nujepara.or.id – Di Ramadan 1447 H ini, ketika ayat-ayat suci kembali mengalun di lisan kita, pernahkah hati benar-benar bergetar dalam batin saat membaca firman-Nya:
“Lahu ma fis-samawati wal-ardh…” (QS. Al-Baqarah: 116–117)
Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Bukan hanya gunung dan bintang, bukan hanya yang tampak dan teraba—bahkan napas yang keluar-masuk dalam dada ini pun bukan kuasa kita.
Dalam perenungan yang dalam, ayat ini seolah bertransformasi menjadi sebuah simfoni ketundukan. Saya mencoba meresapi ‘inspirasi ilahi’ makna ‘qānitūn‘ ini – ketundukan mutlak alam semesta- ke dalam rasa bahasa yang lebih dekat dengan akar budaya kita. Sebuah ‘mantra batin’ yang menyatukan dzikir langit dan sastra bumi.
Manunggal Ing Karsa
Mengakui kepemilikan Tuhan sejatinya adalah meluruhkan ego. Dalam bahasa batin, ia berbisik:
“Ing dhuwur langit, ing ngisor bumi, kabeh kagungan-Nira. Tan ana kang ucul, tan ana kang mbalela. Sedaya sumungku, manembah ing sajroning sabda ‘Kun’.”
Seketika, batin menyahut dalam kepasrahan:
“Segala yang tampak, segala yang senyap, langit merunduk, bumi bersujud. Tiada aku, tiada makhluk, hanya Engkau yang Mutlak. Aku tunduk dalam arus Kehendak-Mu.”
Namun, di balik ketundukan itu, ada daya yang dahsyat. Ketika kita benar-benar “nol” dan tunduk, saat itulah otoritas ‘Kun Fayakun’ bekerja. Sang Pencipta Keajaiban (Badi’) tidak menciptakan dari sesuatu yang ada, melainkan mewujudkan dari ketiadaan.
“Gusti Ingkang Murba ing Tanpa Rupa… Satitahing karsa, sakersaning lathi; ‘Kun’ sabda-Mu, ‘Fayakun’ dadi-Mu. Sakedhep netra, jagat saisine wujud karsa.”
Satu Napas, Satu Kehendak
Jika boleh saya sarikan dalam satu tarikan napas kesadaran, intinya hanya satu:
“Kagungane Gusti, Karsane Gusti, Ya Badi’ Yo Dadi!”.
(Pemiliknya Tuhan, Kehendaknya Tuhan, Terwujudlah!).
Baca Juga : Melipat Jarak, Saat Timur dan Barat Berdenyut di Dalam Dada
Saat menarik napas, saya sadari kepemilikan-Nya.
Saat menahan napas, saya rasakan ketundukan seluruh atom raga saya.
Dan saat menghembus napas, saya biarkan kehendak-Nya yang mewujud, bukan ambisi saya.
Sebuah irama simfoni ketundukan mengalun meluruhkan ego, rasa dan karsa.
‘Mantra’ ini bukan sekadar kata, tapi sebuah frekuensi. Sebuah cara untuk pulang ke titik nol, di mana hanya ada Dia, dan kita hanyalah saksi atas keajaiban-Nya yang tak kunjung usai. ‘Mantra’ ini bukanlah sebuah permohonan, melainkan penyelarasan frekuensi.
Saat kita mengakui bahwa diri ini adalah milik-Nya (Lahu) dan tunduk pada irama-Nya (Qanitun), maka daya cipta-Nya (Kun) akan mengalir melalui laku hidup kita.
Mugi-mugi dadi pepadhang.
“Sapa sing temen, tinemu. Sapa sing pasrah, diparingi.”
(Siapa yang sungguh-sungguh, akan menemukan. Siapa yang pasrah total, akan diberi.)
Rahayu.
Segala puji bagi Sang Pemilik Sabda.
Selasa, 24 Pebruari 2026
6 Ramadan 1447 H
@Ula – Loji Gunung Donoroso
Note :
{ وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدࣰاۗ سُبۡحَـٰنَهُۥۖ بَل لَّهُۥ مَا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ كُلࣱّ لَّهُۥ قَـٰنِتُونَ (116) بَدِیعُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَإِذَا قَضَىٰۤ أَمۡرࣰا فَإِنَّمَا یَقُولُ لَهُۥ كُن فَیَكُونُ (117) }
[Surat Al-Baqarah: 116-117]