Menu ✖

Mode Gelap
Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

Hujjah Aswaja · 6 Mei 2023 23:48 WIB ·

Ngaji Politik 1: Persahabatan yang Tidak Abadi 


 Ngaji Politik 1: Persahabatan yang Tidak Abadi  Perbesar

Oleh Kiai Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Berbicara tentang politik sangat menarik, salah satunya tentang ideologi “persahabatan” dalam politik, ada yang patut kita renungkan dan pahami dari Firman Gusti Allah SWT;  “Tahsabuhum Jami’an. wa Qulubuhum Syatta.” 

Gambaran tentang “perkumpulan” yang kemudian menciptakan persahabatan,  idealnya adalah persahabatan  “sehati”, “sejati” dan “se-ia se-kata”. Akan tetapi  Gusti Allah SWT mengingatkan kepada kita jangan sampai persahabatan itu seperti orang bermain “kartu” atau bermain “jemek”.

Orang bermain kartu atau jemek terlihat tampak berkumpul bersatu dalam satu meja tapi hatinya saling  “inceh-incehan”, intai mengintai, curiga mencurigai, dan tidak kompak satu sama lain.

Penggambaran dalam teks al Qur’an  itu sangat tepat dan bagus yaitu berkumpul bersama akan tetapi Qulubuhum Syatta = hatinya pecah, intai mengintai dan seterusnya.

Hal ini mudah kita lihat dan gampang sebagaimana  dicontohkan pada persahabatan dalam “kepentingan” seperti yang ada di dalam kancah politik, organisasi  dan sejenisnya. Mereka yang berada di dalam pusaran politik tampak seperti “kompak” dan satu suara akan  tetapi di hatinya syatta atau “pecah” yaitu boleh jadi intai mengintai, lirik lirikan, saling menjatuhkan dan seterusnya.

Model ideologi persahabatan politik seakan akan menjadi lumrah seperti unen-unen; tidak ada persahabatan yang abadi di dalam politik, tetapi yang terjadi adalah musuh abadi. Jika kita contohkan pada pergaulan anak muda muda maka muncul istilah “pagar makan tanaman”. 

Nah, kita sudah diingatkan oleh Gusti Allah SWT tentang ketulusan dalam persahabatan sehingga persahabatan tidak lagi hanya sebatas lipstic saja tetapi akan menjadi sebuah harapan baru yaitu persahabatan yang berkualitas dan produktif plus seduluran-selawase. 

Semoga Gusti Allah SWT menambah banyak teman, dan  menyedikitkan bahkan meniadakan musuh dalam kehidupan kita sehari hari. Aamiin Aamiin Aamiin

*Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara 

Artikel ini telah dibaca 71 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menyambut Fajar Indonesia Emas 2045: Sintesis Sains dan Tradisi di Tangan Santri

21 Oktober 2026 - 21:43 WIB

Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia

7 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Trending di Headline