Menu

Mode Gelap
Peduli Hutan Muria, Ratusan Siswa MTs dan MA Safinatul Huda Ikuti Matsama Bareng Perhutani NU Sorong Papua Kirimkan Santri ke Jepara, Salah Satunya Kuliah di UNISNU Dimakamkan di Mayong, Ini Kisah Raden Ayu Mas Semangkin Sang Senopati Perang Lereng Muria Rayakan 1 Muharram, NU Ranting Bulungan Gelar Doa Bersama Pawai Obor Warga NU Desa Bawu Sambut Tahun Baru 1446 Hijriyah, Momentum Perkuat Semangat Hijrah ke Arah Kebaikan

Headline · 1 Sep 2023 10:28 WIB ·

Khoyal Penyair itu boleh Terbang Tinggi, Tapi Kakinya Tetap Harus Berpijak Bumi


 Ilustrasi (sumber: google) Perbesar

Ilustrasi (sumber: google)

Oleh: Murtadho Hadi

Puisi yang berjudul “Gelombang Rasa” (Karya Karolina AF) mencoba mendedah masa lalu tapi sekaligus menyongsong hari esok yang penuh harap, melenggang dengan diksinya: “Dalam kenangan yang suram aku belajar makna kehidupan”.

Dalam setiap masa pasti ada ujian itulah kesadaran yang dibangun dari sang Aku Lirik (dari Sang penyair), melalui diksinya: “Badai pasti datang” tapi optimisme kembali dibangkitkan dalam kata “ombak pantai selalu terurai”. Bahwa ujian dan cobaan yang serupa “ombak” memang selalu datang bertubi-tubi, tapi oleh pantai yang landai (oleh jiwa yang lapang), ia akan terpecah dan terurai.

Ketika kesadaran itu belum cukup menggugah rasa, maka nyala jiwa itu dbangkitan lagi dan dipertegas melalui kebenaran teologis yang paling hakiki: Katanya, “Tak perlu risau takdirmu sudah tertulis bersama ribuan kisah semesta”.

Ketika upaya insaniyah sudah mentok, maka penting sekali menatap takdir, bahwa manusia memang dicipta dengan batas-batas ketentuan dan ketetapan dari Sang Pencipta (Al-Kholiq), dengan begitu al-insan akan selalu dalam kesadaran kehambaan dan bisa berdamai dengan “kenyataan”.

Puisi ini dengan apik, ditutup dengan “kesadaran semesta”: Bahwa senja kan sirna/terganti oleh gelapnya malam/Fajar kan melebur bersama sinarnya mentari pagi.

Di sini, terpenting dan peringatan bagi para penyair pemula: bahwa para penyair itu boleh terbang dengan daya ‘khoyal” dan melapangkan aktivitas batiniyah, tapi ketika “pengalaman itu hendak ditulis” tetap harus sesuai kaidah kebenaran di dalam ilmu. Kasarnya tidak boleh menabrak pakem “Pendapat umum”. Contoh diksi yang menggangu dalam diksi di atas Adalah: “Ruh di kepala…” Naah pernyataan-pernyataan yang senada baiknya dihindari. Karena benarkah ruh itu di kepala? Barangkali yang dimaksud adalah pikiran yang ada di kepala. Blunder seperti itu banyak terjadi, dan maaf terkadang bukan hanya pada penyair pemula. Intinya, seorang sastrawan pun harus punya basis pengetahuan meskipun pengalaman-pengalam itu ditulis dengan: “metafor”, pasemon, dalam bait-bait yang puitis!

Salam Kepada Semua Santrawan.

(Murtadho Hadi, Sastrawan dan Budayawan Tinggal di Jepara)

Gelombang Rasa

Oleh: Karolina Akfi Falizha

Dalam kenangan yang suram ku belajar makna kehidupan

Melangkah pasti meski kadang ragu menyelimuti hati

Riuh dikepala selalu menemani hari yang sepi

Tak bisa dipungkiri, banyak kicauan burung yang mengusik

Kupu-kupu yang beterbangan menghadang tuk bisa terbang tinggi

Badai pasti datang, ombak pantai selalu terurai

Tak perlu risau takdirmu sudah tertulis, bersama ribuan kisah semesta

Terus terbang tinggi, tetap menapakkan kaki

Senja kan sirna terganti oleh gelapnya malam

Fajar kan melebur bersama sinarnya mentari pagi

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Awal Muharram 1446 H Berbeda

8 Juli 2024 - 11:28 WIB

Panembahan Juminah Mantingan, Murid Sunan Jepara yang Ahli Strategi Perbekalan Perang

7 Juli 2024 - 11:20 WIB

Ngaji Kifayatul Atqiya’: Hubungan Tarekat dan Syariat, Ini Penjelasannya

6 Juli 2024 - 10:13 WIB

Kunjungan PCNU ke UNISNU Jepara, Bahas Wacana Kerjasama Kedua Belah Pihak

3 Juli 2024 - 20:00 WIB

PAC Ansor Kecamatan Tahunan dan PR Ansor Mantingan Resmi Dilantik

27 Juni 2024 - 11:36 WIB

PC Fatayat NU, Perempuan-perempuan Tangguh Dibalik Pembangunan RSU Aseh Jepara

21 Juni 2024 - 20:31 WIB

Trending di Fatayat