Menu

Mode Gelap
PCNU Jepara Gelar Peringatan Harlah Ke-101 NU, Mbah Yatun : “NU-Muhammadiyah Benteng Negara, Kita Seirama” NU Ranting Bulungan Pakis Aji Gelar Musran Ala Muktamar Mulai dari Kyai, TNI dan Polri Hadiri Haul Gus Dur di “Majelis Kopi“ Gus Nasrul Upgrade Profesionalisme Guru Madrasah di Jepara, UNISNU Berikan Pelatihan PPG dan TIK PC LPBI NU Kuatkan Kader Tanggap Bencana di Jepara Lewat Pelatihan dan Edukasi

Esai · 21 Apr 2022 06:11 WIB ·

Disiplin Itu Kejujuran


 Disiplin Itu Kejujuran Perbesar

nujepara.or.id Agama (al-Din) mengajarkan bahwa kepercayaan (amanah) merupakan asas iman. Dinyatakan dalam Hadis Nabi Muhammad SAW, “Tiada iman bagi yang tidak memiliki amanah” Amanah itu lawan dari khianah.

Tapi amanat bagi seseorang merupakan sendi utama untuk saling berhubungan dengan orang lain, atau interaksi dalam hal pendidikan, kemasyarakatan, agama, politik, budaya dan lainnya. Karena itu untuk membina hubungan kerja yang baik perlu sikap disiplin sebagai tanda kejujuran.

Memang amanat itu butuh sikap percaya, dan kepercayaan melahirkan ketenangan batin (sakinah) yang akan melahirkan keyakinan. Sebagai “kekuatan” dari sakinah tumbuh sikap mental berbuat disiplin, yaitu perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercayai sebagai tanggung jawabnya. Beginilah rasa beragama yang mampu kita rasakan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al-Anfal/8: 27).

Pesan Al-Qur’an ini menekankan “disiplin” bagi kita dengan status dan fungsi yang melekat pada suatu institusi dan aktivitas yang menjadi tanggung jawab kita agar tidak dikhianati. Disiplin itu kejujuran, apalagi Wahyu Ilahi yang menunjukkan.

Dikatakan dalam Hadis Nabi Muhammad SAW. “Sesungguhnya termasuk dari ucapan kenabian (nubuwwah) pertama yang diperoleh manusia ialah (peringatan) ‘Bila engkau tidak punya rasa malu maka berbuatlah semaumu’.” (Riwayat Imam Bukhari).

Perlu disyukuri karena rasa malu merupakan bawaan manusia sejak lahir, rasa malu bisa mengantar pribadi manusia memiliki akhlak yang mulia, menghiasi amal ibadah secara istiqamah hingga tertanam dalam jiwanya cinta kebajikan Lillahi Ta’ala Karena itu al-haya’ minal-iman, rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.

“Barangsiapa merasa malu maka akan bersembunyi, barangsiapa yang bersembunyi maka akan berhati-hati dan barangsiapa yang berhati-hati maka ia akan terjaga,”.

Rasa malu memang perlu diusahakan (iktisab), dan dengan banyak membaca serta menghafal Al-Qur’an ditekankan.. tetapi tidak kalah pentingnya adalah pengamal pesan-pesan Al-Qur’an sehingga bisa ma’rifatullah (mengenal Allah), mengenal keagungan-Nya, sadar akan kedekatan Allah dengan makhluk-Nya, meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasi diri pribadinya.

“(Sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,” (QS Almu’minun/23: 8).

Yang pasti rasa malu membuahkan kesucian diri (‘iffah) dan selalu menepati janji (wafa’), bahkan keperwiraan (muru’ah) yang membuahkan kejujuran (shidq) adalah memiliki pengaruh positif.

Menepati waktu termasuk al-wafa’, “Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS Al-Nisa’/4: 103).

Untuk menumbuhkan budaya disiplin yang identik dengan jujur, adalah rasa malu sebagai sumber akhlak terpuji bahkan bisa memenuhi amanat dan menjauhi khianat.

Tiba saatnya kita berikhtiar untuk memiliki rasa aman dan ketenangan batin atau sakinah dalam upaya menumbuhkan sikap disiplin. Dengan ikhlas mari kita mengosongkan qalbu dari sifat tercela, yaitu mengakui dosa dan menyadari bahwa kita mengkhianati amanat sebagai kewajiban yang kita langgar.

Semua kita sesali, Lillahi Ta’ala kita ikhlas memutuskan hubungan dengan masa lalu yang kelam, dengan penyesalan dan dengan pengawasan yang ketat terhadap diri pribadi sendiri terkait hal-hal mendatang, diikuti kita mujahadah (perjuangan) melawan sifat-sifat jiwa yang tercela dengan sifat-sifat yang terpuji, seperti bohong dilawan jujur, ingkar janji dilawan memenuhinya, egoisme dilawan pengorbanan sambil memohon bantuan Allah dengan berdzikir mengingat-Nya.

Rasa beragama sebagai upaya terapi diterapkan dalam mujahadah secara berulang-ulang. Karena pada saatnya yang tepat kita akan berubah. Memasuki benteng yang disiapkan Allah dan sejak saat itu pula kecemasan — betapa pun hebatnya — akan berubah menjadi ketenangan, keraguan-ketakutan –betapa mencekamnya — akan beralih menjadi ketenteraman.

Itulah tanda sakinah berada di dalam qalbu kita. Jujur untuk berbuat disiplin pun ringan. Semoga Allah SWT memberi taufiq kepada kita menuju jalan yang lebih baik. (B3)

Oleh : Rektor UNISNU Jepara, Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag.

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pj Bupati Jepara Launching NU Mart MWC Kedung: Dari Kita, Oleh Kita, Untuk NU dan Bantu Progam Pemerintah

2 Maret 2024 - 16:26 WIB

Pj Bupati Jepara Edy Supriyanta, Kapolres Jepara AKBP Wahyu Nugroho Setyawan dan Rois Syuriah PCNU Jepara KH Khayatun Abdullah Hadziq memotong pita saat launching NU Mart MWC NU Kedung, Sabtu (2/3/2024)

Capaian ZIS Baznas Jepara Tahun 2023 Tembus Rp9,6 Miliar

27 Februari 2024 - 10:56 WIB

Rois Syuriah NU Jepara: RSU Aseh Itu Bantu Progam Pemerintah, Idealnya Ada Timbal Balik

18 Desember 2023 - 11:17 WIB

Upgrade Profesionalisme Guru Madrasah di Jepara, UNISNU Berikan Pelatihan PPG dan TIK

15 Desember 2023 - 15:51 WIB

Unisnu Kerjasama Fatayat NU Malaysia Untuk Pengabdian Masyarakat

4 Desember 2023 - 09:55 WIB

Trend Aklamasi, Yulianto Lanjutkan Estafet Ketua Ranting GP Ansor Ngetuk Nalumsari

4 Desember 2023 - 09:42 WIB

Trending di Hujjah Aswaja