Menu

Mode Gelap
Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan Teknik Rahasia “Menepi” ala Nabi Musa

Kabar · 18 Mar 2026 11:36 WIB ·

Lampah Samarpan, Teknik Final Menyambut Malam Anugerah 1000 Bulan


 Lampah Samarpan Perbesar

Lampah Samarpan

NU JEPARA- Tahun kemarin, data-data penting yang saya simpan bertahun-tahun di HP, musnah dalam sekejap. Hanya karena jengkel harus melakukan otentikasi email ke HP saya, seorang kawan nekat melakukan reset total. Akibat aksi emosionalnya itu, seluruh data di HP hilang tanpa sisa, nggak bisa direcovery.

Ingatan ini muncul tiba-tiba, ketika membaca surat Al Qadr, bahwa satu malam bisa menghapus seluruh data kehidupan kita dalam sekejap. Malam sakral “reset factory” yang diberikan Allah sebagai bentuk kasih sayangNya yang suka memaafkan hambaNya. Sebuah malam anugerah “Night Awards” yang nilainya 83 tahun, Bro. Suatu hitungan yang melawan logika, satu malam bandingnya 83 tahun.

Khairum Min Alfi Syahr, Sebuah Malam Anugerah
Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk hamba yang berani “sumeleh’.

Satu malam yang tidak bisa dicari dengan strategi dan tidak mudah ditebak dengan primbon. Tidak harus dipaksa dengan tirakat berat. Kondisi malam yang hanya dapat dihadiri dengan hati yang “samarpan”, datang, diam, dan biarkan waktu sakral “qadr'” yang bekerja.

Bukan kamu yang mengangkat nilai malam “qadr” itu. Tapi malam “qadr” itulah yang mengangkat dirimu, dari hamba yang selalu menghitung, menjadi hamba yang akhirnya percaya.

Praktik “Lampah Samarpan” di Malam Ganjil
Pasang niat menjemput malam qadr bukan untuk dapat. Niat mendatangi undangan malam qadr karena kangen, bukan untuk bertransaksi, hanya “samarpan”, sebuah sikap dan tindakan berdedikasi, pengabdian totalitas.

Walaupun Allah sembunyikan “Lailatul Qadr” dalam 10 malam, itu bukan menjadi persoalan. Karena hamba yang “samarpan” tidak perlu tahu. Dia hanya perlu yakin, yakin bahwa di salah satu malam ini, entah ke-21, 23, 25, 27, atau 29, langit terbuka untuknya.
Bukan karena dia pilih malam yang tepat, tetapi karena Allah pilih dia yang datang dengan tepat.

“Lampah Samarpan” adalah keberanian bertindak yang terakhir, berani tidak tahu malam mana “Lailatul Qadr” itu, tapi tetap datang. Berani “lampah samarpan” walau tidak yakin dapat apa, tapi tetap absen untuk hadir dan bukan karena hadiah.

“Lailatul Qadr” bukan cuma malam ibadah. Ini waktu malam abadi di mana kamu “nemu roso jati”, bahwa dirimu hanya titipan, dan yang ada cuma “Sang Maha Wasesa”. Malam yang disembunyikan ini adalah sebuah “candhik”, sebuah kunci pembuka hati yang selama ini terkungkung nafsu “angkara” (kesombongan) dan “murka” (kemarahan), keberadaan ego yang masih melekat. Yang dicari bukan malamnya. Yang dicari adalah kamu bisa lepas dari kamu, dan ketemu Dia. Tidak ada hamba, tidak ada doa, hanya ada Dia yang selalu ada.

Doa Pendek yang Bikin Malaikat Heboh
Nabi punya permohonan andalan, yaitu:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”, “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku.”

Perhatikanlah, bukan “ampuni dosaku”, melainkan “hapuskan aku dari dosa”.
Bedanya? “‘Afw” sama dengan penghapusan jejak total, seolah-olah nggak pernah terjadi.

Dalam tradisi Jawa, ini “nuwun sewu” yang paling sempurna, bukan sekadar minta maaf, tapi minta dihapus dari catatan.
Allah tidak hanya memaafkan. Allah suka memaafkan. Bukan sekadar dimaafkan, tapi dilupakan oleh Allah sendiri, atas kemurahanNya. Ini adalah cinta dalam bentuk penghapusan. Dan cuma malam ini, aksesnya “super duper” gampang.

Semoga kita menjadi yang berani tidak tahu, tapi tetap datang. Yang berani tidak dapat, tapi tetap absen hadir, yang berani “lampah samarpan”, berdedikasi penuh, pengabdian secara total.

Semoga “laku lampah samarpan” kita di sepuluh akhir malam Ramadan ini diberikan kemudahan menemukan “Lailatul Qadr” bukan di kalender, tapi di “jero dodo” (sanubari), tempat sejati Sang Pencipta bersemayam.

…..dan lirih terdengar, Yusuf bersenandung merdu merindu:

فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِیِّۦ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ تَوَفَّنِی مُسۡلِمࣰا وَأَلۡحِقۡنِی بِٱلصَّـٰلِحِینَ

“(Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.”


Senin, 10 Maret 2026
20 Ramadan 1447 H
@Ula – Loji Gunung Donoroso

Note

{ إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ (1) وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا لَیۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ (2) لَیۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَیۡرࣱ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرࣲ (3) تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ فِیهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرࣲ (4) سَلَـٰمٌ هِیَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ (5) }
[Surat Al-Qadar: 1-5]

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
_”Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

{ ۞ رَبِّ قَدۡ ءَاتَیۡتَنِی مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِی مِن تَأۡوِیلِ ٱلۡأَحَادِیثِۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِیِّۦ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ تَوَفَّنِی مُسۡلِمࣰا وَأَلۡحِقۡنِی بِٱلصَّـٰلِحِینَ }
[Surat Yusuf: 101]

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H

Netra Kasunyatan, Rahasia Mata Batin Menavigasi Hidup di Balik Cahaya dan Kekosongan

18 Maret 2026 - 11:50 WIB

ILUSTRASI Netra Kasunyatan

UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia

16 Maret 2026 - 19:11 WIB

Teknik Rahasia “Menepi” ala Nabi Musa

12 Maret 2026 - 14:45 WIB

Teknik Rahasia Menepi ala Nabi Musa

Seni Menang di Tengah Kepungan

12 Maret 2026 - 14:34 WIB

Seni Menang di Tengah Kepungan

Tantangan Zaman Baru: Eksistensi “Al-Qur’an Berjalan” di Era Disrupsi Digital dan Post-Truth

8 Maret 2026 - 16:18 WIB

Trending di Kabar