Menu ✖

Mode Gelap
Penggunaan AI Generatif hingga Etika Dakwah Medsos Dibahas dalam Bahtsul Masail Mahasiswa di UNISNU Jepara Hari Santri 2026, Bupati Jepara Minta Santri Kuasai Literasi Digital dan Kewirausahaan Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

Headline · 5 Apr 2024 12:54 WIB ·

Memaknai Mudik: Sebagai Tradisi dan Ajaran Silaturahmi


 Memaknai Mudik: Sebagai Tradisi dan Ajaran Silaturahmi Perbesar

nujepara.or.id. – Lebaran Idul Fitri tinggal menghitung hari. Mudik telah menjadi tradisi dalam perayaan Idul Fitri khususnya di Indonesia, begitu juga di Jepara, Jawa Tengah. Walaupun mudik merupakan rutinitas tahunan atau tradisi tahunan, tetapi mudik sebenarnya bukan hanya tradisi. Mudik merupakan aktifitas sosial yang memiliki spirit, semangat keagamaan yaitu silahtuhrahmi.

Tradisi bersilaturahmi menjadi kekhasan dengan momen Idul Fitri. Mudik merupakan fragmen penjaga warisan historis yang dimulai dari kelompok sosial yang paling kecil, yakni keluarga. Silaturahmi antar anggota keluarga biasanya diiringi dengan motif pengenalan terhadap keteladanan yang coba disampaikan dari anggota keluarga yang lebih tua ke yang lebih muda. Keindahan bersalaman atau sungkem bagi yang muda ke yang tua sangat kental sekali di Jepara.

Tidak heran warga Jepara yang merantau (istilah orang yang bekerja diluar kotanya) pasti pulang atau mudik ketika menjelang Idul Fitri. Walaupun dia bekerja di luar negeri sekalipun. Pesan para sesepuh adalah “sak adoh-adohe olehmu merantau nang, lek bodo mulio” (sejauh-jauhnya kamu merantau, maka kalau hari raya pulanglah). Spirit silatuhrami ternyata adalah ajaran Islam.

Dalam hadis di jelaskan yang artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari).

Dari hadis tersebut menunjukan perintah untuk menyambung silatuhrahmi, dan terus menjaga kekerabatan. Selain untuk bersilatuhrami, momen mudik juga diisi dengan berziaroh ke makam pendahulu. Ini menunjukan mudik merupakan kegiatan yang memiliki dimensi sosial dan spritual yang sudah mengakar kuat khususnya di masyarakat Jepara. Semoga kita semua senantiasa menjaga jalinan silatuhrahmi terhadap keluarga dan juga sesama.

Penulis: Ali Mustofa, Warga Jepara, Dewan Pengarah LTN NU Diwek Jombang, Dosen STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang.

Artikel ini telah dibaca 166 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke – 35 : Membangun Visi Peradaban Dunia dan Menata Kekuatan Organisasi untuk Masa Depan

15 Juni 2026 - 09:49 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bahtsul Masail