Menu

Mode Gelap
UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

Hujjah Aswaja · 27 Feb 2026 04:02 WIB ·

Ngaji Tematik Ramadhan, Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Algoritma: Menguji Autentisitas Spiritual Gen Z


 Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Algoritma: Menguji Autentisitas Spiritual Gen Z Perbesar

Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Algoritma: Menguji Autentisitas Spiritual Gen Z

Oleh : Kyai Hisyam Zamroni

nujepara.or.id- Ramadhan secara esensial adalah bulan untuk “menahan diri” dari hiruk-pikuk duniawi guna mendekatkan diri pada Ilahi. Namun, bagi Generasi Z—generasi pertama yang tumbuh besar dengan algoritma di tangan—konsep “kesunyian” ini menjadi barang langka. Di satu sisi, ajaran agama menuntut pengendalian diri dan kerendahan hati; di sisi lain, media sosial dirancang untuk memicu dopamin, adiksi, dan validasi eksternal yang tanpa henti.

Masalah ini menjadi tajam ketika kita melihat bagaimana algoritma tidak mengenal waktu ibadah. Saat seorang pemuda Gen Z mencoba fokus pada membaca Al Qur’an dan malam Lailatul Qadar, di sisi lain notifikasi live streaming atau tren viral terbaru terus memanggil. Maka terjadi benturan identitas yang hebat: antara keinginan menjadi hamba yang taat dengan tekanan untuk tetap relevan dalam pergaulan digital yang serba cepat.

Fear of Missing Out (FOMO) vs khusuk

Salah satu tantangan Gen Z adalah FOMO. Fear of Missing Out atau FOMO adalah perasaan takut dan cemas tertinggal dari tren, informasi atau momen seru yang sedang dilakukan orang lain. Di era media sosia, FOMO bukan sekedar perasaan biasa melainkan tekanan psiqologis yang membuat seseorang merasa “kurang” jika tidak terlibat dalam apa yang sedang viral.

Dalam konteks Ramadhan, FOMO memicu gangguan spiritual yang cukup tajam bagi Gen Z melalui beberapa cara; pertama, kecemasan tehadap informasi atau Informational FOMO. Gen Z merasa harus selalu up – to – date. Menutup ponsel selama satu jam untuk tadarrus al Qur’an seringkali memicu rasa cemas; “ada berita apa ya di X, Facebook, Instagram dll?” Jangan jangan ada drama baru di Tiktok? ketakutan tertinggal informasi ini membuat pikiran dan hati tidak pernah benar benar hadir dalam menjalankan puasa dan mengisi hal hal yang positif pada bulan Ramadhan.

Kedua, perbandingan sosial ( social-comparation). Saat melihat instragram stories, teman teman yang sedang buka puasa bersama di tempat tempat cafe cafe yang unik dan arstistik, sajian sajian menu yang nampak waah, muncul perasaan insecure. Orang yang terkena virus FOMO akan merasa hidupnya membosankan dan “gatal”, jika tidak meng-unggah konten serupa. Akibatnya, fokus ibadah bergeser dari mencari Ridho Tuhan menjadi mencari pengakuan manusia.

Ketiga, gangguan prioritas waktu. FOMO memaksa seseorang untuk terus scrolling agar terus merasa “terkoneksi” dengan dunia luar. Ironisnya, di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan; waktu yang seharusnya sangat berharga baik untuk tadarrus al Qur’an, Mengaji di Mushallah, giat bekerja dan beraktifitas positif lainnya, justru habis hanya untuk melihat kehidupan orang lain, ikut ikutan mengomentari prilaku orang lain, ghibah yang belum tentu nyata.

Realitas diatas adalah berdampak nyata pada kualitas puasa. Puasa tidak lagi melawan lapar dan dahaga, tapi bergeser melawan FOMO yang menggerus mentalitas puasa, kelelahan mental dan hilangnya kekhusuk an dalam berpuasa.

Menuju Digital Taqwa

Tantangan ini membutuhkan solusi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjahui teknologi secara total. Gen Z perlu disuguhi “digital taqwa”, —- sebuah kesadaran kritis untuk menjadikan media sosial sebagai alat bukan “tuan” dan tujuan. Ramadhan harus menjadi momentum untuk mendefinisikan ulang hubungan Gen Z dengan layar ponsel. Media sosial harus mampu menyuguhkan dakwah yang kreatif bagi Gen Z yaitu berupa pembuatan konten dakwah pendek dan praktis yang inspiratif, edukatif, menyegarkan, ringan, dan menarik sehingga mendorong Gen Z beralih dari konsumen konten pasif menjadi kontributor konten positif.

H. Hisyam Zamroni; Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara

Artikel ini telah dibaca 69 kali

Baca Lainnya

I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

14 Maret 2026 - 07:00 WIB

Iktikaf

Iedul Fitri dan Manifesto Perdamaian Global: Transformasi Kasih Sayang Menjadi Aksi Universal

12 Maret 2026 - 12:22 WIB

Ilustrasi idulfitri

Iedul Fitri Sebagai Moment Untuk Mendorong Terwujudnya Perdamaian Global

12 Maret 2026 - 09:36 WIB

Ilustrasi khutbah Idulfitri

Menjemput Cahaya di Penghujung Ramadan: Lelaku Spiritual Sepuluh Hari Terakhir (Maleman)

10 Maret 2026 - 07:39 WIB

Ilustrasi Lailatul Qodar

Menjadi Bait Al-Qur’an yang Tak Pernah Usai – Sebuah Refleksi Puisi Hati

9 Maret 2026 - 10:00 WIB

Al Qur'an

Ngaji Tematik Ramadhan: Berkah Ramadhan di Sudut Jalan Jepara: UMKM Bergeliat, Inflasi Terjinak

26 Februari 2026 - 04:55 WIB

Ilustrasi Ramadhan berkah di Kabupaten Jepara.
Trending di Hujjah Aswaja