Menu

Mode Gelap
Tantangan Zaman Baru: Eksistensi “Al-Qur’an Berjalan” di Era Disrupsi Digital dan Post-Truth Nuzulul Qur’an, YPM NU Santuni Yatama, Anak PAUD dan Dhuafa Manuskrip Cahaya: Transformasi Nuzulul Qur’an dari Teks Langit Menjadi Denyut Nadi dan Peradaban Insani Sumungku Manembah: Ketundukan Mutlak Alam Semesta Pintu di Ujung Perjalanan

Kabar · 8 Mar 2026 16:18 WIB ·

Tantangan Zaman Baru: Eksistensi “Al-Qur’an Berjalan” di Era Disrupsi Digital dan Post-Truth


 Tantangan Zaman Baru: Eksistensi “Al-Qur’an Berjalan” di Era Disrupsi Digital dan Post-Truth Perbesar

Oleh H. Hisyam Zamroni

Ketika Al-Qur’an turun di abad ke-7, tantangan utamanya adalah paganisme dan ketidakadilan sosial kesukuan. Namun, di abad ke-21, tantangannya adalah “Paganisme Digital” dan “Dekonstruksi Kebenaran”. Bagaimana hati yang Qur’ani merespons dunia yang semakin artifisial?

Di era Big Data, kejujuran bukan lagi sekadar tidak berbohong secara lisan, melainkan bagaimana kita mengelola informasi. Prof. Yusuf al-Qaradawi, dalam pemikirannya tentang Fiqh al-Awlawiyat (Fikih Prioritas), menekankan bahwa di era modern, menjaga kebenaran informasi adalah jihad intelektual. Fenomena hoaks dan fitnah digital (syubhat) adalah antitesis dari Nuzulul Qur’an. Jika Al-Qur’an adalah Al-Furqan (Pembeda antara hak dan batil), maka perilaku Qur’ani di era digital adalah menjadi penyaring informasi yang ketat. Seorang Muslim yang hatinya adalah Al-Qur’an tidak akan menjadi penyebar kebencian hanya demi engagement atau viralitas. Ia menyadari bahwa setiap “klik” dan share adalah manifestasi dari ahlaknya yang akan dihisab.

Manusia vs. Mesin: Menjaga “Ruh” dalam Al-Qur’an

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) menimbulkan pertanyaan eksistensial: Apa yang membedakan manusia dengan mesin jika mesin bisa menulis ayat dan menerjemahkan tafsir? Di sinilah pendapat Seyyed Hossein Nasr menjadi sangat tajam. Beliau memperingatkan bahwa teknologi seringkali mencabut manusia dari akar spiritualnya.

Al-Qur’an turun untuk memanusiakan manusia (Insaan), bukan menjadikannya robot. Perilaku Qur’ani di era teknologi adalah menjaga “Rasa” dan “Ruh”. Mesin bisa mengolah data Al-Qur’an, tetapi mesin tidak bisa memiliki Taqwa. Tantangan kita adalah memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai alat untuk menebar Rahmah, bukan alat untuk menindas atau memanipulasi kesadaran manusia.

Dunia sekarang ini mengalami krisis Identitas dan Kosmopolitanisme Islam. Pakar sosiologi Islam, Prof. Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam, menjelaskan bahwa umat Islam saat ini berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas yang agresif. Al Qur’an memberikan solusi melalui konsep Wasathiyyah (Moderasi).

Hati yang Qur’ani adalah hati yang inklusif. Di tengah arus radikalisme di satu sisi dan liberalisme ekstrem di sisi lain, “Al-Qur’an Berjalan” tampil sebagai penengah. K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) sering menekankan bahwa keberagamaan haruslah “berwajah manusia”. Artinya, perilaku kita harus mencerminkan keramahan Al-Qur’an, bukan kemarahan. Rahmat bagi alam berarti kehadiran kita di media sosial maupun dunia nyata harus membawa kesejukan bagi mereka yang berbeda keyakinan sekalipun.

Transhumanisme dan Kesucian Fitrah

Munculnya gerakan transhumanisme yang ingin melampaui batas fisik manusia melalui rekayasa genetika menantang konsep Fitrah dalam Al-Qur’an. Pakar kedokteran dan etika Islam internasional, seperti DR. Hassan Hathout, menegaskan bahwa Al-Qur’an menghargai sains, namun sains harus tunduk pada etika ke-Tuhan-an.

Perilaku yang Qur’ani adalah menghargai tubuh dan alam sebagai ciptaan yang sempurna (Ahsanu Taqwim). Rahmat bagi alam dalam konteks ini adalah menjaga keseimbangan ekosistem biologis manusia agar tidak rusak oleh keserakahan sains yang kehilangan moralitas.

Penutup

Nuzulul Qur’an adalah sebuah ongoing process (proses yang terus berlanjut). Al-Qur’an terus “turun” setiap kali seorang manusia memutuskan untuk jujur di tengah kecurangan, setiap kali seseorang memberi makan yang lapar di tengah kelimpahan, dan setiap kali seorang pemimpin memilih keadilan di tengah godaan kekuasaan.

Menjadikan “Al Qur’an berjalan” adalah tugas berat namun mulia. Ia menuntut sinkronisasi antara logika (akal), logos (wahyu), dan etos (prilaku). Jangan biarkan Al Qur’an berhenti di rak buku atau di dalam aplikasi ponselmu; biarkan ia mengalir dalam darahmu, berdenyut dalam hatimu dan bercahaya dalam langkah kakimu

Catatan Kaki

  • Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Awlawiyat: Dirasah Jadidah fi Dhau’ al-Qur’an wa al-Sunnah (Kairo: Maktabah Wahbah, 1995).
  • Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: State University of New York Press, 1993).
  • Akbar S. Ahmed, Postmodernism and Islam: Predicament and Promise (London: Routledge, 1992).
  • Hassan Hathout, Reading the Muslim Mind (Plainfield: American Trust Publications, 1995)
  • M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci (Jakarta: Paramadina, 1996).

H. Hisyam Zamroni; Pengurus Idaroh Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) Kab. Jepara

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Nuzulul Qur’an, YPM NU Santuni Yatama, Anak PAUD dan Dhuafa

8 Maret 2026 - 05:49 WIB

Kegiatan santunan yatama, anak PAUD dan dhuafa yang dilakukan YPM NU Jepara

Manuskrip Cahaya: Transformasi Nuzulul Qur’an dari Teks Langit Menjadi Denyut Nadi dan Peradaban Insani

7 Maret 2026 - 10:58 WIB

ILUSTRASI Al-Qur'an jadi denyut nadi peradaban insani

Sumungku Manembah: Ketundukan Mutlak Alam Semesta

7 Maret 2026 - 10:50 WIB

Pintu di Ujung Perjalanan

7 Maret 2026 - 10:16 WIB

ILUSTRASI Pintu di Ujung Perjalanan

Cermin Dua Arah

7 Maret 2026 - 09:43 WIB

ILUSTRASI Cermin Dua Arah

MARDI PANCALAKU: Roadtrip Spiritual Menuju Ridha-Nya

4 Maret 2026 - 14:14 WIB

Trending di Kabar