nujepara.or.id – Tradisi wiwitan merupakan salah satu wujud kekayaan budaya lokal yang masih hidup di tengah masyarakat Jawa, termasuk bagi masyarakat Desa Telukawur, Kecamatan Tahunan, Jepara.
Tradisi ini berbentuk ritual ungkapan rasa syukur serta penghormatan kepada Tuhan atas hasil alam yang diperoleh. Wiwitan dilakukan secara turun-temurun, khususnya oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani atau yang kehidupannya bergantung pada hasil alam.
Pada dasarnya, tradisi wiwitan memiliki tujuan yang luhur. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur atas datangnya masa panen, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial antarwarga. Pada kegiatan tahun ini, dikemas dalam tema “Umbul Dungo Wiwit Pari”
Melalui pelaksanaannya, masyarakat dapat berkumpul, bekerja sama, dan menjaga hubungan kebersamaan. Namun, di tengah perkembangan zaman, tradisi wiwitan mulai semakin jarang dijumpai karena pengaruh modernisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan pola pikir dan keyakinan masyarakat.
Oleh karena itu, upaya pelestarian tradisi wiwitan menjadi penting, terutama sebagai bagian dari kearifan lokal yang perlu dipertahankan di Desa Telukawur. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung makna filosofis, sosial, dan spiritual yang penting bagi kehidupan masyarakat.
Secara filosofis, tradisi wiwitan dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah hasil bumi. Kata wiwitan berasal dari kata wiwit yang berarti “mulai”.
Dalam praktiknya, tradisi ini biasanya dilakukan pada saat akan memulai panen, terutama panen padi. Dengan demikian, wiwitan menjadi penanda awal dimulainya proses panen sekaligus bentuk doa agar hasil panen membawa keberkahan.
Petinggi Teluk Awur Nasrur Rohman menyampaikan, kegiatan ini digelar sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan bentuk nguri-nguri tradisi, adat istiadat budaya para petani sebelum panen raya.
“Alhamdulillah sawah di desa Telukawur sangat luas, meski disamping itu sebagian warga berprofesi sebagai nelayan. Kiranya sektor pertaniaan ini dapat menjadi sumber dan lumbung pangan untuk warga Telukawur khususnya,” ujarnya.
Pelaksanaan tradisi wiwitan bukan sekadar kebiasaan warisan leluhur. Tradisi ini juga mengandung makna permohonan kepada Tuhan agar proses pertanian berjalan lancar, hasil panen melimpah, dan masyarakat dijauhkan dari berbagai hambatan yang dapat menyebabkan gagal panen.
Acara diawali dengan berkumpulnya para petani dan warga, kemudian dilanjutkan dengan menuju area persawahan dengan diiringi tarian. Setelah sampai di lokasi, tokoh adat atau kyai setempat memimpin doa bersama.
Selanjutnya dilakukan pemotongan sebagian padi “manten pari” sebagai simbol bahwa padi telah siap dipanen. Setelah prosesi selesai, warga menikmati hidangan bersama sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur disertai dengan jagong tani.
Kemudian, rangkaian acara dilanjutkan dengan ritual memetik padi secara simbolis yang dilakukan oleh para pejabat dan masyarakat. Turut hadir sejumlah pejabat Pemkab Jepara dan Forkopimcam Tahunan
Tradisi wiwitan juga mengandung nilai moral yang penting bagi kehidupan masyarakat Desa Telukawur. Nilai-nilai tersebut antara lain rasa syukur kepada Tuhan, kepedulian terhadap alam, semangat gotong royong, sikap saling membantu, serta penghormatan terhadap adat dan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Dengan demikian, tradisi wiwitan tidak hanya bermakna sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat identitas sosial dan budaya masyarakat setempat.
Tradisi budaya ini sudah berjalan untuk tahun kelima dengan didampingi Yayasan Praja Hadipuran Manunggal dan digelar secara rutin setiap tahunnya, tepat pada hari Kamis Pahing menjelang panen raya.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang Pemdes Telukawur untuk melaunching batik khas desa setempat.