Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Hujjah Aswaja · 1 Mei 2016 04:53 WIB ·

Habib Amin Alatas: Tidak Ada Malam, Wali Allah Lebih Memilih Mati


 Habib Amin Alatas: Tidak Ada Malam, Wali Allah Lebih Memilih Mati Perbesar

nurul musthafaNGABUL – Ada hikmah dalam isra’ mi’raj yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Perjalanan Nabi pada waktu malam bukan kebetulan. Malam adalah waktu spesial. Ada ketenangan di sana. Para wali Allah lebih memilih mati saja daripada tidak ada malam (fakhtartul maut). Orang Islam yang tahu titik ketenangan malam, akan ketaguhan shalat malam. Itu kenikmatan dalam rahasia malam.
Itulah salah satu poin yang disampaikan oleh Habib Muhammad Amin bin Abdurrahman Alatas Semarang dalam “Tabligh Akbar menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, Haul Massal dan Majelis Rutinan Jumat Wage malam Sabtu Kliwon” di Yayasan Pesantren Nurul Musthafa, Ngabul, Tahunan, Jepara, Jumat (29/04) malam.
Di hadapan ratusan hadirin, Habib Amin lebih lanjut menjelaskan, ada 39 perawi hadits Isra’ Mi’raj Nabi sebagaimana ditulis pula oleh Sayyid Muhammad Alwy al Maliki dalam kitabnya, Wahuwa fil Ufuqil A’la. “Perjalanan Nabi itu sangat singkat. Ketika Nabi pulang isra mi’raj, tempat duduknya masih hangat,” papar Habib Lulusan Hadramaut, Yaman ini.
Sebelum melakukan perjalanan isra’ dan mi’raj, hati Nabi Muhammad disucikan dulu. Namun itu bukan berarti bahwa sebelum disucikan, hatinya kotor. Sangat jauh dari anggapan itu. Habib Amin menegaskan, penyucian hati Nabi itu penjagaan hati yang selalu bersih dan suci.
“Sebelum isra’, hati Nabi pernah disucikan empat kali. Pertama ketika masih disusui Ibu Halimatus Sa’diyah, kedua ketika umur 10 tahun, ketiga pas diutus jadi rasul saat berusia 40 tahun. Jadi, dari kecil, hati Nabi selalu bersih,” terangnya.
Peristiwa isra’ mi’raj terjadi malam Senin, sebagaimana hari kelahiran Rasul, diutusnya beliau jadi Rasulullah, hijrahnya ke Madinah dan meninggalnya. Semuanya jatuh pada hari Senin. Karena itulah, Senin, menurut Habib Amin, adalah hari yang mulia. Perjalanan isra’ mi’raj disebutnya sebagai rihlah maimunah (perjalanan indah).
“Kalau ngantuk mendengarkan keterangan saya, harus disediakan kopi. Kopi itu berkah, menarik malaikat datang. Tapi kalau habis minum kopi lalu merokok, setan datang juga. Makanya rokok dulu baru kopi,” ujar murid Habib Salim As Sayathiry itu yang disambut tawa hadirin. (abd)

Artikel ini telah dibaca 176 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

30 April 2026 - 11:53 WIB

Penulis adalah Pendiri MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa Jepara, Kepala MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa (2000 - 2015), dan Pernah Menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Jepara

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH

29 April 2026 - 09:36 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara
Trending di Kabar