Menu ✖

Mode Gelap
Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

Hujjah Aswaja · 1 Mei 2016 04:53 WIB ·

Habib Amin Alatas: Tidak Ada Malam, Wali Allah Lebih Memilih Mati


 Habib Amin Alatas: Tidak Ada Malam, Wali Allah Lebih Memilih Mati Perbesar

nurul musthafaNGABUL – Ada hikmah dalam isra’ mi’raj yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Perjalanan Nabi pada waktu malam bukan kebetulan. Malam adalah waktu spesial. Ada ketenangan di sana. Para wali Allah lebih memilih mati saja daripada tidak ada malam (fakhtartul maut). Orang Islam yang tahu titik ketenangan malam, akan ketaguhan shalat malam. Itu kenikmatan dalam rahasia malam.
Itulah salah satu poin yang disampaikan oleh Habib Muhammad Amin bin Abdurrahman Alatas Semarang dalam “Tabligh Akbar menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, Haul Massal dan Majelis Rutinan Jumat Wage malam Sabtu Kliwon” di Yayasan Pesantren Nurul Musthafa, Ngabul, Tahunan, Jepara, Jumat (29/04) malam.
Di hadapan ratusan hadirin, Habib Amin lebih lanjut menjelaskan, ada 39 perawi hadits Isra’ Mi’raj Nabi sebagaimana ditulis pula oleh Sayyid Muhammad Alwy al Maliki dalam kitabnya, Wahuwa fil Ufuqil A’la. “Perjalanan Nabi itu sangat singkat. Ketika Nabi pulang isra mi’raj, tempat duduknya masih hangat,” papar Habib Lulusan Hadramaut, Yaman ini.
Sebelum melakukan perjalanan isra’ dan mi’raj, hati Nabi Muhammad disucikan dulu. Namun itu bukan berarti bahwa sebelum disucikan, hatinya kotor. Sangat jauh dari anggapan itu. Habib Amin menegaskan, penyucian hati Nabi itu penjagaan hati yang selalu bersih dan suci.
“Sebelum isra’, hati Nabi pernah disucikan empat kali. Pertama ketika masih disusui Ibu Halimatus Sa’diyah, kedua ketika umur 10 tahun, ketiga pas diutus jadi rasul saat berusia 40 tahun. Jadi, dari kecil, hati Nabi selalu bersih,” terangnya.
Peristiwa isra’ mi’raj terjadi malam Senin, sebagaimana hari kelahiran Rasul, diutusnya beliau jadi Rasulullah, hijrahnya ke Madinah dan meninggalnya. Semuanya jatuh pada hari Senin. Karena itulah, Senin, menurut Habib Amin, adalah hari yang mulia. Perjalanan isra’ mi’raj disebutnya sebagai rihlah maimunah (perjalanan indah).
“Kalau ngantuk mendengarkan keterangan saya, harus disediakan kopi. Kopi itu berkah, menarik malaikat datang. Tapi kalau habis minum kopi lalu merokok, setan datang juga. Makanya rokok dulu baru kopi,” ujar murid Habib Salim As Sayathiry itu yang disambut tawa hadirin. (abd)

Artikel ini telah dibaca 187 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

21 September 2026 - 12:08 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

18 September 2026 - 11:38 WIB

Trending di Kabar