Menu

Mode Gelap
Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

Hujjah Aswaja · 1 Jun 2022 14:23 WIB ·

Misteri Runtuhnya Kerajaan Majapahit (1)


 Misteri Runtuhnya Kerajaan Majapahit (1) Perbesar

nujepara.or.id- Runtuhnya kerajaan Majapahit sampai dengan hari ini memang masih menjadi perdebatan. Bahkan berkembang menjadi sentimen kesukuan hingga anti Islam. Anggapan bahwa Islam datang ke Nusantara, khususnya Jawa dengan jalan kekerasan masih menjadi doktrin kuat di kalangan kaum Kejawen dan Abangan. Anggapan seperti itu sebenarnya sudah lama tumbuh, dan biasanya hanya sebatas diskusi di ruang tertutup. Namun, saat ini bicara seperti itu tidak dianggap tabu lagi.

Dalam kitab Darmagandhul, dengan gamblang disebutkan bahwa runtuhnya Majapahit adalah prakarsa dari para Walisanga dengan Raden Patah sebagai Adipati Demak. Raden Patah digambarkan sebagai anak durhaka karena berani melawan ayahnya sendiri Parbu Brawijaya karena ayahnya masih memeluk agama leluhur. Para wali atau sunan dianggap sebagai orang-orang yang tidak tau terimakasih. Karena sudah diberikan tempat di tanah Jawa, dan diberi kesempatan untuk menyebarkan agama Islam namun malah menikam dari belakang.

Dikisahkan, prajurit Demak menggempur Majapahit dengan cara licik, yaitu dengan cara akan menghadap ke Istana Majapahit dengan dibarengi peringatan Grebeg Mauilid. Aktor utama dari penyerangan Demak ke Majapahit adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri. Sunan Giri digambarkan sebagai sunan yang beraliran Islam garis keras. Karena semenjak menguasai Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmata, Sunan Giri tidak mau tunduk kepada Majapahit dan tidak mau membayar pajak.

Di sini jelas, kitab Darmagandhul menuduh dan menyudutkan Dewan Walisanga sebagai biang kerok hancurnya kerajaan Majapahit. Bahkan, kitab Darmagandhul penuh berisi dengan kebencian yang mendalam terhadap beberapa Walisanga. Hanya Syeikh Siti Jenar yang digambarkan sebagai salah satu sunan yang menolak penyerbuan Demak ke Majapahit. Namun, Syeikh Siti Jenar akhirnya dibunuh karena dianggap menghalangi rencana penyerbuan tersebut,

Berbeda versi, Alm. Kiai Agus Sunyoto Allah yarham, yang pernah mejabat sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi PBNU), dalam buku legendarisnya “Atlas Wali Songo”, dengan detail disertai bukti-bukti kuat memaparkan hancur dan runtuhnya Majapahit sudah mulai tampak saat terjadi perang Paregreg. Ketika terjadi konflik keluarga antara Prabu Wikramawardhana dan iparnya Bhre Wirabumi di tahun 1401-1405 M. Saat Bhre Wirabumi kalah dan melarikan diri ke Blambangan, kebetulan Laksamana Cheng Ho utusan Kaisar China dalam rangka melakukan muhibah sedang berada di Blambangan. Terjadi kesalahpahaman hingga menewaskan 170 prajurit China.

Kaisar China menuntut ganti rugi kepada Prabu Wikramawardhana sebesar 60.000 tail emas. Tetapi ganti rugi tersebut hanya dibayar 10.000 tail emas oleh Wikramawardhana karena selain kekuatan yang telah terkuras akibat peperangan, harta benda Majapahit juga terkuras. Namun sisa dari ganti rugi tersebut dibebaskan oleh Kaisar. (Historical Notes Indonesia and Malaya, Complaid from Chines Sources).

Selesai perang Paregreg, pemberontakan di daerah semakin menjadi-jadi karena Majapahit sudah mulai lemah. Pemberontakan di Bali, pemberontakan Bhre Daha putra Bhre Wirabhumi sebagai aksi balas dendam karena kekalahan ayahnya, hingga pemberontakan di Palembang oleh Parameswara semakin menjadikan Majapahit suram. (ua)

Bersambung…

Artikel ini telah dibaca 62 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Digelar di Jepara, Kitab Karya Ulama Nusantara akan Dipamerkan di Forum Bahtsul Masail Jateng

6 April 2026 - 12:18 WIB

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

5 April 2026 - 12:54 WIB

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

27 Maret 2026 - 08:26 WIB

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan
Trending di Kabar