahdlatul Ulama. Diberi judul,

“Pepanggehan Ingkang Mulya Antawis Rabithah Alawiyah kaliyan Nahdlatul Ulama”. Hubungan keduanya sifatnya relasional. Saling membantu.

Sebagaimana terekam pada Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) edisi No.2 1347 H Tahun Kedua, pertemuan tersebut dilakukan di Kantor PBNU (dulu disebut Hoofdbestuur NO/ HBNO) di Bubutan, Surabaya. Hadir belasan habaib yang menjadi pengurus Rabithah Alawiyah pada pertemuan tersebut. Di antaranya adalah:

1. Sayyid Alwi bin Thohir al-Haddad dari Bogor

2. Syekh Abdurrahman bin Umar Jawaz dari Betawi

3. Sayyid Alwi bin Muhammad al-Mukhdar dari Bondowoso, serta beserta belasan habaib lainnya dari Surabaya.

Sementara itu, dari pengurus NU sendiri ada 18 kiai yang menyambutnya. Di antaranya adalah:

1. KH. Abdul Wahab Chasbullah,

2. KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz

3. Kiai Abdul Shiddiq dari Surabaya.

Kiai Wahab selaku tuan rumah menyambut gembira atas kedatangan para pengurus Rabithah Alawiyah tersebut. Kedatangan para “saddatunal alawiyin” merupakan anugerah dari Allah yang patut disyukuri. Pada kesempatan itu pula, Kiai Wahab memaparkan tentang tujuan dan kiprah yang dilakukan oleh NU secara panjang lebar.

Data di atas bisa selengkapnya dibaca di status FB-nya Mas Ihlam Zihaq beberapa waktu lalu.

***

Oke. Bagaimana dengan di daerah?

NU di Wonosobo, di awal pendiriannya, para kiai bersama beberapa habaib merintisnya. Di antaranya Habib Ibrahim bin Ali Baabud dengan dibantu Habib Muhsin bin Ibrahim sebagai Katibnya. Sedangkan dalam jajaran Tanfidziah, ditunjuk Atmodimejo sebagai ketua dan Habib Abu Bakar Assegaf sebagai sekretaris. Belum ditemukan dokumen yang jelas tentang tanggal berdirinya NU di Wonosobo secara pasti, hanya beberapa keterangan yang perlu dikedepankan. Selengkapnya bisa dibaca di buku sejarah PCNU Wonosobo yang ditulis oleh Mas Edi Rohani Wonosobo dkk.

Di lain pihak, PCNU Jombang adalah salah satu PCNU pertama yang dibentuk pada tahun 1928. Rais Syuriahnya adalah KH. Anwar Alwy Paculgowang, Kakek dari KH. Anwar Manshur Lirboyo dan KH. Abdul Hakim Tebuireng (Rais Syuriah & Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur).

Sedangkan Mustasyar adalah Habib Muhsin Assegaf dan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Katib adalah KH. Ma’shum Aly (pengarang kitab Tasrif).

Fix. Ini fakta sejarah dengan dokumentasi yang jelas di zamannya. Berdasarkan arsip media internal NU.

****

Tapi jika ada habib yang tiba-tiba ceramah begini begitu soal pendirian NU, sembari menambahkan atau mengklaim informasi sebagaimana ada di ceramah habib fulan dan di potongan keterangan lisan Habib Bahar bin Smith, silahkan, tapi ya kudu valid lah. Berbasis data. Jangan klaim. Walaupun yang bicara habib, jika keterangannya kurang valid, yang kudu dikritisilah.

Sejujurnya saya baru dengar soal klaim-klaim yang disampaikan dua habib ini. Di buku paling tua yang membahas serpihan sejarah pendirian NU, “Sedjarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar” yang disunting Aboebakar Atjeh, terbitan 1957, tidak ada keterangan sharih soal begitu. Demikian juga dengan buku klasik yang ditulis oleh Solichin Salam melalui “KH. Hasjim Asj’ari: Ulama Besar Indonesia (1963), juga karya KH. Saifuddin Zuhri, “Mbah Wahab Chasbullah: Kiai Nasionalis Pendiri NU” (1971) dan “Guruku Orang-orang dari Pesantren” (1974) maupun “Berangkat dari Pesantren” (1986). Juga karya KH. Aziz Masyhuri Denanyar, “KH. Bisri Sjansuri: Cita-Cita dan Pengabdiannya” (1983). Klaim-klaim di atas tidak kita jumpai. Termasuk dalam “Karisma Ulama: Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU” yang disunting oleh Saifullah Ma’shum (1998).

Andaikata fakta yang disebutkan 2 habib muda di atas ada, tentu sudah disinggung dan ditulis di berbagai buku di atas. Faktanya? Saya memilih mempercayai tulisan orang dalam. Termasuk mempercayai keterangan dan pidato yang disampaikan oleh KH. As’ad Syamsul Arifin, terkait detik-detik berdirinya NU dan peran beliau sebagai mediator. Termasuk yang telah termuat dalam berbagai versi biografi Kiai As’ad.

Rampung? Belum. Salah satu buku yang mengupas sejarah NU adalah “Pertumbuhan dan Perkembangan NU” (Solo: Jatayu 1985) karya Drs. H. Choirul Anam, yang menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian historis dan ideologis NU, bisa dijadikan sebagai salah satu pijakan memahami dinamika pendirian NU. Termasuk para tokoh kuncinya.

Buku Babon Sejarah NU ini bisa dijadikan pegangan awal mengkaji alur kesejarahan ormas ini, biar tidak linglung sejarah.

Kini, sudah paham kan PENTINGNYA MENULIS SEJARAH? Sangat penting, agar terhindar dari pembelokan narasi sejarah. Juga terhindar dari klaim-klaim yang diragukan validitasnya.

Dalam hal kajian sejarah ini, saya tidak ikut-ikutan polemik soal nasab antara kubu Kiai Imad dengan habaib dan pendukungnya. Saya hanya melindungi narasi kesejarahan NU.

Memang agak repot jika ada informasi terkait sejarah yang belum jelas dan valid, lantas dibisikkan kepada kiai atau habib, dan beliau menyampaikan kepada para pengikutnya dalam ceramahnya. Alhasil muhibbin/pecintanya menganggapnya sebagai bagian dari informasi sejarah yang valid. Bahkan tidak berani mempertanyakan narasi kesejarahan tersebut atas nama takzim….

Blaen wes… Blaen…

Jangan lupa, saya selalu curiga dengan narasi lisan maupun tulisan dari sesuatu yang menggunakan judul dramatis seperti “Sejarah yang Dilupakan”, “Fakta sejarah yang ditutupi”, “Ternyata begini sejarah sebenarnya”, dll….

Kalau tidak dikaji secara kritis, saya khawatir lama lama bakal ada klaim kalau yang sebenarnya merintis NU itu Charlie Chaplin, lantaran pelawak Inggris itu pernah berkunjung ke Garut.

(Dikutip dari akun FB @ rijal mumazziq z)

Artikel ini telah dibaca 98 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Majlis “kopi” an-Nahdhoh Balekambang Salurkan Ribuan Paket Daging Kurban untuk Warga Jepara dan Kudus

22 Juni 2024 - 19:30 WIB

Penyembelihan hewan kurban Idul Adha 1445 H di Majlis an-Nahdhoh, Jepara

Alhamdulillah, Pengecoran Lantai 3 RSU Aseh Rampung, Rais Syuriah: Kita Punya Tanggung Jawab Organisasi dan Moral Agar Rumah Sakit Ini Bisa Segera Operasional

22 Juni 2024 - 19:04 WIB

Kondisi lantai 3 RSU Aseh setelah dilakukan pengecoran. Hingga Sabtu (22/6) ini masih dilakukan penyiraman di titik pengecoran itu.

PC Fatayat NU, Perempuan-perempuan Tangguh Dibalik Pembangunan RSU Aseh Jepara

21 Juni 2024 - 20:31 WIB

Forum Lingkar Diskusi Nilai Hijrah (Li Dinihi): Mencari Sosok Pemimpin Jepara

21 Juni 2024 - 20:02 WIB

Membumikan Tasawuf, Jatman Idaroh Ghusniyah Kecamatan Tahunan Gelar Ngaji Bareng Kitab Minahus Saniyah

17 Juni 2024 - 08:56 WIB

Ngaji Bareng Kitab Minahus Saniyah yang digelar di pondok pesantren An Nur Mangunan, Sabtu (15/6/2024) dihadiri sejumlah Pengurus MWC NU Tahunan, Rois Syuriyah Ranting, dan ratusan santri.

The Root of The Peak dalam Konsep Keilmuan

7 Juni 2024 - 11:08 WIB

Trending di Headline