Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Buku Kita · 19 Jul 2020 04:44 WIB ·

Amaliyah Ahlissunnah wal Jamaah, Kitab Kehidupan Sehari-hari


 Amaliyah Ahlissunnah wal Jamaah, Kitab Kehidupan Sehari-hari Perbesar

nujepara.or.id – Kitab Amaliyah Ahlissunnah wal Jama’ah ini adalah salah satu karya KH. Mudhoffar Fatkhurrohman Kriyan Kalinyamatan Jepara. Mbah Mudhoffar dilahirkan di Desa Sumbergirang Lasem Rembang pada 28 November 1928.

Ayah beliau bernama Fatkhurrohman bin Zainuddin, yang merupakan kakak dari Ibu Nyai Nurriyah istri KH. Ma’sum Ahmad Lasem. Sedangkan ibu beliau bernama ibu Nyai Asiyah binti Abdullah Umar adalah kakak perempuan dari KH. Abdul Hamid Pasuruan.

KH. Mudhoffar menjadi pengurus di berbagai organisasi, tetapi yang beliau tekuni sampai akhir hayat adalah Jam’iyyah Ahlithoriqah Al Mu’tabaroh An-Nadhiyah (Jatman) Pusat, khususnya pada jabatan Katib Amm, sejak kepemimpinan KH. Idham Kholid sampai pada masa kepimimpinan Habib Muhumammad Lutfhi. Beliau meninggal dunia pada 6 November 2014.

Sejak beliau meninggal dunia, banyak yang rindu, serta merasa kehilangan dengan kebiasaan beliau, yang mengirimkan lembaran fotokopi yang berisi beberapa dasar dalil permasalahan yang sering terjadi di masyarakat. Berkat dorongan masyarakat, santri-santri beliau, saya mencoba mencari naskah kitab Amaliyah Ahlisunnah wal Jama’ah yang sering beliau fotokopi untuk dibagikan pada masyarakat.

Dan pada tahun 2017 kitab tersebut dicetak percetakan Mubarokatan Toyibah Kudus, pada bulan ini sedang proses cetak ulang yang ke-2.

Kitab tersebut, awalnya adalah pertanyaan-pertanyaan dari para jama’ah atau murid beliau ketika mengajar majelis ta’lim, baik harian, mingguan maupun selapan (35 hari). Kalau ada yang bertanya tentang dasar dalil suatu perkara, maka beliau mencari landasan hukumnya pada berbagai kitab, lalu beliau tulis denga tangan maupun beliau ketik sendiri.

Setelah jawaban tertulis rapi, biasanya beliau, menggandakan dengan difotokopi untuk diajarkan kepada para jama’ah dan murid yang beliau ajar. Jika beliau mengajar di MTs dan MA Nurul Islam, beliau menuliskan di papan tulis, lalu murid-murid disuruh menulis ulang dibuku untuk dima’nai secara gandul ala pondok pesantren.

Untuk majlis ta’lim yang diikuti bapak-bapak atau ibuk-ibu, lembaran fotokopian dibagikan, lalu beliau membacakan karena sudah diberi ma’na dengan suara lantang dan pelan-pelan, setelah itu baru memberikan penjelasan.

Sangat pentingnya isi kitab Amaliyah Ahlissunnah wal Jama’ah ini, dapat dilihat ketika pada tahun 2006, kitab tersebut diterjemah serta diberi ulasan sekadarnya oleh KH. Munawir Abdul Fatah Krapyak Jogjakarta (Pengurus PWNU Yogjakarta) dan diberi judul Tradisi Orang-orang NU yang dicetak Pustaka pesantren, sampai sa’at ini mengalami cetak ulang ke-12. (Abi Husna)

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

11 Ramadhan, Peringati Wafatnya Sayyidah Khadijah

13 April 2022 - 03:45 WIB

Mengapa Sayyidah Aisyah RA Selalu Mengqadha Puasa di Bulan Sya’ban?

7 Maret 2022 - 06:28 WIB

Ayat Epidemi dalam Alqur’an Sebagai Paradigma Membangun Jihad di Masa Pandemi

12 Agustus 2021 - 13:15 WIB

Buku Menjerat Gusdur : PMII Konsisten Bela Kiai NU

14 Februari 2020 - 08:25 WIB

Membaca Jepara dalam Suma Oriental

2 Februari 2020 - 05:16 WIB

Nilai-nilai Pancasila dalam Berbangsa dan Bernegara

30 Oktober 2019 - 18:59 WIB

Trending di Buku Kita
%d blogger menyukai ini: