Menu

Mode Gelap
Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

Headline · 27 Jul 2023 08:32 WIB ·

Kisah Aktivis NU yang Ditemui Mbah Hasyim Asy’ari


 Kisah Aktivis NU yang Ditemui Mbah Hasyim Asy’ari Perbesar

Oleh : Murtadho Hadi

nujepara.or.id- Sebenarnya, Bukhori Masruri muda sudah beringsut hendak meninggalkan makam, yaitu maqbaroh (pekuburan Syaikh Muhyiddin Pamijahan, JABAR) ketika itu. Pertanda tawassulan dan ziarahnya sudah selesai.

Namun ketika hendak keluar dari maqbaroh, mendadak hujan lebat, jembatan terputus dan listrik pun padam pula.  Suasana di maqbaroh jadilah gelap gulita.  Apalagi di Era th 80-an fasilitas penerangan serba minim. 

Beruntung, tak berselang lama datanglah sosok nenek-nenek yang membawa lampu ke area pemakaman,  suasana makam mendadak terang, dan  tak bisa tidak, Sosok aktivis muda NU : Sang agitator dan orator ulung yang kerap menghipnotis massa dengan ceramah-ceramahnya itu pun akhirnya kembali bertawassul.

Di luar hujan masih lebat. Hendak keluar jelas tidak  mungkin. Dari tawassul, lalu berlanjut membaca Al-Qur’an. Hanya itu yang bisa dilakukan sang aktivis muda NU itu.

(Halnya Bukhori Masruri sendiri menjadi berubah , dari sosok  sang aktivis yang agak hedonis, , lalu kemudian menjadi gemar berziarah, menempuh perjalanan  dari makam ke makam, tak lain karena perjumpaannya dengan Syaikh Shobiburrohman.  Rupanya Bukhori Masruri begitu “kesengsem”  dengan Sang Presiden Sarkub: yaitu Mbah Shobib dari Jepara ini).

Dan di malam itu, karena saking  lelahnya membaca Al-Qur’an, Sang Aktivis Muda NU itupun terlelap, ketiduran! Sampai akhirnya bermimpi dirawuhi Mbah Hasyim Asy’ari (Sang Pendiri Nahdhatul Ulama) yang menanyakan ahwal dan kondisinya.

Tanya  Mbah Hasyim, “Kerja kamu apa, RI?”

Dan, Sang Aktivis Muda NU itu pun dengan bangganya menyebutkan aktivitas yang dianggapnya sebagai “pekerjaannya”. Maka ia pun dengan mantabnya menyebutkan: “Konstituene, Mbah!”

Jadi aktivis organisasi apalagi duduk di parlemen, sudah pasti tertopang secara finansial. Tapi yang dikehendaki Mbah Hasyim adalah “Tholabul-Ma’isyah” (pengupo-jiwo, atau “mata pencaharian”) yang bisa menaikkan derajat dan martabat di mata Allah, seperti lazimnya tradisi  ulama-ulama NU yang walaupun aktivis organisasi (ustadz ataupun kyai) tapi tetap punya usaha :yaitu kerja-kerja (“Tholabul-Ma’isyah”) sebagai sarana nafaqoh keluarga & mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.

Maksud Mbah Hasyim hanya dengan cara itu, maka hati menjadi lembut, ada peluang terbuka pintu makrifat, istri dan terutama anak-anak tetap di relnya yaitu:; jalan yang ditempuh para santri dan kyai…

(Wallohu A’lam. Seperti dituturkan dan diceritakan Mbah Maimoen Zuber, di kediaman Mbah Shobib Jepara. Dan, mohon maaf Ihwal tokohnya saya tidak mengkonfirmasi ke Mbah Maimoen:  apakah yang dimaksud adalah  KH. Bukhori Masruri Pengurus Wilayah NU Jateng / Sang Pengarang lagu kasidah yang pernah hit, “Th 2000”. Tapi kalau di NU tidak ada aktivis lain yang punya nama sejenis, maka tentu saja itulah orangnya).

(Murtadho Hadi, Sastrawan dan Penulis NU. Anggota LTN NU tinggal di Jepara)

Artikel ini telah dibaca 94 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Digelar di Jepara, Kitab Karya Ulama Nusantara akan Dipamerkan di Forum Bahtsul Masail Jateng

6 April 2026 - 12:18 WIB

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

5 April 2026 - 12:54 WIB

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

27 Maret 2026 - 08:26 WIB

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan
Trending di Kabar