NU JEPARA— Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser penggunaan bahasa dan budaya lokal, upaya untuk menjaga warisan budaya Jawa menjadi tanggung jawab bersama, khususnya generasi muda. Semangat tersebut diwujudkan oleh PC IPNU IPPNU Jepara melalui kegiatan Sekolah MC Basa Jawa, yang dilaksanakan di Gedung MWC NU Jepara Kota, Ahad (9/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB tersebut diikuti oleh 28 peserta dari kalangan kader dan anggota IPNU IPPNU. Mengusung semangat “Nguri-nguri budaya Jawa, nglestarekake basa Jawa lumantar kaprigelan dadi pranoto acara”, kegiatan ini tidak cuma menjadi pelatihan berbicara di depan umum, tetapi juga menjadi ruang belajar untuk memahami, menggunakan, sekaligus merawat bahasa dan budaya Jawa.
Ketua PC IPPNU Jepara, Rekanita Makhsyatul Azhari, menyampaikan harapan agar para peserta dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan keterampilan yang diperoleh sebagai bekal untuk berkiprah di organisasi maupun masyarakat.
Sementara itu, Wakil Ketua PC Lesbumi NU Jepara turut memberikan arahan singkat mengenai pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Belajar Menjadi Pranata Acara dari Praktisi Budaya Jawa Hadir sebagai pemateri, Ki Sholeh Ronggo Warsito, S.Pd.I, seorang praktisi seni dan budaya Jawa yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia kepemanduan acara dan kesenian tradisional.
Ki Sholeh Ronggo Warsito lahir di Kudus, dan saat ini berdomisili di Dukuh Kedung Lamping RT 03/RW 06, Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo.
Ia dikenal memiliki berbagai kiprah di bidang seni, budaya, dan pendidikan, di antaranya sebagai dalang wayang kulit, dalang ruwat, panatacara, pengasuh Paguyuban Mustiko Laras, pelatih macapat, guru Bahasa Jawa, serta pembicara dalam pengajian umum.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan keterampilan menjadi seorang pranata acara atau MC berbahasa Jawa. Materi tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga diarahkan pada kemampuan praktis.
Peserta dibekali mengenai teknik dasar menjadi MC, olah vokal dan intonasi, penyusunan teks pembawa acara, etika dalam memandu acara, tata cara berbicara menggunakan Bahasa Jawa, hingga praktik langsung menjadi pranata acara.
Pembelajaran tersebut menjadi penting karena seorang MC bukan sekadar orang yang berbicara di depan forum. Seorang pranata acara dituntut mampu memahami karakter acara, memilih bahasa yang tepat, mengatur alur kegiatan, membangun komunikasi dengan audiens, serta menjaga etika dan kesopanan selama acara berlangsung.
Bukan cuma Belajar, tetapi Menyiapkan Kader Berbudaya Salah satu harapan peserta dalam kegiatan tersebut adalah agar Sekolah MC Basa Jawa dapat menjadi sarana bagi kader IPNU IPPNU untuk semakin dekat dengan budaya sendiri.
“Harapan saya, dengan adanya Sekolah MC ini, rekan-rekanita bisa ikut serta melestarikan budaya Jawa, terlebih tata cara berbahasa yang sangat berguna, minimal untuk diri sendiri, karena menjadi bekal ketika terjun ke masyarakat.”
Harapan tersebut sejalan dengan tujuan panitia yang tidak ingin kegiatan berhenti sebagai pelatihan satu hari. Sekolah MC Basa Jawa diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kader-kader IPNU IPPNU Jepara yang berani tampil, komunikatif, memiliki kemampuan kepemanduan acara yang baik, sekaligus memiliki kepedulian terhadap bahasa dan budaya Jawa.
Lebih dari itu, keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan organisasi, mulai dari kegiatan IPNU IPPNU, NU, maupun kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Dari Ruang Pelatihan Menuju Ruang Pengabdian yang mana Sebagai tindak lanjut, kegiatan ini tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
Panitia menyiapkan forum komunikasi dan praktik bersama agar peserta dapat terus mengasah kemampuan yang telah diperoleh. Peserta juga akan didorong untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan organisasi maupun kegiatan di lingkungan masyarakat sebagai bentuk praktik dan pengembangan keterampilan.
Dengan demikian, Sekolah MC Basa Jawa diharapkan mampu menghasilkan output yang nyata. Peserta tidak hanya memahami teori menjadi MC, tetapi juga memiliki keberanian berbicara di depan umum, mampu menyusun teks pembawa acara, memahami teknik dan etika kepemanduan, serta dapat menggunakan Bahasa Jawa secara tepat dalam berbagai forum.
Pada akhirnya, menjaga bahasa dan budaya tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menggunakan Bahasa Jawa dengan baik, mampu menjadi pranata acara, dan berani tampil membawa identitas budaya sendiri merupakan bagian kecil dari upaya besar untuk menjaga warisan leluhur.
Melalui Sekolah MC Basa Jawa, PC IPNU IPPNU Jepara ingin menegaskan bahwa kaderisasi bukan hanya tentang mencetak generasi yang mampu memimpin organisasi, tetapi juga generasi yang mengenal akar budayanya, bangga dengan identitasnya, dan mampu membawa nilai-nilai tersebut ke tengah masyarakat.
Nguri-uri basa, nglestarekake budaya. Saka kaprigelan, tuwuh kapitadosan. Saka kader, budaya tetep lestari. (*)











