Menu

Mode Gelap
Maulid Nabi Muhammad SAW: Tauhid, Islam Transformatif, dan Ilmu Sosial Profetik Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

Hujjah Aswaja · 21 Agu 2026 15:15 WIB ·

Maulid Nabi Muhammad SAW: Tauhid, Islam Transformatif, dan Ilmu Sosial Profetik


 H. Hisyam Zamroni Perbesar

H. Hisyam Zamroni

Oleh: H. Hisyam Zamroni

nujepara.or.id – Kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan hanya peristiwa kelahiran seorang tokoh agama, tetapi momentum perubahan besar dalam sejarah kemanusiaan. Risalah yang dibawanya mengubah masyarakat Arab dari berbagai praktik jahiliyah yang merendahkan martabat manusia menuju tatanan yang lebih berkeadaban. Dalam perspektif Moeslim Abdurrahman melalui Islam Transformatif dan Kuntowijoyo melalui Ilmu Sosial Profetik, perubahan tersebut dapat dipahami sebagai proses menghadirkan tauhid dalam kehidupan sosial: iman kepada Allah yang melahirkan pembebasan, kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab moral.

Moeslim Abdurrahman mengingatkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada perdebatan doktrinal, tetapi harus berhadapan dengan realitas sosial. Islam Transformatif berorientasi pada perubahan kehidupan masyarakat, terutama keberpihakan kepada kelompok yang mengalami kemiskinan, ketidakadilan, keterbelakangan, dan marginalisasi. Teologi harus berdialog dengan konteks sosial dan diwujudkan dalam praksis kemanusiaan.

Sementara itu, Kuntowijoyo mengembangkan Ilmu Sosial Profetik dengan tiga nilai utama: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi berarti memanusiakan manusia; liberasi berarti membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan; sedangkan transendensi berarti mengarahkan kehidupan kepada keimanan kepada Allah SWT. Ketiganya berakar pada QS Ali Imran [3] :110 tentang amar ma’ruf, nahi munkar, dan tu’minuna billah.

Jika perspektif tersebut digunakan untuk membaca kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka tauhid merupakan pusat transformasi. Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah SWT itu Esa, tetapi juga penolakan terhadap segala bentuk penghambaan manusia kepada manusia. Karena hanya Allah SWTyang mutlak, kekuasaan, kekayaan, keturunan, suku, dan status sosial tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan manusia lain.

Transformasi itu tampak dalam penghormatan terhadap perempuan. Al-Qur’an mengecam praktik penguburan bayi perempuan hidup-hidup dalam QS al-Takwir [81]:8–9. Islam juga menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab moral dan sosial di hadapan Allah SWT. (QS al-Ahzab [33] :35). Dengan demikian, pemberdayaan perempuan merupakan bagian dari proses mengembalikan martabat manusia.

Islam juga membuka jalan pembebasan dari perbudakan. Al-Qur’an menyebut fakku raqabah, membebaskan manusia dari perbudakan, sebagai salah satu bentuk kebajikan (QS al-Balad [90] :13). Pesan tersebut menunjukkan keberpihakan Islam terhadap penghapusan struktur yang menjadikan manusia sebagai objek kepemilikan.

Dalam bidang pendidikan, wahyu pertama dimulai dengan perintah “Iqra’”—membaca (QS al-‘Alaq [96] :1–5). Pendidikan dengan demikian menjadi instrumen pencerahan manusia, bukan sekadar penguasaan pengetahuan. Masyarakat yang tercerahkan adalah masyarakat yang mampu keluar dari kebodohan, ketergantungan, dan ketidakadilan.

Risalah Nabi juga membangun solidaritas sosial. Al-Qur’an memberikan perhatian serius kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang yang membutuhkan (QS al-Ma’un [107] :1–7). Nabi bahkan mengajarkan pentingnya menghormati tetangga. Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, Jibril terus-menerus mewasiatkan Nabi agar memperhatikan hak tetangga.

Islam juga mengikis fanatisme kesukuan. QS al-Hujurat [49] :13 menegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, sementara kemuliaan diukur berdasarkan ketakwaan. Ukuran kemanusiaan tidak lagi ditentukan oleh darah, suku, warna kulit, atau kekayaan.

Demikian pula dalam ekonomi. Islam tidak menggunakan istilah “kapitalisme ekstrem” dalam pengertian sistem ekonomi modern, tetapi Al-Qur’an jelas mengkritik penumpukan dan perputaran kekayaan yang hanya dinikmati kelompok kaya (QS al-Hasyr [59] :7). Karena itu, ekonomi idealnya menghadirkan keadilan, distribusi, zakat, kepedulian kepada pekerja, dan perlindungan terhadap kelompok lemah.

Maulid Nabi Muhammad SAW akhirnya bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali misi kenabian. Dengan pendekatan Islam Transformatif Moeslim Abdurrahman dan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo, tauhid harus diterjemahkan menjadi tindakan: memanusiakan manusia, membebaskan yang tertindas, mencerdaskan masyarakat, memberdayakan perempuan, menghargai budaya, memperkuat solidaritas sosial, menjaga hak pekerja, menghormati tetangga, dan melawan segala bentuk dehumanisasi.

Inilah spiritualitas Maulid yang relevan untuk zaman sekarang: dari tauhid menuju kemanusiaan, dari iman menuju perubahan sosial, dan dari kesalehan individual menuju peradaban yang adil, beradab, dan rahmatan lil ‘alamin.

Penulis adalah Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Kemerdekaan ke-81 dan Nasionalisme Baru: Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

16 Agustus 2026 - 08:32 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

4 Agustus 2026 - 10:14 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke – 35 : Membangun Visi Peradaban Dunia dan Menata Kekuatan Organisasi untuk Masa Depan

15 Juni 2026 - 09:49 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Memahami Hikmah Iedul Adha : Menjaga Hati Di Era Medsos

26 Mei 2026 - 20:32 WIB

Sapi kurban

Memahami Hikmah Iedul Adha : Menjaga Hati Di Era Medsos

26 Mei 2026 - 20:22 WIB

Iduladha

Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

30 April 2026 - 11:53 WIB

Penulis adalah Pendiri MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa Jepara, Kepala MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa (2000 - 2015), dan Pernah Menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Jepara
Trending di Hujjah Aswaja