Menu

Mode Gelap
Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (25) NU Peduli Bersama Kemenag Jepara Salurkan Bantuan Bagi Warga Dorang Belajar Dari Geomorfologi “Banjir” Eks Selat Muria, Mau Diapakan? Mbah Dimyathi: Jadi Wali Itu Mudah, Ngaji Lebih Sulit!! Ngaji Burdah syarah Mbah Sholeh Darat  ( 2 )

Headline · 7 Agu 2023 10:24 WIB ·

Ratu Kalinyamat: Srikandi Era Keemasan Jepara


 Ratu Kalinyamat: Srikandi Era Keemasan Jepara Perbesar

Oleh: Fina Noviatul Riswati

nujepara.or.id – Ratu Kalinyamat merupakan gelar yang diberikan kepada Retna Kencana karena menikah dengan Pangeran Hadlirin dan mendapatkan bagian wilayah kekuasaan di Kalinyamat, sebuah desa yang berada di Jepara. Putri dari Sultan Trenggana ini mempunyai nama kecil Retna Kencana. Apabila dilihat dari nasabnya, Ratu Kalinyamat merupakan cucu dari Raden Patah Raja Pertama Kerajaan Demak dari anaknya yang bernama Raden Trenggono.

Ratu Kalinyamat sendiri menjadi sosok srikandi atau perempuan tangguh yang berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya tiga bidang yang menjadi ujung tombak pemerintahan Ratu Kalinyamat yang berlangsung sekitar abad ke-16. Ketiga bidang tersebut, yaitu keberhasilan di bidang militer, ekonomi, dan keagamaan.

Kemajuan Bidang Militer
Ratu Kalinyamat membentuk sistem militer yang kuat dengan mendirikan armada laut. Masa Ratu Kalinyamat, armada laut yang kuat sangat penting dibangun untuk melindungi kerajaannya yang bercorak maritim. Armada laut ini berfungsi untuk menjaga jalur pelayaran utama di Nusantara. Pembentukan armada ini juga berfungsi untuk menguatkan posisi politik, ekonomi, dan militer sehingga dapat unggul dalam menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan lainnya. Hal ini selaras dengan berita Portugis melaporkan bahwa Jepara memiliki hubungan baik dengan berbagai wilayah di Nusantara bahkan sering diminta bantuan mengirimkan armada lautnya untuk memerangi Portugis.

Pada tahun 1551, Ratu Kalinyamat “menerima tawaran” Raja Johor untuk membantu memerangi kolonialisme Portugis. Ratu Kalinyamat mengirimkan 40 kapal yang mengangkut 4.000-5.000 ribu armada laut yang bersenjata lengkap untuk menyerang Portugis di Malaka.

Pada 1564-1565, Ratu Kalinyamat kembali mengirim bala bantuan, yaitu kepada Persekutuan Hitu di Maluku. Armada laut Jepara membantu melawan kolonialisme Portugis.

Pada tahun 1574, Ratu Kalinyamat kembali mengerahkan pasukannya ke Malaka. Armada laut Jepara yang dikirim berjumlah lebih besar dari sebelumnya. Ratu Kalinyamat mengirimkan 15.000 pasukan dengan 300 buah kapal layar dengan 80 diantaranya berukuran sangat besar.

Perjuangan anti-kolonialisme tersebut merupakan bukti bahwa Ratu Kalinyamat memiliki armada laut yang kuat. Logikanya, tidak mungkin suatu kerajaan meminta bantuan kerajaan lain yang memiliki pertahanan atau militer yang lemah.

Kecerdasan Ratu Kalinyamat dalam mengatur strategi membuat armada lautnya menjadi kuat sehingga banyak raja dari kerajaan lain yang meminta bantuan untuk menyerang penjajahan Portugis. Meskipun dengan belum meraih kemenangan sepenuhnya, akan tetapi Ratu Kalinyamat tetap tidak gentar dan berani melawan penjajah bekali-kali.

Ekonomi
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi kota yang disukai oleh pedagang karena memiliki pelabuhan yang aman. Pelabuhan di Jepara berperan penting dalam perdagangan baik nasional maupun internasional. Selain itu, Jepara juga merupakan daerah pengekspor beras, gula kayu, madu, kelapa, palawija, dan kelapa bersama dengan Demak, Tegal, dan Semarang.

Pelabuhan yang dikembangkan oleh Ratu Kalinyamat berfungsi sebagai sarana ekspor dan impor produk-produk hinterland. Bersamaan dengan berkembangnya pelabuhan ini, Ratu Kalinyamat membentuk industri galangan kapal. Menurut ahli sejarah, jasa unggulan yang diminati para pelancong pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, yaitu adanya galangan kapal. Banyak masyarakat pribumi yang membuka usaha membuat dan memperbaiki kapal karena Jepara dijadikan tempat transit bagi kapal-kapal yang menuju Malaka. Bahkan, galangan kapal Jepara masa oleh Ratu Kalinyamat termasuk yang terbaik se-Asia Tenggara.

Banyak penduduk yang menjadi tukang ahli membuat kapal. Kompetensi ini didukung dengan sumber daya alam berupa kayu jati berukuran besar. Pada pertengahan abad ke-16 dengan alat sederhana tidak secanggih seperti sekarang, namun Ratu Kalinyamat berhasil membuat Jung atau kapal yang ukurannya lebih besar dari kapal buatan Eropa yang mampu mengangkut barang dan manusia dalam kapasitas besar. Banyak para pedagang dari berbagai daerah sengaja datang ke Jepara dengan tujuan untuk memesan Jung. Jung yang dibuat oleh tukang Jepara memiliki berat sekitar 400 sampai 500 ton. Jung ini dibuat murni dari kayu asli tanpa campuran logam sama sekali.

Pada intinya, keberhasilan di bidang ekonomi pada masa Ratu Kalinyamat dapat dicapai dengan cara memperkuat poros maritim. Berkat kecerdasan dan kerja keras, ekonomi Jepara bisa mencapai kejayaaannya. Keberhasilan tersebut tidak bisa dicapai jika tidak ada komitmen, dedikasi yang tinggi, dan wibawa seorang pemimpin yang mampu menggerakkan rakyatnya untuk mengembangkan potensi-potensi perekonomian yang ada di Jepara agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat Jepara.

Keagamaan
Bukti sejarah kejayaan di bidang keagamaan yang pernah diraih pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, yaitu adanya Masjid Mantingan. Masjid ini terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Masjid Mantingan merupakan masjid yang dibangun oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1559 M. Di kompleks Mantingan juga terdapat hiasan ukiran yang secara umum dapat dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu, pertama hiasan bercorak flora, kedua motif geometris, dan ketiga motif binatang yang disamarkan atau distilir.

Pada masa tersebut, hiasan relief-relief merupakan hasil inovasi dengan menggubah dan menyamarkan hiasan binatang ke dalam bentuk tumbuh-tumbuhan. Inovasi ini melahirkan karya seni ukir yang menarik. Hasil cipta seni ukir tersebut dapat dilihat di kompleks Masjid Mantingan. Masa inilah yang dianggap sebagai pelopor seni ukir yang sampai sekarang menjadi ciri khas Kabupaten Jepara.

Dapat disimpulkan bahwa Ratu Kalinyamat merupakan srikandi yang membawa Jepara pada masa keemasan. Masa keemasan yang pernah dicapai Jepara pada abad 16 adalah keberhasilan Ratu Kalinyamat dalam mengembangkan bidang militer, ekonomi, dan keagamaan. Kemajuan itu semua yang membawa Jepara pada puncak kejayaanya.

Sumber:
Team Penyusun Naskah Sejarah Sultan Hadlirin dan R. Kalinyamat. 1991. Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinymat Sebuah Sejarah Ringkas. Jepara.
Edi Hidayat (Editor). 2022. Ratu Kalinyamat Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549-1579. Media Indonesia Publishing.
H. J. De Graaf. 1986. Awal Kebangkitan Mataram. Jakarta: Grafiti Press.
Lilik Suharmaji. 2021. Suksesi Tahta Mataram: Antara Perang dan Damai 1586 – 1755. Yogykarta: LKIS
Melawan Lupa Metro TV ,“Melawan Lupa – Ratu Kalinyamat: Pemimpin yang Melampaui Zaman”, (online), diakses 14 Juli 2023).

Artikel ini telah dibaca 252 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kritis, Kelahiran Anak Muslim Indonesia Melambat

5 April 2024 - 16:10 WIB

Memaknai Mudik: Sebagai Tradisi dan Ajaran Silaturahmi

5 April 2024 - 12:54 WIB

Tidak Pandang Suku, Agama dan Ras, NUPB Jepara Siap Bantu Korban Bencana

31 Maret 2024 - 21:57 WIB

Cinta Tanah Air Perspektif Maqashid Syariah

31 Maret 2024 - 11:11 WIB

Akulturasi Budaya Islam-Jawa Lewat Pujian Ba’da Tarawih

30 Maret 2024 - 01:51 WIB

Menyingkap Makna Perintah Membaca dalam Al-Qur’an

24 Maret 2024 - 11:48 WIB

Trending di Esai