Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Hujjah Aswaja · 12 Apr 2023 01:54 WIB ·

“Kenduri Khataman”  dan “Tuntasnya Bacaan”: Terbukti Menjaga Indonesia dari Ideologi Merusak 


 “Kenduri Khataman”  dan “Tuntasnya Bacaan”: Terbukti Menjaga Indonesia dari Ideologi Merusak  Perbesar

Oleh Murtadho Hadi*

nujepara.or.id – Apakah artinya “di penghujung Ramadhan” bagi para santri? Tentunya selain kerinduan (“syauq”) dan hati yang bergetar menunggu-nunggu “kenduri khataman”, namun jauh lebih penting daripada itu adalah “leganya hati” karena telah “menuntaskan bacaan”. 

Efek “Bacaan Yang Tidak Tuntas” 

Kenapa para kyai dan santri sangat mengagungkan “khataman”? Karena bacaan yang tidak tuntas, sering-sering jadi “benalu” dan menjadi “problem” bagi pemahaman. Otak laksana telur yang setengah dierami; terlepas dari “kemurniannya” alias sudah ada noktah darah dan tidak pernah menetas. Inilah pangkal dari “carut-marutnya berpikir” dan “sistem penalaran yang “fasid” (rusak). 

Menolak “Jahil-Murokkab”  

Dalam bab ini: “lugu” (bulhu) akan lebih selamat daripada “segolongan kaum” yang memasuki ruang remang-remang dari pemahaman (pengetahuan) dan tidak pernah menuntaskan “bacaan”. Ujungnya adalah menjadikan “sempitnya pemahaman” sebagai “isme yang tertutup” (yaitu ideologi) yang menolak kritik.

Otak dan hatinya jadi mengeras alias “jahil-murokkab”. Sedang “praktek-ngamaliyahnya” dan “basis-aqidahnya” didasarkan pada “istidlal-bighoiri-dalil” (atau: “mencari dalil yang bukan dalil”). Dan di dalam banyak hal dan kesempatan, begitulah cara segolongan kaum telah berani membid’ahkan para ulama yang berilmu bahkan berani “mengkafirkan”. 

Benteng Dari Isme Merusak 

Mengagungkan “khataman” (tuntasnya bacaan) adalah mengagungkan runtutnya sistem berpikir dan “akal yang sempurna”. Ia telah menjadi “hujjah” dan “benteng yang kokoh” bagi bangsa Indonesia di tengah silang sengkarutnya isme-isme yang bertebaran dan berpotensi mengoyak “keberislaman” dan “keindonesiaan”.

Namun tahukah anda betapa “berat” dan “masyaqotnya” para guru-guru dan Kyai (yang masyaa-Allah ada beberapa yang sudah sepuh) tapi tetap mendampingi para santri membaca kitab dari berbagai sepesifikasi dan “fann”.

Tradisi ini biasanya dimulai dari 15 Sya’ban dan berakhir di penghujung Ramadhan (non-stop, ngaji siang dan malam hanya jeda beberapa jam untuk istirahat, sholat, buka dan sahur). Meskipun di bulan-bulan tertentu juga ada khataman: semisal Muharrom, Dzul-hijjah, dan Rojab.

Tradisi Santri Dan Kyai

Maka tak heran : para Kyai yang membaca kitabnya sudah sampai pada taraf “seni” (karena sudah bertahun mujahadah dan “wiridan”; yaitu cepat, jelas dan enak didengar). Terkadang dengan berbagai “langgam” dan “tembang”. Di sini, masing-masing Kyai dan santri: ada yang merampungkan atau khatam Shohih Bukhori 4 jilid, Shohih Muslim 4 jilid, hadis Muwattho’ Imam Malik. 

Ada juga yang mengkhatamkan Tafsir Jalalalain, Tafsir Munir 2 jilid, dan Tafsir Showi 4 jilid, ihya 4 jilid, Sirojut-Tholibin 2 jilid, sampai pada risalah-risalah kecil semacam Nuruz-Zholam (Syarah Aqidatul Awam), Nasho’ihul Ibad, Irsyadul Ibad, Hadis Tanqih, Tijan Durori, dan bahkan Hadist Arba’in (40 hadits Imam Nawawi) dan juga fan-fan Ilmu Nahwu (tata bahasa) dan cabang-cabang keilmuan Fiqih: dari yang sederhana semisal Sullam Taufiq, Safinah, Fathul Qorib, Fathul Mu’in,  sampai muhaddzab dan Fathul Wahab.

Bahkan sampai yang agak tergolong aneh di Kediri Jawa Timur: wacana dari induk kitab mistik: semisal Syamsul Ma’arif Kubro, dan Mamba’, Sirrul Jalil, Minhajul-Hanif, dan Fawa’id, dan  Abu Ma’syar Al-Falaky tetap dibaca para kyai.

Inti dari semuanya adalah “penghargaan” dan mengagungkan khataman, dimana tempat nyambung (shillaturruhi) dengan para penulis (muallif kitab), menjaga keabsahan “matarantai sanad” keilmuan, dan ajang disisipkannya doa-doa keberkahan dan hajat-hajat yang sebelumnya tertutup dengan “khataman” niscaya bi-idznillah menjadi “terijabah”.

Semua kyai dan orang berilmu pasti mengagungkan khataman, (semisal mengingat Abuya Dimyathi al-Bantani) walaupun itu khatam 40 hadits dari  Arba’in-Nawawi, beliau tak segan-segan menyembelih kerbau atau kambing dalam acara “ngariyung” (kenduri besar-besaran: semua santri makan enak).

Kenapa? Jawabannya sudah pasti: “menghargai tuntasnya bacaan: menghargai ilmu”. Karena bacaan yang tidak tuntas hanya akan merusak dan menghancurkan nalar dan pemikiran (“jahil-murokkab”).*

*Sastrawan dan Budayawan, Pengurus LTN NU Jepara

Artikel ini telah dibaca 40 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

30 April 2026 - 11:53 WIB

Penulis adalah Pendiri MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa Jepara, Kepala MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa (2000 - 2015), dan Pernah Menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Jepara

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH

29 April 2026 - 09:36 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara
Trending di Kabar