Menu

Mode Gelap
Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth Penghulu di Jateng Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke – 35 : Membangun Visi Peradaban Dunia dan Menata Kekuatan Organisasi untuk Masa Depan Grebeg Spiritual: Merebut Kembali Kedaulatan Kesadaran Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

Kabar · 15 Jul 2026 13:21 WIB ·

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth


 Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth Perbesar

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

“Manusia yang selamat dari kutukan “Qutila” adalah mereka yang mampu mengaudit setiap informasi yang masuk ke dalam pikiran mereka, mengikatnya dengan tali kebenaran yang otentik, dan menolak untuk menukarkan kejernihan jiwanya dengan riuh rendahnya spekulasi duniawi. Mereka adalah orang-orang yang berdiri kokoh di atas kenyataan, bukan mereka yang mengambang di atas buih prasangka.”

Pernahkah kita mendapati diri kita tiba-tiba terbangun di tengah malam, menatap layar gawai dengan perasaan cemas yang tidak ada ujungnya? Di era post-truth ini, ketika batasan antara fakta dan kebohongan menjadi begitu kabur, kita dibombardir oleh ramalan, opini, perdebatan, dan hoaks yang berseliweran setiap detik. Ironisnya, di tengah banjir informasi ini, kita justru sering merasa semakin asing dengan diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita sedang mengalami apa yang diperingatkan oleh Tuhan dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 10-11: sebuah kondisi di mana kita mulai tenggelam dalam lautan ilusi dan hidup dalam kelalaian yang panjang.

Mari kita jujur pada diri kita sendiri. Seberapa sering kita ikut menyebarkan berita yang belum jelas ujung pangkalnya, atau sekadar menghakimi situasi hanya berdasarkan dugaan sepihak? Dalam bahasa ayat tersebut, perilaku ini disebut “kharaṣa”kondisi di mana kita gemar menebak-nebak dan membangun kenyamanan hidup di atas pondasi prasangka serta spekulasi ego. Di era di mana semua orang merasa berhak bicara, kita mengira kita sedang mencari kebenaran, padahal kita hanya sedang merawat ketakutan kita sendiri.

Dampak dari kebiasaan menebak-nebak ini sangat nyata bagi jiwa kita. Ketika pikiran kita terus-menerus dijejali oleh asumsi liar yang tidak nyata, kesadaran kita perlahan-lahan terseret masuk ke dalam ghamrah, alias kondisi banjir bandang mental. Kita kehilangan kompas realitas. Kita menjadi begitu sibuk dengan hal-hal yang tampak penting di permukaan gawai, namun sebenarnya kita sedang melakukan sāhūn—sebuah pelarian batin, sebuah kelalaian yang sengaja kita pelihara agar kita tidak perlu menghadapi tugas-tugas nyata di dunia nyata.

Kita ada di rumah, tapi pikiran kita melayang ke urusan orang lain. Kita sedang bersama anak dan pasangan kita, tapi jemari kita sibuk meraba layar, mencari validasi dari dunia virtual. Kita hidup, bergerak, bekerja, bahkan beribadah, tetapi kesadaran murni di dalam diri kita sebenarnya sedang tertidur pulas. Ini adalah puncak kepalsuan hidup yang jika dibiarkan, akan membinasakan ketenangan kita dari dalam. Sistem berpikir kita yang rusak secara otomatis akan mengeksekusi kebahagiaan kita sendiri.

Lalu, bagaimana cara kita menavigasi jiwa agar bisa keluar dari lingkaran setan kelalaian ini? Jawabannya tidak berada di tempat yang jauh. Kita harus berani menarik kembali kemudi kesadaran kita untuk mulai membumi.

Sembelih Asumsi Kita: Mulai detik ini, mari kita ikat setiap ucapan, tulisan, dan keputusan kita pada fakta yang nyata. Jika kita tidak tahu, katakan kita tidak tahu. Berhentilah menebak-nebak jalan pikiran orang lain atau masa depan yang belum terjadi.

Saring Gerbang Informasi Kita: Batasi konsumsi buih-buih berita yang tidak memiliki nilai bagi masa depan jiwa kita. Sediakan waktu hening secara disiplin setiap hari tanpa gawai, untuk sekadar mendengar detak napas dan ketukan murni nurani kita sendiri.

Hadir Utuh di Sini, Saat Ini: Ketika kita sedang mengemban amanah di masyarakat, jadilah manusia yang tajam dan bertanggung jawab. Namun ketika kaki kita melangkah masuk ke pintu rumah, tanggalkan semua jubah itu. Hadirlah utuh sebagai ayah, ibu, atau pasangan yang hangat, yang mendengar tanpa distraksi.

Peringatan Tuhan ini bukanlah seonggok teori untuk didiskusikan di ruang-ruang kelas yang sepi. Ia adalah navigasi harian untuk kita semua yang hidup di era penuh kepalsuan ini. Gerbang cahaya tidak berada di ujung pemahaman yang muluk-muluk, melainkan di setiap ayunan langkah nyata yang kita ambil untuk berhenti berspekulasi dan mulai membumi. Pilihannya kini kembali kepada diri kita masing-masing: apakah kita memilih untuk terus mengambang di atas buih prasangka, atau kita berani turun ke bumi dan berdiri kokoh di atas kebenaran? (*)

Ula | Loji Gunung Donoroso

Artikel ini telah dibaca 29 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Penghulu di Jateng Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah

15 Juli 2026 - 12:31 WIB

Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Ini Dampak Perda Miras dan Hiburan Malam Jika Diterapkan

22 April 2026 - 08:53 WIB

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan

21 April 2026 - 13:45 WIB

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan
Trending di Kabar