NU JEPARA – Pernahkah merasa seiring karier menanjak atau kedewasaan batin berkembang, lingkaran pergaulan justru mengecil? Grup perkawanan mendadak hening, dan ruang personal terasa makin sepi.
Fenomena ini sering dirangkum dalam pepatah “it’s lonely at the top” (semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berembus). Semakin tinggi posisi seseorang—baik secara spiritual, sosial, maupun politik—interaksi sosialnya secara alami menyusut.
Apakah kita sombong, atau kita ditinggalkan? Tidak keduanya. Secara psikologis dan spiritual, kita sedang mengalami proses pemurnian diri.
Executive Loneliness & Konsep Mesuh Sarira
Psikologi mengenal ‘executive loneliness’ —kesepian eksekutif akibat beban tanggung jawab yang tak bisa dibagikan sembarangan. Falsafah Jawa memandangnya sebagai ‘mesuh sarira’ (menggembleng batin).
Keheningan di puncak bukanlah bentuk isolasi yang menyiksa, melainkan kawah candradimuka agar jiwa tidak gampang goyah oleh angin kepalsuan.
Membaca ‘Bithanah’ & Owah Gingsir-nya Manusia
Di posisi tinggi, interaksi sosial rentan berubah menjadi transaksional. Al-Qur’an memperingatkan ketatnya memilih ‘bithanah’ (orang dalam), senada dengan pitutur Jawa tentang sifat dunia yang ‘owah gingsir’ (mudah bergeser dan berubah).
Membatasi lingkaran terdekat (‘inner circle’) adalah bentuk pertahanan diri yang rasional, bukan kesombongan.
Dari Approval Seeking menuju Manunggal
Secara psikologis, kita belajar melepas ‘approval seeking’ (ketergantungan pada validasi dan likes orang lain).
Dalam keheningan, kita mencapai taraf ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe’ —sepi dari kepentingan pribadi dan sanjungan publik, namun tetap berdampak luas. Kesepian meluruh menjadi kesadaran Manunggal (terhubung erat dengan Sang Maha Pencipta).
Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh
Jangan gentar pada sunyinya puncak. Falsafah Jawa mengajarkan ‘sawiji’ (fokus), ‘greget’ (semangat batin), ‘sengguh’ (percaya diri tanpa sombong), dan ‘ora mingkuh’ (tidak pantang mundur).
Kita tidak sedang kehilangan kawan; hidup hanya sedang menyaringnya. Biarkan lingkaran pergaulan menyempit, asal batin meluas. Ukuran keberhasilan bukanlah seberapa ramai orang bertepuk tangan di sekeliling kita, melainkan seberapa damai jiwa saat berdiri sendiri di hadapan Gusti Kang Murbeng Dumadi. (*)
@Ula 3118 | Loji Gunung Donoroso











