NU JEPARA – Mengapa kita hobi berpaling dari teguran Ilahi?
“Barangsiapa yang berpaling dari Dzikr (peringatan) yang diturunkan oleh Ar-Rahmān, ia sedang mematikan sensor spiritual dalam dirinya. Akibatnya, ia tidak lagi butuh setan untuk menyesatkannya, sebab dirinya sendiri telah mengambil peran sebagai penghalang kebenaran.”
Di tengah hiruk-pikuk era digital, layar gawai kita tak pernah sepi dari pemberitahuan. Namun, pernahkah kita menyadari satu fenomena unik dalam psikologi manusia modern?
Kita sering kali secara sengaja mengabaikan panggilan atau pemicu peringatan dari orang yang paling menyayangi kita, hanya karena sedang enggan dinasihati atau enggan diusik rasa bersalahnya.
Fenomena “kabur dari kenyataan” ini sebenarnya bukanlah hal baru. Ia merupakan potret klasik tabiat manusia yang telah direkam secara presisi dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surah Asy-Syu’ara ayat 5.
Allah SWT berfirman bahwa setiap kali datang peringatan baru dari Ar-Rahmān (Yang Maha Pengasih), manusia cenderung mengambil sikap untuk berpaling (mu’ridhīn).
Rahmat yang Terabaikan
Ada pesan teologis yang sangat mendalam dari pemilihan nama Allah dalam ayat tersebut. Penurunan wahyu atau peringatan tidak disandarkan pada sifat Al-Muntaqim (Maha Pembalas) atau Al-Jabbār (Maha Perkasa), melainkan Ar-Rahmān.
Hal ini mengindikasikan bahwa setiap teguran Ilahi—baik yang hadir melalui lembaran ayat, nasihat sesama, maupun peristiwa kehidupan—hakikatnya adalah uluran tali penyelamat dari Yang Maha Pengasih agar hidup manusia tidak berujung pada kehancuran.
Sayangnya, bentuk pengabaian manusia hari ini bertransformasi menjadi sangat halus. Jika pada zaman dahulu penolakan terhadap kebenaran dilakukan secara konfrontatif, masyarakat modern melakukannya melalui mekanisme pertahanan diri berupa “distraksi”.
Begitu ada seruan kebaikan yang menyenggol nurani, kita dengan cepat mengalihkan perhatian, menyingkirkan pesan tersebut, dan memilih tenggelam dalam riuhnya hiburan layar gawai.
Menyembuhkan Penerima Pesan
Problem utamanya kerap bukan terletak pada keterbatasan informasi keagamaan. Dalam rangkaian surah yang sama, tepatnya pada ayat 210 hingga 212, Allah memberikan jaminan mutlak bahwa Al-Qur’an steril dari campur tangan atau distorsi setan. Teks dan keaslian wahyu terkunci rapat di bawah penjagaan Ilahi.
Lantas, mengapa pesan yang begitu murni sering kali gagal mengubah perilaku? Jawabannya ada pada kondisi penerima pesan itu sendiri. Ketika hati dipenuhi kesombongan, keangkuhan, dan kenyamanan dalam maksiat, sinyal petunjuk akan memantul tanpa pernah meresap ke dalam jiwa.
Setiap kali teguran hadir dalam heningnya malam atau di tengah musibah kecil, itu adalah penanda bahwa Allah belum lepas tangan atas hidup kita. Jangan biarkan hati kita memasuki “mode senyap” permanen hingga terhalang dari mendengar hakikat kebenaran.
Peringatan Ilahi hadir bukan untuk diabaikan, melainkan untuk menunjukkan jalan pulang.
@Ula 2605-210212 | Loji Gunung Donoroso











