Menu ✖

Mode Gelap
Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno Mau Sampai Kapan Ikut “Zaman Edan”?

Kabar · 24 Sep 2026 22:55 WIB ·

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU


 Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd Perbesar

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Oleh Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd*

NU JEPARA- Ada perjalanan yang selesai ketika seseorang menghadap Allah. Tetapi ada pula perjalanan yang justru terus dilanjutkan oleh generasi setelahnya. Begitulah kiranya cara membaca kehidupan K.H. Ahmad Fauzan, salah seorang ulama yang memiliki peran penting dalam perkembangan Nahdlatul Ulama di Jepara.

Beliau telah wafat lebih dari setengah abad yang lalu, tepatnya pada 17 Mei 1972, tetapi nama, pemikiran, pengabdian, karya, dan perjuangannya masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat Jepara.

Beliau dimakamkan di Permakaman Islam Suromoyo, Bangsri, Jepara, tempat yang setiap tahun menjadi salah satu titik penting untuk mengenang perjuangan beliau.

Pada Jumat, 25 September 2026, keluarga, para santri, warga Nahdliyin, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum akan kembali mengenang beliau dalam rangka Haul ke-54 K.H. Ahmad Fauzan.

Salah satu rangkaian kegiatan yang memiliki makna khusus adalah ziarah bersama ke makam K.H. Ahmad Fauzan di Suromoyo, Bangsri, pada pukul 15.30 WIB, setelah salat Ashar.
Ziarah bukan sekadar datang ke makam.

Ziarah adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menundukkan kepala, mendoakan orang yang telah mendahului kita, sekaligus bertanya kepada diri sendiri, Apa yang sudah kita lakukan untuk meneruskan perjuangan para ulama ?

Dari Jepara, Menempuh Jalan Panjang Mencari Ilmu

K.H. Ahmad Fauzan lahir di Mayong, Jepara, pada tahun 1905 dari pasangan K.H. Abdur Rasul dan Hj. Thohiroh. Perjalanan keilmuannya membawa beliau sampai ke Tanah Suci Makkah dan Madinah.

Sepulang dari Tanah Suci sekitar tahun 1926, beliau tidak langsung memilih kehidupan yang hanya berorientasi pada diri sendiri. Beliau justru melanjutkan proses tabarrukan dan pengabdian kepada K.H. Sholeh Amin Tayu, seorang ulama penting yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan NU.

Selama kurang lebih lima tahun berada di Tayu, K.H. Ahmad Fauzan dipercaya menjadi lurah pondok. Amanah tersebut penting untuk dicatat karena menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau tidak lahir secara tiba-tiba. Kepemimpinan dibentuk melalui proses panjang, belajar, mengabdi, dipercaya, kemudian melayani.

Pada masa itulah beliau berhadapan dengan dinamika awal perkembangan Nahdlatul Ulama yang telah berdiri pada 1926. NU bukan hanya dipahami sebagai sebuah organisasi, tetapi sebagai ikhtiar untuk menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan kepada masyarakat.

Jejak Penting dalam Sejarah NU Jepara

Salah satu hal yang menjadikan K.H. Ahmad Fauzan penting dalam sejarah NU Jepara adalah keterlibatannya dalam struktur awal organisasi tersebut. Penelitian sejarah mencatat bahwa Risalah Muktamar NU di Magelang tahun 1939 mencantumkan delegasi NU Cabang Jepara.

Dalam dokumen tersebut, K.H. Ahmad Fauzan tercatat sebagai unsur Syuriyah, sedangkan K.H. Abdur Rosyid sebagai unsur Tanfidziyah. Data ini menjadi salah satu bukti penting bahwa pada akhir dekade 1930-an struktur NU di Jepara telah terbentuk dan menjalankan aktivitas organisasi.
Posisi Syuriyah bukan sekadar jabatan administratif.

Pada masa itu, ulama yang berada di jajaran Syuriyah memiliki tanggung jawab keilmuan dan moral untuk memberikan arah perjuangan organisasi. Karena itu, keterlibatan K.H. Ahmad Fauzan dalam NU perlu dibaca dalam konteks perjuangan ulama pada zamannya yaitu memelihara tradisi keagamaan, mendidik umat, memperkuat Aswaja, dan menjaga hubungan antara agama, masyarakat, dan kehidupan kebangsaan.

Sebuah penelitian akademik mengenai K.H. Ahmad Fauzan bahkan menyimpulkan bahwa perjuangan beliau dalam menegakkan paham Ahlussunnah wal Jamaah di Jepara dilakukan melalui jalur pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial-politik.

Dengan demikian, sejarah K.H. Ahmad Fauzan tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjalanan NU Jepara.

NU Tidak Hanya Dibangun dengan Struktur, tetapi dengan Pengabdian

Salah satu pelajaran penting dari kehidupan K.H. Ahmad Fauzan adalah bahwa organisasi keagamaan tidak akan kuat hanya karena memiliki struktur. Organisasi akan hidup ketika orang-orang di dalamnya memiliki ilmu, keikhlasan, loyalitas, akhlak, dan kesediaan untuk melayani umat.

K.H. Ahmad Fauzan menunjukkan hal tersebut melalui jalan hidupnya. Sekembalinya ke Jepara, beliau mengembangkan pendidikan. Bahkan sebelum menikah, dengan dukungan masyarakat, beliau telah mendirikan madrasah dengan sistem klasikal.

Pada zamannya, langkah ini merupakan bentuk pembaruan dalam pendidikan Islam karena pendidikan agama di masyarakat masih banyak berlangsung melalui pola pengajian tradisional seperti sorogan dan bandongan.

Beliau juga berdakwah dari kampung ke kampung. Pada masa berikutnya, khususnya sekitar dekade 1950-an, beliau dikenal aktif mengisi pengajian di berbagai desa di wilayah Jepara.

Hampir setiap hari beliau berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap ilmu agama.
Di sinilah kita menemukan wajah NU yang sesungguhnya. NU hadir karena ulama dekat dengan umat.

Bukan sekadar berbicara tentang masyarakat, tetapi datang kepada masyarakat. Bukan sekadar memiliki program, tetapi menjalankan pengabdian. Bukan sekadar membangun organisasi, tetapi membangun manusia.

Ketika Syair Menjadi Jalan Perjuangan

Menariknya, perjuangan K.H. Ahmad Fauzan tidak hanya dilakukan melalui mimbar, madrasah, organisasi, dan pengajian. Beliau juga menggunakan syair sebagai media dakwah.
Sejumlah karya beliau antara lain Syair Asmaul Husna, Syair Kenabian, Syair Akhlak Mulia, Syair Kebangsaan, dan Alfiyah al-Ghazaliyah, yang berisi ringkasan kandungan Ihya’ Ulumiddin.

Penelitian sejarah mencatat bahwa syair-syair tersebut menjadi media untuk menyampaikan pesan keagamaan, Aswaja, akhlak, dan kebangsaan kepada masyarakat.

Inilah kecerdasan dakwah K.H. Ahmad Fauzan. Beliau memahami bahwa ilmu harus diturunkan dari ruang-ruang keilmuan menuju bahasa yang dapat dipahami masyarakat. Ketika masyarakat lebih mudah mengingat syair daripada uraian panjang, maka syair digunakan.

Ketika masyarakat membutuhkan nasihat, nasihat diberikan. Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, madrasah dibangun. Ketika organisasi membutuhkan ulama, beliau mengambil bagian. Ketika umat membutuhkan bimbingan, beliau datang.

Dengan demikian, perjuangan beliau memiliki satu benang merah, ilmu harus menjadi pengabdian.

Pesan Kepemimpinan: Pemimpin Harus Jujur dan Adil

Di antara warisan syair K.H. Ahmad Fauzan terdapat pesan yang sangat relevan untuk direnungkan dalam konteks kepemimpinan NU hari ini. Dalam salah satu syair beliau terdapat do


Kulo miwah anak putu nyuwun rohmat # Cekap sandang pangan slamet dunyo akhirat
Langkung-langkung pimpinan kang wonten nginggil # Mugi Allah maringaken jujur adil
Ingkang leres mugi Allah netepaken # Ingkang lepat mugi Allah ngleresaken

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki kedudukan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang jujur dan adil. Kepemimpinan dalam pandangan yang tercermin dalam syair tersebut bukan semata-mata persoalan siapa yang berada di depan, tetapi karakter orang yang memimpin.

Pemimpin harus mampu menjaga amanah.
Pemimpin harus mampu berlaku adil.
Pemimpin harus memikirkan kebutuhan masyarakat.

Pemimpin harus memiliki orientasi keselamatan dunia dan akhirat.

Pesan ini terasa sangat relevan bagi perjalanan NU ke depan. Organisasi yang besar membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Sebab, jabatan dapat diberikan oleh organisasi, tetapi keteladanan harus dibangun oleh pribadi.

Mlakune NU Koyo Selender

K.H. Ahmad Fauzan juga memiliki syair yang menarik untuk direnungkan dalam konteks perjalanan NU, “Mlakune NU koyo selender…” NU diibaratkan seperti selender, alat berat yang terus bergerak menjalankan tugasnya. Metafora tersebut dapat dibaca sebagai pesan tentang keteguhan, kesinambungan, dan konsistensi peperjuangan.

NU telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Pergantian zaman, perubahan politik, perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga perubahan generasi tidak boleh membuat semangat khidmah kepada umat berhenti.

NU harus terus berjalan, tetapi berjalan bukan berarti kehilangan arah. Justru semakin panjang perjalanan, semakin penting arah perjuangan dijaga.

Di sinilah pesan K.H. Ahmad Fauzan terasa relevan: organisasi boleh berkembang, zaman boleh berubah, tetapi prinsip pengabdian kepada agama dan umat harus tetap menjadi fondasi.

Haul Bukan Sekadar Mengenang Masa Lalu

Karena itu, haul ke-54 K.H. Ahmad Fauzan tidak semestinya hanya dipahami sebagai agenda tahunan. Haul adalah ruang refleksi sejarah. Ketika kita datang ke Suromoyo pada Jumat sore, 25 September 2026, kita tidak hanya sedang mengunjungi tempat peristirahatan seorang ulama. Kita sedang membuka kembali sebuah lembaran sejarah.

Di tempat itu bersemayam seorang ulama yang pernah belajar jauh dari tanah kelahirannya, kembali mengabdi, mendidik masyarakat, membangun madrasah, berdakwah dari desa ke desa, mengambil bagian dalam perjalanan NU, dan menuangkan pesan keagamaan serta kebangsaan melalui karya-karyanya.

Makam itu seakan mengajarkan bahwa perjuangan manusia memang berakhir di dunia, tetapi nilai perjuangannya dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.

Dari Suromoyo untuk NU Masa Depan
Mungkin inilah pertanyaan paling penting yang perlu kita bawa pulang dari ziarah haul K.H. Ahmad Fauzan, jika K.H. Ahmad Fauzan masih hidup di tengah kita hari ini, pesan apa yang akan beliau sampaikan kepada NU?

Barangkali jawabannya dapat kita temukan dari karya-karya beliau sendiri.
Beliau mengajarkan ilmu.
Beliau menanamkan akhlak.
Beliau berbicara tentang kepemimpinan.
Beliau mengajarkan pentingnya kejujuran dan keadilan.

Beliau menanamkan kecintaan kepada agama dan bangsa. Dan beliau menunjukkan bahwa perjuangan tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang besar.

Kadang perjuangan dilakukan dengan mengajar satu kelas.
Dengan mengisi satu pengajian.
Dengan membimbing satu orang.
Dengan menulis satu syair.
Dengan menjaga satu tradisi keilmuan.
Dengan melayani umat dengan ikhlas.
Dari hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus itulah sejarah besar dapat dibangun.

Menjaga Warisan, Meneruskan Perjuangan
Hari ini NU telah berkembang jauh lebih besar dibandingkan masa ketika K.H. Ahmad Fauzan menjadi bagian dari generasi awal NU Jepara.

Tantangannya pun berbeda. Masyarakat hidup dalam era digital. Informasi bergerak begitu cepat. Generasi muda berhadapan dengan berbagai nilai dan budaya. Pendidikan mengalami transformasi. Persoalan sosial semakin kompleks.


Namun prinsip dasarnya tetap sama :
NU membutuhkan kader yang berilmu.
NU membutuhkan pemimpin yang amanah.
NU membutuhkan warga yang berakhlak.
NU membutuhkan pengurus yang melayani.
NU membutuhkan generasi muda yang mampu meneruskan tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.
Karena itu, mengenang K.H. Ahmad Fauzan berarti juga menghidupkan kembali nilai-nilai yang beliau perjuangkan. Bukan sekadar mengingat namanya, tetapi meneruskan semangatnya. Bukan sekadar membaca sejarahnya, tetapi mengambil pelajaran dari sejarahnya. Bukan sekadar berziarah ke makamnya, tetapi membawa pulang tekad untuk berbuat lebih baik bagi agama, NU, pendidikan, dan masyarakat.


Dari sejarah NU, kita belajar tentang perjuangan.
Dari syair, kita belajar tentang karakter.
Dari keteladanan K.H. Ahmad Fauzan, kita belajar bahwa ilmu yang tidak diabdikan kepada umat akan kehilangan sebagian maknanya. Maka, mari kita jadikan Haul ke-54 K.H. Ahmad Fauzan sebagai momentum untuk memperkuat kembali semangat khidmah. Mari berdoa agar Allah SWT memberikan rahmat kepada beliau, menerima amal perjuangannya, mengampuni segala kekhilafannya, dan menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi-Nya.


Dan yang tidak kalah penting, semoga kita yang masih hidup mampu menjadi penerus perjuangan yang baik. Sebab pada akhirnya, warisan terbaik seorang ulama bukanlah sekadar nama yang diabadikan menjadi jalan. Warisan terbaiknya adalah manusia-manusia yang meneruskan nilai perjuangannya.

Ziarah yang Menghidupkan Perjuangan
Jumat sore, selepas Ashar, ketika langkah kaki menuju Makam Suromoyo mulai dipenuhi para peziarah, mungkin suasana akan terasa sederhana.
Tidak ada kemewahan yang diperlukan.
Cukup doa.
Cukup penghormatan.
Cukup membaca sejarah.
Dan cukup hati yang bersedia belajar.
Dari makam seorang ulama, kita belajar tentang kehidupan.

*Ketua YPK Al Faqih Jepara
Wk Ketua LP Ma’arif Jepara periode 2022-2026

Artikel ini telah dibaca 37 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

21 September 2026 - 12:08 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

18 September 2026 - 11:38 WIB

PPG Tambah Program, FTIK UNISNU Jepara Submit Proposal Bidang Studi PGSD

18 September 2026 - 11:00 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut “Zaman Edan”?

18 September 2026 - 10:45 WIB

Trending di Kabar