Menu

Mode Gelap
Kyai Mukhammad Siroj: Sosok Pendidik, Pengabdi dan Teladan Sehidup Semati Sorban Kiai Hijau dan Tali Tambang, Ini Makna Logo Harlah Ke-102 NU, Bisa Diunduh di Sini Jadwal Puasa Rajab 1446 H/2025, Beserta Niat dan Caranya Mahasiswa PAI UNISNU ikuti Kuliah Komparasi Aswaja Komunitas Muslim di Negeri Beruang Merah, bareng Dr. Amy dari PCINU Federasi Rusia Tanggap Bencana, PCNU Jepara Gelar Rakor, Jalin Sinergi dengan Pemerintah dan Elemen Lainnya

Kabar · 8 Agu 2019 05:20 WIB ·

Sosmed, Media Paling Mudah untuk Berdakwah


 Sosmed, Media Paling Mudah untuk Berdakwah Perbesar

Direktur NU Online, Savic memaparkan materi dalam Seminar Nasional yang diadakan Fakultas Dakwah Unisnu Prodi KPI. (Foto: NU Jepara)

nujepara.or.id – Sosial media (sosmed) merupakan salah satu media yang paling mudah bagi pemula untuk berdakwah (mengajak kebaikan). Hal itu dikemukakan Direktur NU Online, Savic Ali dalam Seminar Nasional “Dakwah Melalui Media Alternatif” yang berlangsung di Ruang Seminar Pascasarjana Unisnu Jepara, Rabu (7/8/2019) pagi.

Dalam kegiatan yang diikuti mahasiswa dan pelajar SMA sederajat itu Savic mengatakan untuk generasi milenial bisa memanfaatkan Instagram (IG) dengan membuat quote yang inspiratif dan yang baik-baik. “Quote adalah kalimat indah dan inspiratif untuk memengaruhi orang lain,” terang kader muda NU asal Pati, Jawa Tengah ini.

Dijelaskannya, quote-quote itu bisa bersumber dari alquran, hadist, petuah ulama, buku maupun dari seumber yang lain. Dengan menulis kutipan-kutipan tersebut ia berharap untuk menuliskannya dengan benar. “Sarana dan cara itu penting, tetapi yang lebih penting adalah tujuannya,” tandasnya.

Mengapa dengan medsos? Savic yang juga founder islami.co kesempatan itu bertanya kepada peserta tentang Gus Baha’. Secara serentak mereka (peserta, red.) dengan kompak menjawab mengenal sosok Gus tersebut yakni dari IG maupun Youtube. “Karena media sosial, medium yang lebih gampang berdakwah kepada khalayak,” lanjutnya.

Zaman dulu, lanjutnya jika ingin mengaji maka harus datang ke lokasi pengajian. Sekarang, dakwah lewat video dan sebagainya paparnya bertujuan untuk menjangkau orang tidak bisa berjumpa secara langsung. “Prinsip dakwah itu mengajak orang sebanyak mungkin. Karena dunia internet lebih mudah. Internet bisa menjangkau 1000 orang lebih mudah, apalagi instagram jangkauannya luas, “ lanjutnya lagi.

Karena itu kepada mahasiswa dakwah dan komunikasi pihaknya juga mengajak untuk mengembangkan audio visual. “Jurusan dakwah harus bisa dakwah dengan lisan dan tulisan. Kuliah di jurusan olahraga harus pandai olahraga. Anda kuliah di jurusan dakwah juga harus pandai dalam berdakwah,” sindirnya kepada peserta yang jadi mahasiswa dakwah.

Seminar yang digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) itu Savic didampingi mantan presenter TV, Ninok Hariyani.

Kesempatan itu, Ninok Hariyani menambahkan televisi merupakan salah satu media efektif namun saat ini penonton tivi semakin berkurang. Mengapa? karena menurut banyak riset lebih masyarakat lebih suka menggunakan media sosial.

Tiga medsos yang menurut Ninok yang paling banyak diakses adalah facebook, youtube, dan IG. “Saat ini memang format video yang banyak ditonton. Karena sudah zamannya,” jelas perempuan yang mukim di Semarang ini.

Meski medsos kian diminati SARA, hoaks, dan sejenisnya banyak bertebaran di media sosial tersebut. Makanya, founder Akademi Data itu mewanti-wanti agar generasi milenial bisa membentengi diri serta bisa membedakan info yang baik dan info yang tidak baik.

Terkait SARA dan hoaks, Savic Ali juga memaparkan pentingnya memahami literasi media. “Jangan percaya info yang hanya satu sumbernya. Hadis tingkatannya beda-beda ada mutawatir, dhaif, mursal dll. Santri punya informasi banyak tentang itu,” sebutnya.

Selain mengetahui sumber, yang patut diketahui adalah mengetahui dari sumber lain. “Ada narasumbernya tidak. Ada penulisnya tidak. Maka jika ada broadcast WA ada sebuah informasi tapi tidak ada penulisnya sama seperti hadits tanpa perawi,” tegasnya.

Seminar nasional yang berlangsung hingga siang hari itu menarik perhatian peserta karena dipimpin Anik Hikmawati, host dari mahasiswa KPI Unisnu Jepara. Selain kegiatan dilaksanakan sebagaimana talkshow juga meriahkan penampilan musik akustik mahasiswa Unisnu.

Di akhir acara panitia memberikan kenang-kenangan berupa buku kepada penanya. Juga memberikan cenderamata untuk kedua narasumber. (ip)

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Harlah NU dan Haul Gus Dur Digelar Bersama, PCNU Jepara Ajak Teladani Para Pejuang NU

16 Januari 2025 - 07:32 WIB

IPNU-IPPNU Ranting Pekalongan Gelar Festival Rebana Tradisional Ke- 2, Ini Daftar Juaranya

11 Januari 2025 - 23:52 WIB

Sorban Kiai Hijau dan Tali Tambang, Ini Makna Logo Harlah Ke-102 NU, Bisa Diunduh di Sini

8 Januari 2025 - 06:11 WIB

Logo Harlah Ke-102 NU.

Jadwal Puasa Rajab 1446 H/2025, Beserta Niat dan Caranya

31 Desember 2024 - 07:14 WIB

ILUSTRASI proses rukyat untuk menentukan awal bulan Rajab.

Mahasiswa PAI UNISNU ikuti Kuliah Komparasi Aswaja Komunitas Muslim di Negeri Beruang Merah, bareng Dr. Amy dari PCINU Federasi Rusia

13 Desember 2024 - 10:01 WIB

Tanggap Bencana, PCNU Jepara Gelar Rakor, Jalin Sinergi dengan Pemerintah dan Elemen Lainnya

9 Desember 2024 - 22:41 WIB

Jajaran NU - Peduli Bencana PCNU Jepara menggelar rakor seiring potensi terjadinya bencana imbas hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jepara dalam beberapa hari terakhir.
Trending di Hujjah Aswaja