Menu

Mode Gelap
Tantangan Zaman Baru: Eksistensi “Al-Qur’an Berjalan” di Era Disrupsi Digital dan Post-Truth Nuzulul Qur’an, YPM NU Santuni Yatama, Anak PAUD dan Dhuafa Manuskrip Cahaya: Transformasi Nuzulul Qur’an dari Teks Langit Menjadi Denyut Nadi dan Peradaban Insani Sumungku Manembah: Ketundukan Mutlak Alam Semesta Pintu di Ujung Perjalanan

Kabar · 14 Mar 2023 15:35 WIB ·

PCINU Jerman Hadiri Haflah Khotmil Qur’an di Ponpes Al Ishlah Al Ishom Mayong


 PCINU Jerman Hadiri Haflah Khotmil Qur’an di Ponpes Al Ishlah Al Ishom Mayong Perbesar

nujepara.or.id – Bukan perkara mudah mencetak generasi penjaga firman Allah. Perlu keseriusan dalam menguasai bacaan Al Qur’an secara fasih dan tartil sesuai kaidah tajwid, dan keseriusan menghafal.

Oleh karenanya, menjadi sebuah keberkahan dan fadhol bagi sebagian besar kalangan santri jika ada seseorang yang ditakdirkan hafal 30 juz. Meski berat, namun tradisi menghafal Qur’an seolah tidak pernah pudar.

Hal ini terlihat saat kegiatan Haflah Khotmil Qur’an yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Al-Ishlah Al Ishom yang berada di Dukuh Gleget, Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (10/3) itu, menjadi haflah ke-45. 

Haflah Khotmil Qur’an merupakan tradisi tahunan pesantren yang diasuh oleh Nyai Hajar Maftukhin. Kegiatan tersebut sebagai puncak wisuda bagi para santri yang telah lulus menyelesaikan hafalan 30 juz. Hal yang menarik dalam kegiatan rutin itu, hadir rombongan dari keluarga besar Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama Jerman.

Rais Syuriah PCINU Jerman, Kyai Saeful Fatah adalah menantu dari pengasuh pesantren yang sudah lebih dari 30 tahun berdomisili di Jerman. Selain unsur Syuriyah, turut hadir juga Nyai Khusnul Khotimah selaku Muslimat PCINU, dan Achsan Habibi selaku Ansor serta Banser Jerman.

Achsan Habibi atau dipanggil Gus Boby selaku kader Banser Jerman memberikan sambutan setelah prosesi wisuda santriwan dan santriwati. Pada sambutannya, sosok yang sejak TK sudah tinggal di Jerman itu merasa kagum dengan generasi muda yang memilih jalan sebagai penjaga firman Allah.

“Jerman sebagai negara yang memelihara kehidupan yang bebas bahkan jauh dari agama, kini sedangkan berkembang diaspora warga Indonesia yang ber-NU. Tentu kegiatan ini menjadi pembelajaran bagi perkembangan NU di Jerman nantinya,” ujar Gus Boby.

Setelah rangkaian sambutan, acara haflah khotmil Qur’an diakhiri dengan ceramah yang diisi oleh KH. Anwar Zahid dari Bojonegoro. Da’i yang terkenal dengan gaya humor dalam dakwahnya itu, menitipkan pesan bahwa menjadi penjaga Qur’an adalah orang-orang terpilih yang sudah dikehendaki Allah. Hal demikian sebagaimana janji Allah yang akan menjaga Al-Qur’an sampai kapanpun.

Nyai Hajar selaku pengasuh pesantren merupakan cucu dari KH. Ma’shoem Ahmad, salah seorang pendiri NU dan pendiri pesantren Al-Hidayat di Desa Soditan Lasem, Rembang. Pesantren yang berbasis Qur’an itu, telah menurunkan banyak tokoh ulama NU, semisal KH. Aly Ma’shoem yang mewarisi kepemimpinan Pesantren Krapyak Jogja, KH. Abdul Hamid Pasuruan, dan KH. Mahrus Ali Kediri. 

Maka tak heran sebagai embrio kelanjutan dakwah pesantrean Al Hidayat Lasem, Pesantren Al Ishlah Al Ishom tiap tahun selalu melahirkan kader-kader penjaga Qur’an.

Artikel ini telah dibaca 473 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tantangan Zaman Baru: Eksistensi “Al-Qur’an Berjalan” di Era Disrupsi Digital dan Post-Truth

8 Maret 2026 - 16:18 WIB

Nuzulul Qur’an, YPM NU Santuni Yatama, Anak PAUD dan Dhuafa

8 Maret 2026 - 05:49 WIB

Kegiatan santunan yatama, anak PAUD dan dhuafa yang dilakukan YPM NU Jepara

Manuskrip Cahaya: Transformasi Nuzulul Qur’an dari Teks Langit Menjadi Denyut Nadi dan Peradaban Insani

7 Maret 2026 - 10:58 WIB

ILUSTRASI Al-Qur'an jadi denyut nadi peradaban insani

Sumungku Manembah: Ketundukan Mutlak Alam Semesta

7 Maret 2026 - 10:50 WIB

Pintu di Ujung Perjalanan

7 Maret 2026 - 10:16 WIB

ILUSTRASI Pintu di Ujung Perjalanan

Cermin Dua Arah

7 Maret 2026 - 09:43 WIB

ILUSTRASI Cermin Dua Arah
Trending di Kabar