Menu

Mode Gelap
Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

Kabar · 19 Mar 2026 20:22 WIB ·

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)


 Menuju Puncak Ramadhan Perbesar

Menuju Puncak Ramadhan

Oleh : Ky Hisyam Zamroni

NU JEPARA- Ramadhan bukan sekadar perpindahan jam makan, melainkan sebuah laboratorium spiritual untuk membedah eksistensi manusia. Di puncaknya, seorang hamba diharapkan tidak hanya meraih takwa secara formal, tetapi mencapai derajat Ma’rifatullah—mengenal Sang Pencipta melalui pengenalan diri yang tuntas.

Puasa merupakan dialektika antara lapar dan dahaga. Lapar dalam Ramadhan bukan sekadar pengosongan lambung. Ia adalah teknik “mematikan” ego. Ketika fisik melemah karena haus dan lapar, tabir-tabir kesombongan yang biasanya disokong oleh energi makanan mulai runtuh. Lapar sebagai Cermin yang saat perut kosong, kita disadarkan betapa rapuhnya eksistensi kita tanpa asupan dari-Nya.

Disisi lain, Puasa merupakan penyucian Ruh yang dalam tradisi sufisme, lapar adalah kunci untuk memperhalus perasaan agar mampu menangkap sinyal-sinyal ketuhanan yang selama ini tertutup oleh riuhnya syahwat. Mengubur Syahwat Duniawi dan Menyadari Kefanaan
Puncak Ramadhan mengajarkan bahwa segala yang kita genggam adalah fana. Syahwat duniawi—baik itu harta, tahta, maupun reputasi—seringkali menjadi “berhala” halus di dalam hati.

“Kullu man ‘alayha faan”

Artinya: Segala sesuatu di atas bumi akan binasa

Ramadhan memaksa kita melepaskan keterikatan tersebut. Ketika kita mampu menahan diri dari yang halal (makan/minum di siang hari), kita sebenarnya sedang berlatih untuk berkata “tidak” pada keterikatan duniawi yang lebih besar.

Implementasi Tradisi “Suwung” dalam Keseharian

Dalam kearifan lokal Nusantara, terdapat konsep Suwung (Kosong). Suwung bukan berarti hampa, nihil dan ketiadaan total, melainkan suwung adalah kosong yang berisi (Suwung hameng Hamemgku) dan kondisi hati yang kosong dari selain Tuhan. Kosong adalah Isi; Seperti gelas yang hanya berguna jika kosong, hati manusia hanya bisa diisi oleh cahaya Ma’rifatullah jika ia telah dikosongkan dari ego dan pamrih. Manifestasi Hariannya adalah Ikhlas Tanpa Tepi yaitu Melakukan kebaikan tanpa merasa “aku” yang melakukan atau hilangnya sang aku. Olehnya, Kesadaran Kehadiran Tuhan karena Merasa selalu diawasi (Ihsan), sehingga perilaku sosial menjadi lebih terjaga dan penuh kasih sayang.

Ketika seseorang mencapai puncak Ramadhan, ia seharusnya telah mampu mengkosongkan “bejana” bathinnya dari sifat ego, marah, iri, dengki, benci, hasud dan ketertarikan dari materi duniawi. Di saat itu lah, “bejana atau bathin” yang kosong tersebut secara otomatis akan terisi samudera Asma dan Sifat Gusti Allah Ta’ala yang Tinggi.

Ma’rifatullah: Menemukan “Ia” di Balik “Aku”

Musyrik yang paling halus bukan menyembah berhala, melainkan menyembah “Aku” (ego). Di titik kosong “Aku” yang fana, palsu dan mati, maka dalam kondisi apa pun ramenya di dunia ini, hati tidak akan terikat dan tergantung padanya (Topo-rame). Bukan lagi menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan diri dari prasangka buruk dan keinginan untuk merasa lebih hebat daripada orang lain (poso-hati). Menyadari bahwa setiap tarikan nafas sebagai bukti bahwa kita “dihidupkan” bukan “hidup sendiri”.

Maka, Ketika semua syahwat duniawi telah luruh dan diri merasa fana, maka yang tersisa hanyalah Gusti Allah Ta’ala. Inilah puncak kemenangan sejati. Seseorang yang telah mencapai titik ini akan menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang. Ia tidak lagi diperbudak oleh tren, tidak haus pujian, dan tidak hancur karena cacian.

Kesimpulan

Ramadhan adalah perjalanan dari Ada (merasa diri besar) menuju Tiada (Suwung). Dengan memahami bahwa diri ini fana dan mengimplementasikan kekosongan batin dalam aksi nyata, kita membawa spirit Ramadhan ke setiap detik sisa umur kita.

Puncak dari perjalanan Ramadhan adalah tidak lagi “mencari sesuatu” dari Tuhan, melainkan hanya “mencari” Tuhan itu sendiri. Sedangkan dunia menjadi pelayan kita bukan kita menjadi budak dunia.

H. Hisyam Zamroni; Sekretaris Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh An Nahdliyyah ( Jatman ) Kab. Jepara

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

19 Maret 2026 - 08:46 WIB

Rau Launching Mobil Layanan Ummat

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H

Netra Kasunyatan, Rahasia Mata Batin Menavigasi Hidup di Balik Cahaya dan Kekosongan

18 Maret 2026 - 11:50 WIB

ILUSTRASI Netra Kasunyatan

Lampah Samarpan, Teknik Final Menyambut Malam Anugerah 1000 Bulan

18 Maret 2026 - 11:36 WIB

Lampah Samarpan

UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia

16 Maret 2026 - 19:11 WIB

Teknik Rahasia “Menepi” ala Nabi Musa

12 Maret 2026 - 14:45 WIB

Teknik Rahasia Menepi ala Nabi Musa
Trending di Kabar