Menu

Mode Gelap
Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global 35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

Kabar · 9 Mar 2016 06:07 WIB ·

Kiai Mundziri: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan


 Kiai Mundziri: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan Perbesar

Kyai Mundziri Gerhana Matahari Bukan Atraksi TuhanJEPARA – Gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 tidak hanya fenomena alam. Meskipun terjadi sekali dalam ratusan tahun, hal itu tetap atas kehendak Allah sebagai tanda dan pengingat agar kita bersyukur atas nikmat cahaya matahari setiap saat. Matahari adalah makhluk yang taat kepada Allah. Tidak pernah sekalipun ia padam seperti listrik, kecuali pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Demikian kata KH. Mundziri Jauhari dalam khutbah usai shalat gerhana matahari bersama ratusan warga nahdliyyin dan masyarakat Jepara lainnya di Majid Agung Jepara, Rabu pagi (9 Maret 2016).

Dalam khutbahnya selama 20 menit, Kyai Mundziri menyampaikan pesan dan kritik. Pesan yang disampaikan agar memperbanyak dzikir kepada Allah selama gerhana dan memperbanyak sedekah, baik yang rahasia maupun terbuka. Peristiwa gerhana adalah waktu mulia yang diberikan Allah kepada kita untuk bersyukur.

Hendaknya gerhana menjadikan kita lebih dekat dengan Allah, tidak hanya menyebut gerhana sebagai peristiwa alam biasa saja tanpa menyandarkannya kepada Allah. Menurut Mundziri, ini bagian dari praktik yang mendangkalkan akidah.

“Dan patut disayangkan, dua hari yang lalu, salah satu tokoh besar skala nasional menulis dengan judul yang sangat terang bahwa gerhana ini adalah atraksi Tuhan,” ujarnya dalam khutbah.

Kita bertempat di di bumi Allah Ta’ala, selama hidup kita makan rizki dari Allah. “Maka kita dituntut untuk selalu memuliakan Allah Ta’ala, bukan justru menyebut Allah seperti seorang akrobat yang suka beratraksi. Ini, nyuwun sewu, merupakan dosa yang amat besar,” lanjut khutbahnya.

Sebelum rampung pukul 08.00 WIB, H. Ahmad Marzuki Bupati Jepara, juga berkesempatan memberikan tausiyah kepada hadirin sebagaimana pesan Kyai Mundziri. (ab)

Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid

16 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Ula | Loji Gunung Donoroso

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa

16 Agustus 2026 - 09:07 WIB

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi 'Mesuh Sarira' dalam Falsafah Jawa

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

3 Agustus 2026 - 13:50 WIB

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

23 Juli 2026 - 22:56 WIB

ILUSTRASI kecemasan manusia
Trending di Kabar