Menu ✖

Mode Gelap
Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

Kabar · 16 Agu 2026 09:13 WIB ·

Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid


 Ula | Loji Gunung Donoroso Perbesar

Ula | Loji Gunung Donoroso

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Setiap kali bulan Rabiulawal atau musim Muludan tiba, Masjid dan Musholla kita riuh oleh gemuruh sholawat, harum hidangan syukuran, dan gema sholawat yang melintasi angkasa. Namun, di balik seremonial yang megah itu, izinkan sebuah pertanyaan yang paling jujur ini hinggap di benak kita bersama:

Jika hari ini Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ hadir di depan pintu rumah kita dan memperhatikan cara kita hidup sehari-hari, apakah beliau akan mengenali dirinya ada di dalam diri kita?

Al-Qur’an tidak memuji Nabi karena kekuatan pasukannya atau kemegahan hartanya. Allah memujinya karena satu hal: Keagungan Akhlaknya (‘Khuluk ‘Azhim’). Kebenaran ayat ini bukan sekadar sejarah 1.400 tahun lalu, melainkan sebuah standar pribadi yang seharusnya hidup di dalam detak jantung setiap kita yang mengaku mencintainya.

Cermin Diri: Di Manakah Posisi Akhlak Kita Hari Ini?

Pakar ilmu jiwa dan pimpinan modern boleh menggunakan istilah-istilah rumit untuk menggambarkan keagungan Nabi. Namun, mari kita tanggalkan sejenak istilah tebal itu dan bawa akhlak beliau ke dalam cermin pribadi kita masing-masing:

Ke dalam Dapur dan Rezeki Kita

Nabi dipanggil Al-Amin (Yang Terpercaya) jauh sebelum beliau mendirikan peradaban.

Mari bertanya pada diri sendiri: Ketika kita bekerja atau berbisnis hari ini, apakah ada hak orang lain yang kita serobot? Apakah lisan kita masih suka memanipulasi demi keuntungan pribadi? Cinta Nabi yang sejati tidak diukur dari seberapa keras sholawat kita di majelis, melainkan dari seberapa bersih rezeki yang kita bawa pulang untuk anak dan keluarga kita.

Ke dalam Rumah dan Hubungan Terdekat Kita

Istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha, menegaskan bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an itu sendiri—ia lembut, tidak pernah memukul, dan paling pemaaf.

Mari lihat ke dalam rumah kita: Apakah kita sosok yang santun di luar, namun menjadi “raja kecil” yang kasar, pemarah, dan menakutkan bagi keluarga sendiri? Sungguh aneh jika kita menangis merindukan Nabi di malam Maulid, namun esok harinya kita melukai hati pasangan atau menelantarkan anak-anak kita.

Ke dalam Lisan dan Jemari Kita di Media Sosial

Nabi adalah manusia yang paling dijaga lisannya, tidak pernah menyebar fitnah, dan selalu mendoakan kebaikan bagi orang yang menghujatnya.

Mari periksa media sosial kita: Apakah jemari kita masih gemar menyebar hoaks, mengetik komentar jahat, dan membenci sesama hanya karena beda pandangan politik atau organisasi? Jika lisan dan jemari kita masih dipenuhi racun kebencian, lantas sholawat macam apa yang sedang kita kirimkan kepada beliau?

Mengubah ‘Cinta Lisan’ Menjadi ‘Identitas Diri’

Panggung megah dan lantunan shalawat di bulan Maulid adalah ekspresi cinta yang indah. Namun, cinta yang dewasa tidak boleh berhenti sebagai pertunjukan.
Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ tidak membutuhkan pujian atau seremonial kita. Kitalah yang berdarah-darah membutuhkan akhlaknya agar jiwa kita tidak kerdil, tidak gampang membenci, dan tidak kehilangan arah di tengah krisis moral dunia hari ini.

Mulai detik ini, mari kita ubah cara memandang peringatan Maulid. Jangan lagi bertanya “Berapa kali kita hadir di majelis Maulid tahun ini?”, melainkan bertanyalah:

“Akhlak Nabi yang mana, yang mulai hari ini benar-benar hidup dalam perilaku kita?”

Sebab pada akhirnya, bukti paling sahih bahwa kita adalah pengikut Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ bukanlah seberapa lantang kita mengaku mencintainya melalui kehadiran kita di mimbar-mimbar sholawat, melainkan seberapa aman, tenang, dan dinaungi kebaikan orang-orang di sekitar kita saat berada di dekat kita.

Sholluu ‘alan Nabi…..

@Ula | Loji Gunung Donoroso

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

21 September 2026 - 12:08 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

18 September 2026 - 11:38 WIB

Trending di Kabar