Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Headline · 8 Apr 2023 15:00 WIB ·

Mengenal Sosok Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya alias Mbah Daeng


 Mengenal Sosok Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya alias Mbah Daeng Perbesar

Oleh : M. Bahauddin

nujepara.or.id – Jepara merupakan salah satu kota tua yang banyak dicatat dalam sejarah. Usianya yang akan memasuki ke- 474 tahun pada 10 April 2023 mendatang, menunjukan bahwa kota yang berada di pesisir pantai utara Pulau Jawa ini merupakan salah satu kota penting dalam peradaban kerajaan di Nusantara, terutama dalam hal penyebaran agama Islam.

Banyaknya makam para Wali Allah yang tersebar hampir di setiap sudut menjadikan Jepara salah satu destinasi penting para sarjana kuburan (sarkub: julukan bagi para pemburu makam) yang ingin menjelajahi makam-makam tua. Salah satunya adalah Makam Auliya’ Daeng yang terletak di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Dari penuturan Habib Luthfi bin Yahya, Maqbaroh Auliya’ Daeng merupakan pemakaman Zambalnya Indonesia. Zambal sebenarnya merupakan sebuah pemakaman di Kota Tarim, Hadramaut Yaman. Pemakaman Zambal terkenal karena  yang dimakamkan disitu semua adalah para Wali Allah. Jika seseorang yang bukan Wali dikuburkan di situ, maka Bumi maqbaroh tidak mau menerimanya dengan berbagai kisahnya.

Di maqbaroh Daeng sendiri terdapat Makam para Wali Allah yang jumlahnya tidak sedikit. Saking banyaknya para Wali yang di makamkan di maqbaroh Daeng, Abah habib Luthfi bin Yahya merinci ada sekitar 80 wali Allah yang dimakamkan di maqbaroh Daeng. Karena itu maqbaroh Daeng mafhum dijuluki Zambalnya Indonesia.

Salah satu Wali Allah yang dimakamkan di maqbaroh Daeng adalah Sayyid Muhammad bin syekh bin Abdurrahman bin Yahya. Beliau oleh warga setempat biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Daeng. Mbah Daeng sendiri adalah seorang tokoh Agama pada masa kerajaan Islam. Beliau juga seorang pejuang yang membantu Ratu Kalinyamat dan pasukannya mengusir Portugis dari tanah Jepara.

Benteng yang ada di Donorojo bagian Utara Kabupaten Jepara adalah saksi perjuangan beliau. Meski orang sekarang mengenalnya dengan sebutan Benteng Portugis. Sebenarnya bukanlah Benteng milik Portugis. Akan tetapi Benteng untuk melawan Portugis.

Makam Mbah Daeng atau Sayyid Muhammad bin syekh bin Yahya ini biasanya menjadi acara puncak kunjungan Bupati dan beserta jajaranya dalam rangka kunjungan ke maqbaroh-maqbaroh para Tokoh dan pejuang yang ada di Kabupaten Jepara.

(Penulis adalah anggota Rijalul Ansor Jepara)

Artikel ini telah dibaca 1,199 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Ini Dampak Perda Miras dan Hiburan Malam Jika Diterapkan

22 April 2026 - 08:53 WIB

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bahtsul Masail