Menu ✖

Mode Gelap
Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

Kabar · 16 Agu 2026 09:07 WIB ·

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa


 Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi 'Mesuh Sarira' dalam Falsafah Jawa Perbesar

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi 'Mesuh Sarira' dalam Falsafah Jawa

NU JEPARA – Pernahkah merasa seiring karier menanjak atau kedewasaan batin berkembang, lingkaran pergaulan justru mengecil? Grup perkawanan mendadak hening, dan ruang personal terasa makin sepi.

Fenomena ini sering dirangkum dalam pepatah “it’s lonely at the top” (semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berembus). Semakin tinggi posisi seseorang—baik secara spiritual, sosial, maupun politik—interaksi sosialnya secara alami menyusut.

Apakah kita sombong, atau kita ditinggalkan? Tidak keduanya. Secara psikologis dan spiritual, kita sedang mengalami proses pemurnian diri.

Executive Loneliness & Konsep Mesuh Sarira

Psikologi mengenal ‘executive loneliness’ —kesepian eksekutif akibat beban tanggung jawab yang tak bisa dibagikan sembarangan. Falsafah Jawa memandangnya sebagai ‘mesuh sarira’ (menggembleng batin).

Keheningan di puncak bukanlah bentuk isolasi yang menyiksa, melainkan kawah candradimuka agar jiwa tidak gampang goyah oleh angin kepalsuan.

Membaca ‘Bithanah’ & Owah Gingsir-nya Manusia

Di posisi tinggi, interaksi sosial rentan berubah menjadi transaksional. Al-Qur’an memperingatkan ketatnya memilih ‘bithanah’ (orang dalam), senada dengan pitutur Jawa tentang sifat dunia yang ‘owah gingsir’ (mudah bergeser dan berubah).

Membatasi lingkaran terdekat (‘inner circle’) adalah bentuk pertahanan diri yang rasional, bukan kesombongan.

Dari Approval Seeking menuju Manunggal

Secara psikologis, kita belajar melepas ‘approval seeking’ (ketergantungan pada validasi dan likes orang lain).

Dalam keheningan, kita mencapai taraf ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe’ —sepi dari kepentingan pribadi dan sanjungan publik, namun tetap berdampak luas. Kesepian meluruh menjadi kesadaran Manunggal (terhubung erat dengan Sang Maha Pencipta).

Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh

Jangan gentar pada sunyinya puncak. Falsafah Jawa mengajarkan ‘sawiji’ (fokus), ‘greget’ (semangat batin), ‘sengguh’ (percaya diri tanpa sombong), dan ‘ora mingkuh’ (tidak pantang mundur).

Kita tidak sedang kehilangan kawan; hidup hanya sedang menyaringnya. Biarkan lingkaran pergaulan menyempit, asal batin meluas. Ukuran keberhasilan bukanlah seberapa ramai orang bertepuk tangan di sekeliling kita, melainkan seberapa damai jiwa saat berdiri sendiri di hadapan Gusti Kang Murbeng Dumadi. (*)

@Ula 3118 | Loji Gunung Donoroso

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

21 September 2026 - 12:08 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

18 September 2026 - 11:38 WIB

Trending di Kabar