Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Hujjah Aswaja · 16 Jul 2022 12:50 WIB ·

Suluk Mantingan: Membedah Makna “Serat Kalatidha” Karya Ronggowarsito


 Ilustrasi Seat Kalathida (Foto: Mr. Blangkon) Perbesar

Ilustrasi Seat Kalathida (Foto: Mr. Blangkon)

nujepara.or.id– Membedah karya-karya Ronggowarsito memang tidak pernah ada habisnya. Pujangga besar tanah Jawa dari Keraton Surakarta ini tercatat mempunyai 56 karya sastra. Salah satu Masterpiece Ronggowarsito adalah Serat Kalatidha.

Forum diskusi “Suluk Mantingan” yang rutin digelar PC Lesbumi Jepara tiap selapanan, atau sebulan sekali pada saat padang bulan, kali ini mengangkat tema “Nyilem ing Makna Serat Kalatidha” dengan menghadirkan budayawan, sastrawan, dan seorang pujangga dari Jepara, Ki Soleh Ronggo Warsito.

Bertempat di paseban Mantingan, Ki Soleh Ronggo Warsito menyampaikan bahwa Serat Kalatida merupakan Masterpiece dari karya-karya besar dari sang pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita.

“Di antara sekian banyak karya-karya itu tiga diantaranya yang merupakan Masterpiece dari karya beliau dan dikenal luas masyarakat sebagai Jangka Ranggawarsita adalah Serat Sabda Pranawa, Serat Jakalodhang, dan Serat Kalatidha”, terang Ki Soleh.

Ki Soleh menerangkan bahwa sebenarnya makna yang benar dari serat kalatida bukanlah jaman edan, akan tetapi jaman keragu-raguan. Karena kata “tidha” dalam Bahasa jawa bermakna ragu-ragu. Inti dari serat kalatidha yang berjumlah 12 bait ada di bait ketujuh:

VII
Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada.

Ranggawarsita mengisyaratkan bahwa hidup di zaman edan ini memang penuh dengan kebimbangan. Susah menentukan sikap. Hendak mengikuti arus zaman, kita jadi ikut tidak waras, tetapi jika tidak mengikuti, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, yang kita dapat hanyalah kelaparan. Walaupun begitu, ini sudah jadi kehendak Tuhan. Di zaman ini, seuntung apapun orang yang lupa akan Tuhannya dan terjebak dalam nafsu duniawi, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat akan Tuhan dan kematian.

Menutup ulasannya Ki Soleh berpesan kepada para hadirin untuk tetap menjaga wejangan-wejangan leluhur agar kita tidak terjebak kepada jaman yang sudah semakin tidak waras ini. Oleh karena bagaimanapun nampaknya serat kalatida masih sangat relevan di era sekarang, maka hendaklah kita selalu “eling lan waspada”. (ua/lesbumi)

Artikel ini telah dibaca 59 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Memakna Budaya Merdeka

14 Agustus 2022 - 03:20 WIB

Perkemahan Satu Hari : 
Kecerahan Anak Yang Mulai “Bangkit”

14 Agustus 2022 - 02:02 WIB

Wadahi Para Penghafal Alquran, Ini Sinergi Lazisnu dan JQH 

12 Agustus 2022 - 07:16 WIB

Dukungan Ratu Kalinyamat Pahlawan Nasional Mengalir Dari KRI Dewaruci

12 Agustus 2022 - 06:41 WIB

UNISNU Harlah ke-31, Berdzikir bersama Al Khidmah dan Hadirkan KH. Marzuki Mustamar

10 Agustus 2022 - 06:48 WIB

Sembilan Nilai Warisan Gus Dur, Apa Saja?  

9 Agustus 2022 - 01:37 WIB

Trending di Hujjah Aswaja
%d blogger menyukai ini: