Menu

Mode Gelap
Kepala Kemenag Jepara hingga Turis dari Kenya Kagumi Stand Gelar Karya Siswa MTs Sadamiyyah, Ini Alasannya Peneliti dan Akademisi dari Singapura Kunjungi MA NU Al-mustaqim, Beri Pesan Ini untuk Santri dan Pelajar NU – Muhammadiyah Jepara Siap Kawal Pilkada Berkualitas, Ini 6 Komitmen dan Seruan untuk Para Stakeholder MATAN: Oase Pergerakan Tasawuf Milenial Genjot Kualitas SDM, YPMNU Gelar Pembekalan untuk Pengurus, Guru PAUD & TPQ Muslimat NU Kecamatan Jepara

Uncategorized · 7 Mei 2024 07:44 WIB ·

Mengevaluasi Kualitas Ibadah Pasca-Lebaran


 Ilustrasi gambar memanjatkan doa Perbesar

Ilustrasi gambar memanjatkan doa

nujepara.or.id – Bulan Syawal sebentar lagi berakhir. Deklarasi kemenangan yang dinyatakan oleh kaum muslim dengan suasana fitrah atau momentum idul fitri seolah terlewati. Syawal dan Ramadhan sesungguhnya adalah bulan menguji atau mengevaluasi kualitas ibadah yang selama ini jalani. Bagaimana tidak, semangat beribadah tetiba memuncak saat Ramadhan namun setelah lebaran menjadi menurun drastis.

Bulan Syawal dalam kalender hijriyah merupakan bulan ke-10. Asal usul penamaan Syawal sebagaimana dalam Kitab “Lisanul Arab” karangan Ibnu Munzir dijelaskan dari perkataan syalatunnaqobah bi dzanabiha, yaitu onta yang menaikkan ekornya untuk mengusir pengganggunya. Ada satu jenis binatang yang ekornya naik ke atas, sehingga ekor itu disebut syawwalah atau dikenal dengan nama kalajengking. Berdasarkan ungkapan tersebut, syawal kemudian diartikan sebagai bulan peningkatan atau mengangkat kinerja serta menghilangkan segala hal-hal yang mengganggu.

Syawal adalah bulan peningkatan amal serta bulan untuk menaikkan kualitas ibadah dalam kebaikan. Hal ini sudah dijadikan sebagai deklarasi bangsa Arab sejak sebelum datangnya Islam bahwa syawal menjadi bulan kerja keras sebelum masa menyambut bulan haji atau menyambut rombongan haji ke jazirah Hijaj atau Makkah. Oleh karenanya, kaum muslim setelah berakhirnya Ramadhan dan berganti Syawal, perlu melakukan evaluasi diri atas ibadah yang dilakukan.

Ada tiga indikator yang dapat dijadikan sebagai parameter mengevaluasi keberhasilan Ramadhan. Pertama, Ramadhan adalah bulan ilmu. Kita mesti sadari bahwa selama Ramadhan banyak sekali berlangsung kajian-kajian ilmu di berbagai tempat. Di hampir semua masjid, mushola,  instansi pemerintahan maupun swasta, seolah berlomba menggelar forum kajian atau pengajian.

Setelah shalat dzuhur ada ceramah dzuhur. Menjelang berbuka, hampir semua stasiun TV menanyangkan acara kuliah tujuh menit. Begitu juga masjid-masjid di Jepara misalnya, membuka buka bersama sembari pengajian sore. Pun, setiap shalat tarawih seringkali diiringi adanya kuliah tujuh menit saat sebelum maupun selesai shalat tarawihnya. Sampai pada masa akhir-akhir Ramadhan, diadakan iktikaf bersama yang juga diisi dengan kajian-kajian keagamaan. Betapa Ramadhan telah menjadi bulan peningkatan ilmu, sehingga pasca-lebaran mestinya kita tetap menjadi insan pembelajar dengan menciptakan lingkungan belajar yang baik.

Indikator kedua, peningkatan amal. Kita dapat menyadari bahwa Ramadhan telah menjadikan banyak orang seolah berlomba-lomba dalam amal. Orang yang seringkali bangun siang dan meninggalkan shalat subuh, tergerak bangun lebih awal sebelum subuh untuk sahur. Orang yang sering tidak berjamaah, tergerak untuk bergabung shalattarawih berjamaah. Orang yang seringkali tidak membaca Al-Qur’an, tergerak untuk mengkhatamkan Qur’an meski sekali dalam sebulan. Sebuah fenomena di tengah masyarakat tentang semangatnya mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan, yang mestinya harus selalu meningkat pada bulan-bulan sesudahnya.

Indikator ketiga, peningkatan iman. Ramadhan menjadi berkah tatkala ada perkembangan dalam diri kita terkait kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah, yang bermuara pada peningkatan iman kepada Allah. Banyak orang yang puasa sadar bahwa hanya dirinya dan Allah sesungguhnya yang tahu tentang ibadah puasa. Namun karena keyakinan dan keimanan, orang yang puasa dalam wudhu tidak ada yang mencuri kesempatan untuk meminum air. Namun karena keyakinan dan keimanan, orang yang puasa dalam shalat tidak ada yang mengurangi syarat dan rukun dalam shalatnya. Pun atas dasar keyakinan dan keimanan, orang yang puasa dalam berzakat tidak mengurangi kadar jumlah maupun kadar kualitas zakatnya.

Imam Abu Hasan Al Asy’ary menyebutkan bahwa iman dalam konteks syariah dapat bertambah dan berkurang. Iman semakin bertambah manakala ditampilkan ketaatan pada Allah, dan iman semakin berkurang manaka ditampilkan ekspresi ketidaktaatan pada Allah. Menyadari ketiga indikator dalam menjaga predikat pasca-Ramadhan di bulan Syawal ini, maka marilah kita bersama-sama dapat melakukan 3 hal, yaitu menjaga keberlangsungan majelis-majelis ilmu, menjaga keistiqomahan atau konsistensi dalam beramal shalih, dan menjaga ketaatan pada Allah, semampu yang kita lakukan.

[Umi Nadhira, Alumni MA Matholi’ul Falah dan Pesantren Al-Qur’an Ar-Roudlotul Mardliyyah Kudus]

Artikel ini telah dibaca 31 kali

Baca Lainnya

PCNU Jepara Selenggarakan BIMTEK Gabungan Sistem Pengelolaan (SIPNU) Untuk MWC NU Kedung Dan Pecangaan

8 Januari 2024 - 11:30 WIB

LTN Dorong Pelajar NU di Jepara Warnai Ruang Digital dengan Konten Kreatif Islam Moderat

11 Desember 2023 - 11:48 WIB

Ngaji Filosofi: Siapa Manusia Yang Sukses Meneladani Nabi Muhammad?

28 September 2023 - 22:58 WIB

Urai Kemacetan Di Wilayah Industri, Polres Jepara Bentuk Supeltas

8 Agustus 2023 - 04:38 WIB

Kepolisian Resor (Polres) Jepara melakukan pengukuhan kepada Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas) yang ada di wilayah Kabupaten Jepara.

Gandeng Kominfo RI PBLDNU gelar TOT Literasi Digital di Pesantren Jepara

8 Agustus 2023 - 04:33 WIB

Pelatihan TOT Literasi digital sebagai wujud kepedulian pada pesantren supaya melek literasi Digital di era global.

Momen 10 Muharram, GP Ansor Tahunan Gelar Mujahadah Malam

29 Juli 2023 - 07:56 WIB

Trending di Ansor