Menu

Mode Gelap
R.A. Kartini dalam Perspektif Postkolonial: Reinterpretasi Agama, Budaya, dan Emansipasi Perempuan melalui Tulisan Tulisannya Bahtsul Masail Tingkat Jateng Segera Digelar, Ini Materi Asilah yang akan Dibahas UNISNU Gelar Wisuda ke-26, Abbas dan Areeya asal Thailand Turut di Wisuda Membaca “Tanda Tangan” Semesta: Seni Menjemput Kepastian di Tengah Ketidakpastian Mengalir Tanpa Batas: Mengubah Mentalitas Ember Menjadi Pipa Kelimpahan

Kabar · 6 Agu 2024 08:13 WIB ·

Siklus 29 Tahun Nahdlatul Ulama (NU)


 Siklus 29 Tahun Nahdlatul Ulama (NU) Perbesar

Oleh : Dr M Kholidul Adib, Ketua LTN NU Kota Semarang

nujepara.or.id – Mencermati dinamika konflik elit PBNU dan elit PKB akhir-akhir ini, saya jadi ingat dengan siklus 29 tahun NU. Siklus 29 tahun NU dulu sering kita bahas tapi akhir-akhir ini udah jarang dibahas. Siklus 29 tahun NU bermula dari bunyi teks AD ART NU yang pertama kali disusun tahun 1926 menyatakan bhw NU berdiri untuk waktu 29 tahun (mengikuti aturan pemerintah kolonial dimaha organisasi masyarakat pribumi diberi batasan waktu maksimal 30 tahun). Dalam perjalannya ternyata sebelum jatuh tempo 30 tahun pemerintah kolonial Belanda sudah hengkang darr pribumi seiring proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945.

Mengingat NU sbg organisasi yg didirikan oleh para kiai dan wali, maka angka 29 tahun yang ditulis di AD ART NU menjadi keramat sekaligus “tetenger” untuk membaca arah NU tiap 29 tahun. Bahkan perubahan-perubahan besar terkadang sudah bisa dibaca pada setengah siklus 29 tahun NU yaitu tiap 14,5 tahun perjalanan NU. Tentu ada faktor internal dan eksternal yg memicu timbulnya perubahan tsb. Mari coba kita pahami perubahan2 tersebut.

Siklus 29 tahun pertama (1926-1955). Siklus 29 tahun NU pertama ini dimulai pada tahun 1926 saat NU berdiri sebagai organisasi Islam berhaluan aswaja untuk melawan Wahabi yang saat itu baru saja berhasil mendirikan negara Arab Saudi (1924) namun hendak memaksakan satu madzhab diberlakukan di tanah suci dan ini yang membuat para ulama Nusantara untuk menentangnya dg mengirim komite Hijaz yang kemudian menjadi NU. Setelah berjalan 29 tahun tepatnya tahun 1955, NU menjadi partai politik peserta pemilu pertama kali (prosesnya dimulai sejak keluar dari Masyumi tahun 1952), tapi proses sentuhan NU dengan politik-kekuasaan sudah mulai dialami pada saat usia NU 14,5 tahun (setengah dr siklus 29 tahun) tepatnya tahun 1940-1941 saat rapat pleno PBNU diadakan voting menyepakati Soekarno sebagai calon presiden pasca hengkangnya Belanda dan kedatangan Jepang yang saat itu datang membawa jargon saudara tua Asia yang akan membantu kemerdekaan Indonesia. NU juga sangat aktif dalam perjuangan kemerdekaan termasuk aktif dalam BPUPKI dan PPKI, bahkan tokoh NU KH A Wahid Hasyim menjadi menteri agama di masa awal kemerdekaan.

Siklus 29 tahun NU kedua (1955-1984). Tahun 1955 menjadi sejarah penting NU sebagai kekuatan politik kekuasaan nomor 3 di Indonesia setelah PNI dan Masyumi. Dari tahun 1955 ditambah 29 tahun ketemu  angka tahun 1984 terjadi khittah NU (yg dipelopori Gus Dur) yaitu keluar dari politik praktis (setelah sebelumnya ikut fusi dalam PPP). Proses menuju khittah ini akibat situasi politik nasional yang tidak mendukung bagi NU akibat kejatuhan orde lama dan dimulailah konsolidasi orde baru secara sistematis yang dimulai tahun 1969- 1970 dengan menyiapkan pemilu 1971 yang tidak demokratis sekaligus menjadi tanda kokohnya rezim politik orde baru yang menyingkirkan NU (tahun 1973 NU bersama partai-partai Islam lain dipaksa fusi ke dalam PPP). Tahun 1969-1970an kalau dihitung dari tahun 1955 akan jatuh pada kisaran angka 14,5 tahun (setengah dr siklus 29 tahun). Era politik paktis ini berakhir tahun 1984 saat terjadi khittah NU di Situbondo.

Siklus 29 tahun NU ketiga (1984-2013). Tahun 1984 NU khittah tidak mengurusi politik praktis, tapi terjadi perubahan besar pada setengah siklus 29 tahun tepatnya 14,5 tahun sejak khittah NU 1984 yaitu pada tahun 1998 saat PBNU mendirikan partai politik bernama PKB dan mengikuti pemilu pertama di era reformasi tahun 1999. Saat itu Gus Dur (ketua Umum PBNU) terpilih menjadi presiden RI ke-4. (Catatan: Pendirian PKB oleh PBNU sbg konsekuensi kejatuhan Orde Baru pimpinan Soeharto pada tahun 1998). Walau PBNU mendirikan PKB sebagai saluran politik warga NU tetapi posisi NU dengan memegang teguh khittah NU dg fokus pada politik kebangsaan dan kerakyatan. Sedangkan politik kekuasaan diserahkan kepada PKB. Kondisi ini terus berlanjut hingga era KH Said Aqil Siraj (ketua umum PBNU 2010-2021).

Era itu PBNU sangat aktif menyuarakan politik kebangsaan bahkan keras dalam menghadapi HTI, FPI dan kelompok radikal yang tumbuh subur di Indonesia (karena dipelihara selama rezim SBY 2004-2014) sekaligus juga memperjuangkan politik kerakyatan guna membela rakyat yang tertindas. KH Said Aqil Siraj yg saat itu memimpin PBNU sukses menjalankan peran-peran politik kebangsaan dan kerakyatan di PBNU. Siklus 29 tahun NU keempat (tahun 2013-2042) dimulai tahun 2013 atau situasi yang sekarang ini kita jalani.

Lantas, bagaimana NU di era sekarang dan yg akan datang?? Kalau kita perhatikan perjalanan selama waktu 14,5 tahun (maksudnya setengah perjalananan siklus 29 tahun NU keempat saat ini) tepatnya tahun 2013 hingga 2027/2028 dimana sekarang kita berada pada tahun 2024, ada sejumlah fakta yang saat ini terjadi sebagai tanda-tanda masa depan NU, salah satunya fakta adanya hubungan yg tidak harmonis antara elit PBNU dan elit PKB. Jika dalam satu atau dua tahun ke depan, PBNU tidak bisa mengambil alih PKB dan PKB msh tetap berseberangan dengan PBNU, maka pada tahun-tahun berikutnya terutama menjelang pemilu 2029 akan terjadi sesuatu di PBNU.

Sesuatu itu akan terjadi di tahun 2027/2028 yaitu PBNU bisa saja dan sangat berkemungkinan utk mendirikan partai politik baru lagi sbg ganti PKB, atau memberikan arahan agar warga NU tidak memilih PKB, lalu memilih partai tertentu yang didukung oleh PBNU? Sekali lagi semua ini tergantung sejauhmana hubungan elit PBNU dan elit PKB dalam 3 tahun ke depan: apakah akan sinergis ataukah tetap jalan sendiri2? Wallahu a’lam.

Artikel ini telah dibaca 299 kali

Baca Lainnya

Bahtsul Masail Tingkat Jateng Segera Digelar, Ini Materi Asilah yang akan Dibahas

18 April 2026 - 10:05 WIB

Panitia Bahtsul Masail PWNU Jateng dan PCNU Jepara.

UNISNU Gelar Wisuda ke-26, Abbas dan Areeya asal Thailand Turut di Wisuda

17 April 2026 - 10:11 WIB

Membaca “Tanda Tangan” Semesta: Seni Menjemput Kepastian di Tengah Ketidakpastian

16 April 2026 - 17:17 WIB

ILUSTRASI Membaca "Tanda Tangan" Semesta: Seni Menjemput Kepastian di Tengah Ketidakpastian

Mengalir Tanpa Batas: Mengubah Mentalitas Ember Menjadi Pipa Kelimpahan

16 April 2026 - 17:10 WIB

ILUSTRASI Mengalir Tanpa Batas: Mengubah Mentalitas Ember Menjadi Pipa Kelimpahan

“Nora Mambu Janma: Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga

16 April 2026 - 14:50 WIB

ILUSTRASI Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga

Melampaui Kerumunan: Seni Melepaskan Beban Masa Lalu

16 April 2026 - 14:42 WIB

ILUSTRASI Melampaui Kerumunan: Seni Melepaskan Beban Masa Lalu
Trending di Kabar