Menu ✖

Mode Gelap
Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

Interaktif Ramadan · 25 Mar 2023 03:46 WIB ·

Ngaji Tematik Ramadhan, Say Hello dalam Islam


 Ngaji Tematik Ramadhan, Say Hello dalam Islam Perbesar

Oleh Kiai Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Semua agama mempunyai kata “sapa pembuka” sebagai sebuah upaya saling menyapa (say hallo), mengenal (ta’aruf), memahami (tafahum) dan bahkan saling menolong (ta’awun).

Begitu pula dalam Islam juga  memiliki kata sapa pembuka yang indah dan istimewa yaitu; Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Sapaan pembuka di atas, memiliki tiga “rasa empati” terhadap siapapun yang menjadi “subyek sekaligus obyek” saat aktivitas saling menyapa.

Pertama; saling menebar kedamaian (salam). Kedua; saling menebar kasih sayang. Dan yang Ketiga; saling menebar keterbukaan/menerima dan memberi (barokah).

Sungguh sebuah “realitas kemanusiaan” yang sangat indah dan istimewa dimana setiap mengawali “perjumpaan” ataupun awal sebuah “percakapan” dengan kalimat saling mempunyai komitmen untuk saling tersenyum renyah enjoy bahagia menebar kedamaian.

Juga kasih sayang dan keberkahan sebagai proses pembentukan perdamaian antar sesama, antar suku, antar agama, antar bangsa dan antar negara sehingga mampu mewujudkan peradaban dunia yang maju dan  mulia.

Kita harus tahu dan paham bahwa “salam” yang kita ucapkan adalah indah dan istimewa. Kita juga harus mampu membawa marwah “salam” agar ada kesinambungan saat “unjuk salam”, yang diperbincangkan dengan perilaku kita sehari hari.

“Unjuk salam” juga mempunyai konsekuensi tidak boleh diawali dengan kata apapun saat kita ucapkan di awal sapa pembuka. Saat menjawab salam yang disampaikan siapapun juga harus lebih sempurna.

Semisal ada seseorang yang mengatakan “Assalamu’alaikum” saja. Maka yang mendengar harus menjawab dengan kalimat yang lebih panjang dan sempurna semisal “Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh.”

Hal ini menunjukkan bahwa “unjuk salam” merupakan prinsip simbiosis mutualisme yang sangat penting sebagai sebuah proses pembentukan karakter personal, budaya sosial dan peradaban yang maju, unggul, santun dan mulia.

Semoga Gusti Allah SWT memberikan kedamaian, kasih sayang dan keberkahan kepada kita semua… Aamiin Aamiin Aamiin

*Sekretaris Pengurus Syu’biyah Jatman Jepara

Artikel ini telah dibaca 171 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

21 September 2026 - 12:08 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

18 September 2026 - 11:38 WIB

Trending di Kabar