Menu

Mode Gelap
Melacak Gerakan Perlawanan dan Laku Spiritualitas Ratu Kalinyamat Buku Kita : Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara Buku Kita : Mawa’idh Qur’aniyyah Ulama Nusantara Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo Mahasiswa KKN UNISNU Jepara Inovasi Alat Bakar Sampah Minim Asap dan Sosialisasi Pendidikan di Desa Sumanding

Islam Nusantara · 4 Feb 2026 11:37 WIB ·

Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo


 Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo Perbesar

Oleh : Ahmad Subchan, Dosen STAI Syech Jangkung Kayen Pati

nujepara.or.id – Tradisi keagamaan Islam di Indonesia sering kali memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal, seperti yang terlihat dalam tradisi haul Mbah Datuk Gunardi di Desa Singorojo, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.

Acara haul ini melibatkan tradisi pemotongan hewan kambing ataupun kerbau, yang lebih dari sekadar ritual tahunan. Tradisi ini mengandung nilai sosial dan religius yang mendalam, menjadi bagian dari identitas spiritual masyarakat setempat.

Kajian terhadap tradisi ini sangat penting karena mencerminkan nilai-nilai Islam tentang keramahan, berbagi, dan solidaritas sosial. Tradisi ini tidak hanya menggambarkan dinamika sosial ekonomi, tetapi juga menjaga warisan spiritual dari leluhur, serta berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda.

Mbah Datuk Gunardi adalah seorang ulama yang berperan besar dalam penyebaran Islam di daerah tersebut. Sebagai bagian dari jaringan ulama pesisir utara Jawa, beliau menggunakan metode dakwah yang sangat adaptif dengan kondisi sosial dan budaya setempat.

Dakwah beliau menekankan pada keramahan dan kedermawanan, dengan sering mengundang tamu untuk makan bersama, sebagai cara untuk menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kemuliaan akhlak dan kepedulian terhadap sesama.

Setelah beliau wafat, masyarakat melanjutkan warisan spiritual beliau dengan mengadakan haul, sebagai bentuk penghormatan dan kelanjutan nilai yang beliau tanamkan.

Pemotongan hewan dalam tradisi ini memiliki makna simbolik yang kuat. Pertama, sebagai bentuk keramahan dan penghormatan terhadap peziarah, dengan menyajikan daging sebagai penghormatan tertinggi dalam budaya Jawa, sesuai dengan ajaran Islam yang memuliakan tamu.

Kedua, sebagai bentuk berbagi dan solidaritas sosial, di mana daging yang dipotong tidak hanya diberikan kepada peziarah, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat yang kurang mampu, sebagai wujud dari sedekah. Ketiga, dalam dimensi spiritual, pemotongan dilakukan dengan menyebut nama Allah, sesuai dengan syariat Islam.

Pelaksanaan tradisi ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Persiapan dimulai jauh hari sebelum acara, dengan pengumpulan dana dan pembelian hewan secara gotong royong. Pada hari acara, pemotongan dilakukan di pagi hari sesuai dengan syariat, dan dagingnya dimasak untuk dibagikan kepada keluarga kurang mampu, janda, yatim piatu, dan lansia.

Seiring waktu, tradisi ini berkembang, dari pemotongan kambing menjadi kerbau, menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat dan jumlah peziarah yang semakin banyak. Meskipun demikian, nilai-nilai keramahan, berbagi, solidaritas sosial, dan spiritualitas tetap terjaga dengan baik.

Tradisi ini mengandung nilai sosial dan religius yang sangat penting, antara lain keramahan sebagai akhlak mulia dalam Islam, kedermawanan melalui redistribusi kekayaan, serta solidaritas sosial yang memperkuat ikatan antar warga.

Dari segi ekonomi, tradisi ini juga memberi dampak positif pada perekonomian lokal, melalui pembelian hewan dan bahan makanan, serta mempererat hubungan sosial antar warga.

Di tengah masyarakat modern yang cenderung individualistik dan materialistik, tradisi ini tetap relevan. Ia mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan dan solidaritas sosial, mengajarkan ekonomi berbagi yang lebih humanis, serta memperkuat identitas religius dan nilai-nilai spiritual.

Praktik keagamaan kaya nilai sosial religius ini mempraktikkan keramahan, kedermawanan, solidaritas sosial, dan spiritualitas secara konkret.

Tradisi ini dinamis dan responsif terhadap perubahan namun esensinya tetap terjaga. Pelestarian tradisi bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi mempertahankan nilai luhur yang dibutuhkan masyarakat modern agar nilai-nilai Mbah Datuk Gunardi terus menginspirasi generasi demi generasi.

Oleh : Ahmad Subchan, Dosen STAI Syech Jangkung Kayen Pati. Pengajar di MAK Babus Salam Mulyoharjo Jepara. Aktif di berbagai organisasi, diantaranya pengurus AKRAP Jepara, Ketua Jampiji, Ketua Kopi Jogyanan, Ikasuka, dan kagama

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mahasiswa KKN UNISNU Jepara Inovasi Alat Bakar Sampah Minim Asap dan Sosialisasi Pendidikan di Desa Sumanding

3 Februari 2026 - 16:45 WIB

PBNU Luncurkan NU Harvest Maslaha, Langkah Strategis Perkuat Ekonomi Syariah

2 Februari 2026 - 22:06 WIB

PCNU Jepara Kembali Salurkan Bantuan, 1.400 Paket Sembako untuk Korban Bencana di Desa Tempur dan Kunir

2 Februari 2026 - 21:54 WIB

Gerakan Wakaf Massal Kec. Pakis Aji: Kalaborasi KUA Pakis Aji, Pemdes Tanjung dan UNISNU Jepara

19 Januari 2026 - 14:36 WIB

PCNU Jepara Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Desa Sumberrejo Donorojo

15 Januari 2026 - 09:58 WIB

PCNU Jepara Buka Posko Peduli Bencana 2026, Tingkatkan Sinergi untuk Penanggulangan Bencana

13 Januari 2026 - 19:11 WIB

Trending di Kabar