Menu ✖

Mode Gelap
Penggunaan AI Generatif hingga Etika Dakwah Medsos Dibahas dalam Bahtsul Masail Mahasiswa di UNISNU Jepara Hari Santri 2026, Bupati Jepara Minta Santri Kuasai Literasi Digital dan Kewirausahaan Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

Ansor · 27 Okt 2019 12:35 WIB ·

Hati-hati Warga Nahdliyin Jadi Sasaran Berdakwah HTI


 Hati-hati Warga Nahdliyin Jadi Sasaran Berdakwah HTI Perbesar

Kapolsek serta Danramil turut memeriahkan Seminar dan Bedah Buku NKRI Daulah Santri. (Foto: Khabib)

nujepara.or.id – Pukul sepuluh pagi, Sabtu (26/10) kemarin Ayik Heriansyah mantan kader HTI dan M Abdullah Badri Kader Ansor Jepara mengisi Seminar dan Bedah Buku “NKRI Daulah Santri; Menguliti Propaganda HTI” di Gedung MWCNU Bangsri Jepara.

Bedah buku yang diselenggarakan PAC GP Ansor Bangsri Jepara itu merupakan serangkaian acara Peringatan Hari Santri. Kegiatan diikuti 100an peserta dari NU dan banomnya, santri pesantren, Kapolsek, Danramil, serta Forkopimcam

Pada kesempatan itu, M. Abdullah Badri yang juga pemilik media Duta Islam menjelaskan sejarah munculnya HTI dan cita-cita pendiri Hizbut Tahrir mendirikan khilafah lintas negara.

Badri juga menyebutkan bahwa di dalam buku NKRI Daulah Santri menjelaskan essay bagaimana cara dan yang sudah dilakukan NU untuk mengcounter paham radikal seperti HTI.

Sementara itu, Ayik mantan HTI mengungkapkan dulunya anggota Hizbut Tahrir harus mengucapkan janji atau sumpah ketika dibaiat dan harus melaksanakan apa yang sudah menjadi pendapat Amir Hizbut Tahrir. “Ketika tidak dilaksanakan pasti mendapatkan sanksi,” tandasnya.

Ayik Heriansyah yang saat ini aktif menjadi anggota LTN PCNU Bandung membeberkan di saat sumpah baiat HTI dikatakan bahwa janji atau sumpah akan mengikat seseorang jika selama menjadi anggotanya.

“HTI lebih suka mencari sasaran dakwahnya kepada Nahdliyin ketimbang Muhammadiyah,” ungkapnya.

Mengapa begitu? “Karena NU itu strategis. Jika bisa menguasai kiai otomatis mempunyai pengaruh kepada santri-santrinya. HTI sangat licik perihal kekuasan, misalnya ada salah satu anggota HTI jika diberikan panggung dakwah pasti semua teman-temannya disuruh untuk mendapatkan posisi yang lain,” katanya.

Lajnah khas ulama adalah sayap HTI yang fungsinya merekut ulama dan kiai yang ada di pesantren. (Khabib)

Artikel ini telah dibaca 66 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Penggunaan AI Generatif hingga Etika Dakwah Medsos Dibahas dalam Bahtsul Masail Mahasiswa di UNISNU Jepara

22 Oktober 2026 - 14:27 WIB

Hari Santri 2026, Bupati Jepara Minta Santri Kuasai Literasi Digital dan Kewirausahaan

22 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri

21 Oktober 2026 - 21:43 WIB

Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia

7 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd
Trending di Kabar